Wisdom

Akhir-akhir ini yang terjadi di rumah gw adalah: ibuku menasehati ibu mertuaku. Terbalik? Ga tuh. Emang begitu. Jadilah sepanjang hari, suara kotbah kebijakan dan kebaikan berkumandang di ruang keluarga. Gw yang kena dampaknya. Betapa bahagiannya Jojo yang kamarnya jauh dari ruang keluarga. Gw yang kamarnya di sebelah ruang keluarga mau tidak mau dihadiahi alarm kotbah kebijakan gratis…

Ini membuktikan umur tidak hubungannya dengan kebijaksanaan. Umur mungkin membuktikan pengalaman, tapi manusia bebal, mau umur setua apa juga nggak akan berubah kalau tidak mau berubah. Kasus yang sedang gw hadapi dan nyokap gw hadapi kurang lebih sama. Pandangan yang salah, wawasan kurang luas, dan ketidakinginan untuk berubah. Setelah ditimbang-timbang, masalah seperti ini akhirnya kembali ke si pembuat masalah itu sendiri. And it always like that. Gw selalu menyarankan, tidak menyuruh. Gw memberi pilihan yang baik dengan resiko masing-masing, tidak memaksa. Jadi apapun yang akan terjadi setelahnya adalah di luar tanggung jawab gw.

Kejadian yang sedang terjadi adalah:
1. ibuku menasehati ibu mertuaku
2. sepupuku menasehati bibiku
3. aku menasehati seniorku

Apakah sepupuku lebih bijak dari bibiku? Hmm… mungkin. Yang jelas, cara pikir jaman tidak pernah berubah banyak. Cara pikir modern jaman sekarang lebih masuk akal menurut gw. Beberapa pandangan hidup yang gw dapatkan dari cara pikir kuno jaman generasi ibu dan nenekku adalah kolot dan congkak. Beberapa cara pandang kolot ini menjadi abadi seiring dengan berlalunya waktu, tidak diimbangi dengan akal sehat atau keingintahuan terhadap maksud dari nenek moyangnya. It’s like Lemmings jumping without thoughts from the tall cliff. Kecongkakan manusia tidak bisa ditolerir. Seiring dengan bertambahnya usia, manusia hanya bisa berlindung pada usianya sendiri. “pengalamanku lebih banyak, uangku lebih banyak, barang-barangku lebih banyak, aku lebih tua”.

Kerendahan hati terbukti tidak efektif mengalahkan kecongkakan dalam masalah-masalah yang dihadapi ini. Kerendahan hati diimbangi dengan kesabaran dan diinjak-injak oleh kecongkakan. Kecuali anda adalah orang yang keras kepala dan cuek, jangan pernah mencobanya. Kebijaksanaan dan kelogisan berpikir mampu mengubah kecongkakan. Namun, kebijaksanaan tidak bisa dipamerkan. Kalimat “aku lebih bijaksana” membuktikan bahwa anda tidaklah bijaksana. Tidak ada orang bijaksana yang memamerkan diri menurut gw. Sama seperti, kalimat “aku mendapatkan nilai lebih tinggi” tidak membuktikan pengetahuanmu lebih banyak dari yang lain.

Pembicaraan sudah dimulai 2 jam lalu dan belum berakhir. Ibuku dan nenekku sama-sama bahagia mendapatkan teman ngobrol. Tidak ada pertengkaran. Yang ada adalah refleksi setiap hari… gw yang tidak bisa menyumbat telinga terus, mau tidak mau merenungi hidup gw kembali. Apa Tuhan sedang menguji kecongkakan generasi atas gw yang begitu bangga pada pandangan hidupnya? Apakah gw akan menjadi lebih tidak bijaksana seiring dengan bertambahnya usia gw? Semoga masih ada kebijaksanaan di tangan orang yang lebih tua… atau generasi muda akan kehilangan kehormatan dan kepercayaan terhadap generasinya yang lebih tua.

-FIN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s