Belajar atau tidak >>>

Hari yang panas… saya benar-benar menikmati efek global warming. Entah harus disyukuri atau tidak tinggal di daerah perbukitan. Kalau hujan seharian, dingin, kayak puncak, kalau panas, waw… menurut hasil inspeksi teman saya, “PANAS BANGET DI LUAR. Gw baru keramas, keluar rumah bentar, udah kering” sembari menunjukkan rambutnya yang sudah kering.

 

Anyway, kemarin karena suatu sebab musabab, saya belajar C seharian (well, ga seharian, tapi at least dapat ilmu baru), kemudian datanglah teman-teman saya. Mengajak nonton film hantu Juon 4, yang satu berkoar-koar “ini liburrrr! Bukan waktunya belajar! Libur!!! Libur!!!”, yang satu lagi begitu datang melihat coding saya, langsung, “tau ga, gw disuruh ikut lomba programming di binus!” setau saya programming SMAK MATER DEI sangat dudud. Jadi dia sebenarnya ga pernah diajarin apa-apa sama sekolah tapi disuruh ikut lombanya. Manusia itu belajar otodidak, kayak gw, cuma lebih gila belajar otodidaknya. Kesian, karena sudah yakin tak akan menang, ya dia ikut hanya dengan tujuan lumayaan, dapat makan. Sebenarnya akan dapat pengalaman juga, tapi pengalaman dibantai habis-habisan.

 

Akhirnya terbagi dua kubu, satu main capsa, satu ngerjain coding. Di akhir hari, kubu mengerjakan coding sudah menyerah. Akhirnya main capsa, kartu boong, kartu cepek, dengan taruhan, yang kalah minum aer. Gw kena 4 gelas, ade gw kena 5 gelas, sisanya ada yang ga minum, and ada yang minum 3 gelas doang. Duh2… tunggu bentar, bukan itu yang mau ditulis hari ini.

 

Blog hari ini temanya adalah “belajar atau tidak???”. Satu ajaran turun temurun dari Cina yang saya tonton di TV menyebutkan begini:

 

Ilmu pengetahuan lebih berharga dari harta segunung

Dapat memanen, tanpa menanam

Siang hari tak takut dipinjam

Malam hari tidak takut dirampok

 

Ada 3 orang yang saya temukan yang menurut saya bisa dibandingkan. Sebut saja A, B, C, D

  1. Si A belajar otodidak untuk suatu subject. Memang lebih pintar, tapi butuh waktu lama karena tentu saja tidak ada guru yang mengajar.
  2. Si B ga ngerti sama sekali. Begitu masuk kuliah, subject diajarkan dalam waktu 6 bulan. Hasil pencapaian sama optimalnya dengan A yang belajar lebih dari 6 bulan
  3. Si C belajar otodidak untuk suatu subject. Jadi lebih pintar, tidak butuh waktu lama meskipun tidak ada guru yang mengajar
  4. Si D ga ngerti apa-apa. Begitu masuk kuliah, subject diajarkan dalam waktu 6 bulan, dia jadi lebih pintar dari A dan B.

 

Kalau udah begini mikir juga saya… bagaimana ya? Hemm… belajar gak ya… tapi nanti juga diajarin… tapi kalau bisa duluan memang enak, tapi membebani otak gak ya… kadang-kadang terlintas kata-kata Mr. Andreas Raharso… Life is not fair… bener juga sih. Tapi bukankah semua orang berusaha membuat hidupnya sefair mungkin?

 

Kalau memutuskan berdasarkan mood dan advice teman-teman, mereka pasti bilang “udaaah, ga usah belajar, udah pinteer”… hiyaaah… kalau ditanya selalu jawab begitu. Siapa juga yang bilang gw pinter… huuuuuuh… dan AKHIR-AKHIR TIDAK JADI BELAJAR

 

Kalau belajar, terus kepergok sama teman ato nyokap gw misalnya, akan ditatap dengan pandangan kasihan. Anakku, kamu stress ya? Huaaaaaaaa… irritating banget. Hiks2.

 

Tapi bodo ah. Belajar itu menambah ilmu, selama ga nambah stress, ga apa-apa toh saya belajar? Tapi ada satu advice pula yang mengingatkan gw… bahwa gw harus melihat dunia selain “belajar” itu sendiri. Hemm… gw liat sih… tapi kok jenuh juga main terus… HIKS. Teman-temanku yang terus bermain itu apa tidak jenuh ya… tak tau lah…

 

Pesan Moral        : saya suka belajar, itu suka-suka saya. Saya mau belajar berapa banyak, itu karena saya tau limit saya. Jadi situ ga usah paksa-paksa saya belajar atau jangan deh. Mendorong boleh, tapi kalau sampai irritating, bikin kesal juga. Meskipun saya tau niat situ baik. Hoho. (kok saya jadi sensi…)

Pesan berikutnya    : belajar Ruby deh! Keren. Dijamin ga nyesel. Siah. Makin banyak orang pintar di dunia. Mungkin nanti jaman anak gw udah lengkap kali tuh library headernya. Jadi tinggal ketik2 berapa baris jadi… huhuuu….

 

 

2 thoughts on “Belajar atau tidak >>>

  1. blajar apa nda?? itu keputusan fi…dibawa santai aja lagi..someway…people live to learn not learn to live…so,anyhow u will keep on learnin in every second of ur beautiful life…

    in my personal opinion…i like to learn..maybe it’s sound like a total freak…but i really love to learn..but in the subject that i like…but i can push myself to learn somethin that i dislike for some personal other reason…even though the result ain’t be that good…

    other things…
    masalah apakah kita setelah belajar akan menjadi sebaik apa…dan apakah lebih baik lebih cepat tahu namun di ujungnya hasilnya sama saja dan apakah buruk kalau belajar namun akhirnya orang dengan bakat berlebih akan melangkahi kita layaknya membalikkan telapak tangan??/

    i nevermind those stuffs…why? cause i learn for my personal reason…i want to be a better person… i want to be a better person that can make other people happy…so that…i never need any parameter…i will learn anything that i need to make my existence meaningful..even though somebody will beat me in a single move in the other day…i don’t really care…

    simple?

  2. Simple :).

    thank you for the answer. and I’ll edit my sentence “I just love to learn”… haha. whatever people would say anyway.

    Orang dengan bakat berlebih melangkahi kita layaknya membalikkan telapak tangan… apakah buruk? well there’s no moral judgement for it. but sometimes I just feel stupid. urggh… (<– perasaan yang muncul di blog ini) tapi setelah itu ya keluarlah pikiran ini “ah, sebodo amat, dia ya dia, gw ya gw” dan gw melangkah lagi~ lalala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s