Passion, Another Look

I’ve posted this once on my Facebook page sometime ago. But I found it again on my WordPress draft because I unconsciously set a rule on IFTTT to save every post I put on my Facebook page to my WordPress draft section. Whoa… You can do that? Yes, you can.

But it is no use. I ended up deleting every drafts that are saved because I have nothing to say about it…

Anyway, this is my new perspective about the word PASSION. If you followed my blog closely just like I did ( <<– narcissistic type ), you would realize I like to use the word PASSION. It is the same PASSION word that is now discussed in the video below.

The content of the video focused on how many people would say to the speaker in the video

“I don’t know what my passion is, you know… can you help me find my passion? so then I’ll know what to do next”

and the answer is…?

We don’t think it’s a great question

Continue reading

The Professionals by NHK

Ini adalah salah satu film dokumentasi favorit gw kalau nonton NHK. Sesuai judulnya, setiap episode akan mengulas tentang satu first-class profesional di bidang tertentu.

Kalau mendengar kata profesional, di kepala gw dulu muncul bayangan “sales manajer dengan ilmu komunikasi tingkat dewa, bos perusahaan dengan pabrik besar mendunia, wirausahawan yang merintis toko dari kecil sampai sukses, desainer baju yang punya butik terkenal…”

( Itu mindset gw ketika lihat judul filmnya, mungkin karena terlalu sering di-brainwash sama kata “entrepreneurship” dan “dagang” dan “bisnis” selama tinggal di Indo. :P )

Kemudian gw nonton film dokumenter ini… ada sales sih, tapi ya itu satu dari sekian episode. Berikut adalah episode-episode yang gw tonton:

 

“There’s something more precious than money”


Continue reading

Sekali kejapan mata, tau-tau sudah di penghujung tahun 2015… Tahun ini tidak ada satu post pun yang di-published. Gw bukan bosan nulis, tapi media tulisnya yang berubah (dan juga level malas yang bertambah).

Video yang mau di-share pindah ke facebook wall.

Uneg-uneg yang mau ditulis pindah ke jurnal pribadi (I’ve been using Midori Traveller Notebook for almost two years now)

img_05

(photo from here)

Tapi sesekali gw kembali juga ke blog ini, kangen, baca-baca, nostalgia masa lalu, kemudian menyadari betapa ababilnya gw 5-10 tahun yang lalu. Ho ho ho ho.

Namun, tetap ada beberapa hal yang terlalu panjang kalau harus ditulis di facebook wall, misalnya: review buku-buku / video-video yang gw baca / tonton, tempat-tempat baru yang gw kunjungi, pengalaman-pengalaman baru yang gw alami… Mereka-mereka inilah yang akan menjadi penghuni tetap blog ini.

Apa yang tidak berubah dari penulis?

Gw masih bersih dari make-up. Alasan:

  1. Gak demen pake make-up,
  2. Males habisin waktu buat make-up, mendingan gw pake waktunya buat baca Dragon Ball,
  3. Gw alergi salah satu bahan kimia di alat-alat make-up (udah dicoba dari yang murah sampai yang mahal banget), jadinya? harus pakai yang natural.

Gw masih suka pake tas punggung.

  1. Tas kulit wanita lebih berat by default kalau dibandingkan dengan tas punggung.
  2. Tas gw di-desain kayak tas Survival kit. Isi minimal: payung, botol minum, dompet, HP, buku tulis, pen, tablet 7 inch, tisu, plastik, coklat, obat, pembalut, (double tape), mp3 player, buku bacaan. Berat? ya… 2-3 kg lah.

Apa yang berubah dari penulis?

