Terima atau tidak???

    Kembali lagi ke pertanyaan baru… Terima atau tidak? Judul di atas refer ke masalah “Apakah anda menerima keadaan? Atau anda memperjuangkan keadaan?” jadi tuh, saya punya teman sebangku SMA dulu bernama Dian (yang sekarang di FEUI dan hidup bahagia as usual), adalah dia seorang gadis yang bisa saya bilang menganut adat Jawanya yang nerimo sekali itu. Misal?

 

Kalau nilai jelek

    Gw    : aaa… 5 lagi… huhuu. (bertekad ngerjain mat dengan super teliti minggu depan, abis itu minggu depan jelek lagi? Ya usaha lagi, jelek lagi, bodolah, nasib, namanya juga usaha)

    Dian    : aduh… gw dapat 4… tapi mau diapain lagi. (sedih sebentar, terus happy lagi)

    

Kemudian teman satu kampus saya, rasanya sering sekali ngomong “Mau gimana lagi??” tepatnya, tidak ada usaha untuk BANGKIT (semangat 45)

 

    Gw    : ayo USAHA DOOONK!!!

    Temen    : ya… mau gimana lagi..?

    

    Okeh2, saya tau, ini masalahnya adalah terserah mereka juga. Dan kadang-kadang, kamu juga harus belajar menerima keadaan, Fi” begitulah kata hati saya, dan kata teman-teman, dan kata buku teologi, dan kata buku filosofi, dan kata guru agama. Tapi ada satu pertanyaan yang ga bisa saya jawab sampai sekarang which is:

 

Apakah ada kriteria untuk menentukan suatu keadaan bisa diterima atau tidak?

 

    Pemikiran ini bisa keluar karena: Saya ga ada kerjaan kalau lagi macet selain mikir “kenapa bo yaa… macet terus?” nanti pasti ada comment “namanya juga Jakarta, kalau ga macet bukan Jakarta”, nah, apakah itu sifat menerima keadaan? Jadi intinya kita akan membiarkan Jakarta tetap macet supaya nanti jadi culture? terus semua guidebook Jakarta akan dapat tambahan info lagi “Wilayah paling macet seluruh Indonesia, dan sebentar lagi akan memasuki kancah persaingan internasional untuk menjadi kota paling macet sedunia” sounds good!. (intinya, jangan mau berada di urutan belakang, kalau mau jadi nomer satu sekalian)

    Back to the topic. Bagaimana menjawab pertanyaan di atas? Karena gw tau ada konsekuensi untuk setiap keadaan yang gw terima atau tidak. Bagaimanakah harusnya saya bertindak. Simple aja contohnya. Speedy saya over terus. (kayak sekarang). Pas rundingan sama ade saya buat ganti ke fastnet, dia bilang, “ya sebenarnya ada bagusnya pakai speedy, jadi gw bisa puasa, dan fokus belajar, kalau 24 jam… bisa-bisa nilai gw anjlok…” dan nilai dia sekarang fine2 aja. Tidak bisa dibilang bagus sekali atau jelek sekali.

    So, apakah ada yang pernah berpikir apakah kriterianya saat memutuskan akan menerima keadaan anda saat ini?

 

Pesan moral    : ga ada, pertanyaannya aja belum kejawab…

(sedikit banyak, inspired by this poem… :D)

GOD, grant me the

Serenity

to accept the things I cannot change

Courage

to change the things I can

and the

Wisdom

to know the difference.

 

Living ONE DAY AT A TIME;

Enjoying one moment at a time;

Accepting hardship as the

pathway to peace.

 

Taking, as He did, this

sinful world as it is,

not as I would have it.

 

Trusting that He will make

all things right if I

surrender to His Will;

 

That I may be reasonably happy

in this life, and supremely

happy with Him forever in

the next.

 

Amen

 

~By Reinhold Neibuhr

5 thoughts on “Terima atau tidak???

  1. yah….apa yah…ga ada kriteria juga sie..smua kembali ke diri sendiri juga karena memang standarnya tidak pernah eksis di planet ini…lalu…jawabannya sie menurut saya yang agak dodol ini lebih ke masalah sampai mana loe mau push diri sendiri? Hal yang baik dari menerima itu bahwa kita ga akan cepet jadi stress yang berkembang menjadi depresi dan menimbulkan potensi untuk frustasi dan nanti akhirnya bunuh diri… tapi mungkin dengan menerima ini kita jadi kurang memacu diri… kalau nda mau nerima nanti stress tapi kalau positif nanti bisa jadi pemacu diri….

    intinya…mau nerima atau nda…standard yang mau dipake kayak apa..sebenernya sama aja…spanjang reaksi yang ditimbulkan positif…kalau mau nerima dan itu bisa bikin kita tetep happy kayak si dian itu…it’s fine…kalau nda terima tapi jadi semangat….itu juga bagus kan?

    semua itu kputusan lagian…karena ini masalah pilihan…

  2. hmm… pilihan lagi… which means setiap orang punya kriteria “menerimanya” sendiri ya… ga ada yang mengglobal… ok2. tq. :)

  3. sampai kapan jg rasanya globalisasi itu hanya usaha sebagian besar orang di dunia untuk membakukan dan meng-institusikan segala sesuatunya padahal sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang namanya standard…

    everything’s subjective…everything’s relative..

  4. “plih jd yg pertama di barisan terakhir atau terakhir di barisan pertama?”
    jawabannya tergantung pribadi masing2, persepsi masing2,n mood masing2 org… hehe. relatif, relatif… n relational jg.

  5. Ika, Ray :

    Pesan Moral: RELATIVE, :D. thank you very much for the comments. Sangat membantu perenungan. Maap telat balasnya, as usual, kuota speedy sudah over. sekarang baru buka puasa lagi. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s