BBM oh BBM

Dokter Gigi

Uuh… hari ini ke dokter gigi T_T… akhirnya dicabut juga tuh geraham belakang. Tapi emang tinggal akar sih. Sakitnya masih berasa sampai sekarang, meskipun tidak menyiksa sih… tapi tetap aja harus makan bubur seharian.. . =(

Perjalanan gw ke dokter gigi cukup gigih. Gw harus naik dua kali angkot lewat dua pasar, kenapa? Karena dokter langganan gw pindah tempat kerja… aa… dan gw gak mau diperiksa dokter lain, jadinya gw bela-belain buat jauh-jauh ke kebayoran lama demi cabut gigi.

BBM

Hari ini semua supir angkot dan penumpang membicarakan satu hal “Kenaikan BBM”. Sepanjang jalan, nyokap gw, satu penumpang ibu-ibu dan pak sopir membahas kenaikan BBM, sedangkan gw duduk diam pura-pura tidak peduli, as usual, sok cool gitu deh. Huahuahua. Menurut si supir angkot, sekarang setorannya berkurang… currently aja, Rp. 50,000 penghasilan potong setoran Rp. 20,000 tiap hari, sekarang mau berapa… dia mengeluh, paling cuma dapat Rp 30,000, sisanya buat beli bensin.

BLT

Kemudian pembicaraan dilanjutkan ke pemberian dana BLT bagi rakyat miskin. Si ibu berpendapat bahwa BLT memicu korupsi. Gw dalam hati menimpali bahwa sebenarnya korupsi tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak memberikan BLT karena tidak masuk akal. Supir angkot yang udah narik sejak tahun 1997 ini berpendapat dana BLT tidak cukup untuk membiayai mereka, dan dia dengan polos tertawa mengatakan merasa “disuap” pemerintah. Seorang nenek yang menumpang di angkot minta turun di kantor pos yang kemudian diledek oleh supir angkot bahwa ia ingin mengambil jatah BLT. Si nenek cuma ketawa doang, hari ini memang di kantor pos ada tenda dan spanduk bertuliskan “(something)… BLT”. Seorang bapak yang duduk di paling depan menceritakan pengalamannya mengambil dana BLT. Ternyata dia hanya dapat dua kali dalam kurun waktu tiga bulan dan dua bulan, setelah itu, katanya duitnya gak ada lagi ==; how come ya.

Pertanyaan gw pada supir angkot sebelum turun… “Bang, sehari ngabisin berapa bensin?” yang dijawab dengan tawa “bla bla bla (menjelaskan panjang lebar”… ya, intinya 20 liter gitu deh. Dengan asumsi rakyat miskin disubsidi Rp. 100,000 per bulan, berarti dalam 30 hari, dalam hitungan kasar mereka disubsidi

Rp. 3,333.33/hari

Hmm. BBM naik Rp. 1,500/liter, which means, mereka disubsidi 2 liter minyak per hari. Kalau si tukang angkot butuh 20 liter sehari, berarti sekitar 18 liternya harus dibayar pake uang hasil narik.

Nyokap berpendapat bahwa supir angkot sudah disubsidi, yang bensin Rp. 6,000 ini yang disubsidi, nanti kita-kita yang gak narik angkot ini harus bayar lebih mahal lagi karena September naik lagi tuh BBM. Duh. Kalo sampe Rp 9,000-an mendingan beli di Petronas aja (selama petronas gak naik loh).

Apakah hidup tambah sulit?

Sekarang apakah dengan naiknya tarif angkot Rp. 500 – Rp 1,000 perak bisa menutup 18 liter x Rp. 1,500 untuk mendapatkan penghasilan yang sama seperti sebelumnya? Harusnya sih bisa ya, kan mereka perlu nambah Rp. 27,000. Untuk setiap kenaikan Rp. 500 ke penumpang, dia hanya butuh

Rp. 27,000 / Rp. 500 = 54 orang

54 orang bayar Rp. 500 lebih mahal bisa menutup biaya bensinnya. Kalau lebih dari itu, profitnya lebih gede lagi (yang tentu saja harus dipakai untuk menutupi biaya kebutuhan sehari-hari lain yang naik juga. –;)Gw cuma kasihan aja sama supir angkotnya, penumpang-penumpangnya masih bayar dengan harga biasa, padahal BBM udah naik… nyokap gw gak tega dan ngasih lebih pas turun angkot, dan gw gak merasa sedih ngasih Rp 1,000 lebih mahal. Rp 1,000 bisa beli apa sih sekarang… beli permen 10 buah, ato beli tahu Sumedang dua potong udah abis. ==; barang-barang mahal sekarang… tiba-tiba keinginan terpendam gw buat makan BK jadi hilang…

Bagaimana cara menyiasati dan jadi lebih kaya?

Sambil dipikir-pikir di tengah jalan, gw mikir, kalau seandainya gw jadi supir angkot, dan harga BBM naik, gw pasti cari kerjaan lain, maksudnya cari penghasilan tambahan gitu, daripada beli rokok sebatang tiap hari, mendingan duitnya gw simpen, terus gw beliin aqua se dus, terus gw jualin di dalam angkot. Kan panas tuh angkot, pasti pada haus donk. Hahaha. Kalau nggak, gw liat-liat kerjaan lain yang bisa menghasilkan lebih dari Rp. 1 juta sebulan. I mean, salesman-salesman tuh bisa dapat profit 100% dengan penjualannya. Tapi kalau nggak bakat jadi salesman, jadi tukang kelontong gitu… untung gak ya… hmm. Katanya bisa return 35% per tahun, meskipun dengan omset tukang kelontong, kita gak bakal bisa kaya, soalnya omset kagak nambah. Tapi kalau udah kepepet, mendingan jualan. Yah anw, gw tau jawaban supir angkotnya “modalnya dari mana? Makan aja susah”…

Tau ah, gw malas mikirin yang ini. gigi gw masih senat senut, T_T…

Disclaimer on: penulis tidak bertanggung jawab atas analisa sambil lalu yang dilakukan untuk melupakan sakit giginya. ^^V

3 thoughts on “BBM oh BBM

  1. cara jadi lebih kaya? ngerampok aja fi..lebih gampang..wakkakakaka…

    tapi gw masi percaya kalau kita akan dapat apa yang kita butuhkan..

    masalah lebih kaya atau nda..relatif jg sie.. masalahnya apa iya harus lebih kaya?

    money isn’t everything but without it everything is nothin??

    hha…

  2. menurut saya bensin adalah masalah global. Pemerintah menaikan harga karena terpaksa. Dan rakyat ngga bisa hanya menyalahkan pemerintah, tapi carilah pemecahannya dalam hidup kita sendiri

  3. Raynata: menurut gw harus jadi lebih kaya, masalah tamaknya ya urusan mengontrol diri sendiri. kalau kita tidak jadi lebih kaya, nanti nyusahin orang, nyusahin orang tua, bikin anak istri menderita… (suami gw nanti harus kerja yang bener nanti. huahua).

    Dave: hmm yah. rakyat memang sangat bergantung pada pemerintah sih. dan kenaikan bensin ini, mungkin memang keterpaksaan :). gw setuju rakyat gak bisa hanya menyalahkan pemerintah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s