Gw menyadari gw semakin reflektif, lebih sering merenung, lebih banyak hal yang menjadi abu-abu instead of hitam atau putih saja… and therefore (hopefully), less judging. Kalau kata Su: “udah mulai tua, ya?” :P

-Fin

Selamat Tahun Baru 2016

(ditulis oleh penulis yang lagi nongkrong di perpustakaan publik yang akan tutup lebih cepat karena besok sudah ganti tahun…)

Batam – 1 Day Trip

Sebenarnya masih ada laporan jalan-jalan Bali yang belum diceritakan. Tapi itu nanti lagi deh gw tulis kalau gw belum lupa.

Jadi ceritanya kita pergi ke Batam berlima, dengan kapal kedua terpagi dari Singapura (jam 8.50 dari Harbourfront). Perjalanan memakan waktu 50 menit++ gitu deh. Sampai di sana, langsung pada tarik uang di ATM BCA, kemudian telpon bapak supir yang sudah standby dari jam 9 pagi waktu Batam.

Rencana kita untuk 1 hari di Batam adalah:

  1. Breakfast – Soto
  2. Jalan-jalan di Vihara Duta Maitreya dan Toa Pek Kong
  3. Jalan-jalan 1 jam di mall apapun
  4. Lunch – Ayam Bakar Taliwang
  5. Beli oleh-oleh
  6. Dinner – Seafood
  7. Menuju pelabuhan jam 8.30 untuk kapal terakhir

TEMPAT JALAN

Foto-foto jalan-jalan di Vihara dan Toa Pek Kong-nya dilihat dari Google aja ya. Gw komentar sedikit untuk tempat jalan-jalannya.

Vihara Duta Maitreya: ceritanya sih ini adalah candi Buddha terbesar di Asia Tenggara yang dibangun tahun 1991. Luasnya 4,5 hektar. Tempatnya gede banget sih emang. Tapi gak semua tempat bisa diakses sih. Jadi kita jalan-jalan sampe mentok di kantinnya, terus balik.

Toa Pek Kong: masih dalam pembangunan. Patung-patungnya lebih colorful, tapi kurang terawat ( as expected yak Sad smile ) dan bukannya gw menemukan penjelasan untuk setiap patung, yang gw temukan adalah tulisan nama sponsor yang sumbang si patung itu ke kuil. Satu patung yang memorable itu adalah patung raja kodok raksasa berhiaskan ukiran emas. Semua menebak summon-nya Jiraiya sudah mulai didewakan di Batam.

Continue reading

#2, Malin, the Bedtime Stories of

Jantung Malin berdegup kencang. Ia sudah sampai di hadapan pintu gubuk. Dengan hati-hati ia meraih gagang pintu (yang terbuat dari besi berkarat yang telah dipilin puluhan kali) dan menariknya sedikit. Bunyi ‘krieeeeet’ kecil terdengar, menandakan pintu yang bergeser sedikit. Malin menarik napas. Kakinya sudah terangkat sebelah, ketika tiba-tiba terdengar bunyi desing kecil mendekati Malin dengan kecepatan tinggi. Sepersekian detik kemudian, sebuah benda bersinar melayang kencang melewati wajah Malin, dan berhenti tertahan tepat di depan wajah Malin. Napas malin tertahan. Ia bisa melihat cerminan wajahnya yang pucat pasi di hadapan benda itu. Pisau mamak.

***

Hidup Malin bisa terbilang bahagia. Selain masalah keuangan, atap bocor, atap terbang, dan makanan di meja yang kadang ada kadang tidak, pada dasarnya Malin adalah anak yang ceria. Malin punya mamak, mamak punya Malin. Mamak dan Malin saling memiliki. Malin ingat ketika Beta, tetangga Malin yang masih lima tahun umurnya, menasehatinya. Kata Beta, kasih ibu kepada Beta tidak terhingga sepanjang masa. Malin manggut-manggut setuju. Malin yakin, kasih mamak kepada Malin pun tidak terhingga sepanjang masa.

“Malin ingin… merantau.”

Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di benak Malin. Reaksi mamak bisa ditebak. Malin melihat mata mamak berkaca-kaca. Mamak pasti sedih, pikir Malin. Mamak hanya punya Malin, dan saat ini Malin ingin meninggalkan mamak sendirian. Demi kehidupan mamak yang lebih baik, alasan Malin. Mamak meletakkan pisaunya, dan memandang Malin lekat-lekat. Ia mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya ketika Malin memohon doa restu mamaknya untuk membiarkan ia merantau.

“Malin… “, suara mamak tercekat.

“Iya mamak…”, Malin menjawab dengan patuh. Ia merasakan kesedihan mamaknya. Tetapi Malin adalah pria dewasa sekarang. Umurnya sudah tujuh belas tahun. Ia yakin ia bisa mendapatkan pendapatan yang lebih baik di negeri seberang. Malin membayangkan ia akan kembali dengan kapal besar penuh awak untuk menjemput mamaknya. Malin membayangkan ia akan mengenalkan kepada mamaknya seorang istri nan cantik, sopan, dan lemah lembut untuk menjaga mamaknya. Malin bangga hanya dengan membayangkan keberhasilan di masa depannya. Senyum mengembang di wajahnya ketika ia membayangkan betapa mamak akan sangat bangga kepadanya.

Imajinasinya terputus ketika mamak memeluk Malin tanpa berkata apa-apa. Air mata mengalir di wajah mamak. Malin menepuk-nepuk punggung mamaknya. Mamak sudah agak tua dan rapuh. Badannya yang kecil memeluk Malin dengan erat.

Tiba-tiba terdengar bisikan lembut dari mamak. “You are not going anywhere, not for maybe another hundred years…”
Continue reading

Malin, the Bedtime Stories of

Malin, begitu dirinya disebut oleh para tetangganya. Ia jarang mandi, bukan karena tidak mau, tapi karena selalu bekerja lebih dari setengah perjalanan matahari bertemu bulan.

Malin tinggal bersama ibunya, yang ia panggil mamak. Panggilan kesayangan katanya. Mamak dan Malin tinggal hanya berdua di gubuk jerami di dekat pantai. Jika malam bertandang, Mamak harus memeriksa dan memperkuat tali pemersatu atap dan dinding. Siapa tau sang pelindung naungan menolak untuk tinggal terikat. Maklumlah, angin bertiup kencang setiap kali bulan mulai bersinar.

Pernah satu kali, atap gubuk tersayang terbang menghantam kandang ayam tetangga. George, ayam tetangga kesayangan, menjadi korban naasnya. Hari berikutnya, diadakanlah pesta pemakaman satu malam penuh untuk menghormati meninggalnya George. Makanan bersantan menghiasi rumah empu Datuk Tambuah. Teman-teman George, Tina dan Tino, ikut bergabung di dalam lauk santan hari itu. Maksudnya itu, untuk menghormati George, si ayam jantan berbulu pirang yang selalu menang turnamen sabung ayam.satu daerah. Para tetangga Malin sangat menyesalkan insiden ini, bahkan kepala desa melakukan rapat kabinet darurat untuk membuatkan tali baru yang kuat dan tahan lama untuk gubuk Malin dan mamak. Sebuah peraturan daerah pun dikeluarkan setelah insiden George: yaitu, mamak dan Malin harus mengencangkan tali atap setiap malam.

“Mamak, tali sudah dikencangkan?”

begitu tanya Malin ketika pulang. Ia meletakkan hasil buruan dan beberapa potong kelapa muda di pojokan dekat tempat beras. Beras mereka tinggal sedikit. Malin melirik sekilas namun tak berkata apa-apa. Ia duduk saja di kasurnya yang bersebelahan dengan kompor minyak tanah satu-satunya peninggalan nenek. Malin kembali teringat nenek. Di suatu waktu kira-kira 2000 hari silam, nenek Malin kawin lari dengan seorang perjaka tampan, atau setidaknya, begitulah kata mamaknya. Malin mengangkat bahu. Ia sedang tidur saat neneknya minggat dari gubuknya.
Continue reading