I’m really that simple

Currently singing: When the Stars Go Blue – The Corrs

Banyak kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti. As for me, I don’t feel any of them for these past two weeks. Tidak bisa dibilang sedih, lebih tepatnya kembali lagi menjadi sebuah titik tidak berarti di dalam komunitas yang entah memperdulikan eksistensi kehadiran gw atau tidak. Ada kalanya gw merasa, gw berada dalam situasi yang salah dan gw jadi tidak tahu harus bertindak bagaimana. Blog gw yang gw password itu YOU DON’T MESS WITH ME, berisi ketidaksenangan gw karena gw bertemu kembali dengan perasaan marah yang sudah lama tidak datang. Mau baca? Everyone could easily hack it though, but yah, kalau dia segitu pengen tau gw kenapa, ya silakan lakukan, gw tidak melarang. Gw tau konsekuensi meletakkan sesuatu di internet adalah semua akan bisa membaca tulisan gw.

Dalam dua minggu ini, gw hanya jadi pengamat. Mengamati kehidupan. Gw hanya berusaha sebaik-baiknya menjalani kehidupan, melakukan tugas dengan baik, menyelesaikan tugas, pulang dengan lelah, dikerjain orang-orang di YM, tertawa, dan tidur. What a peaceful life.

Bicara soal kehidupan dan kematian. Gw ke rumah duka lagi kemarin. Dalam satu tahun ini, gw mengalami sesuatu yang bisa dibilang… pertemuan singkat. Singkat sekali. 10 bulan lalu, gw mendatangi pernikahan seseorang, enam bulan kemudian, gw mendatangi pemakamannya. Dua bulan lalu, gw bertemu dengan seseorang, dua hari lalu, gw mendatangi rumah dukanya. Pertemuan yang benar-benar singkat, seakan-akan orang itu bertemu gw cuma untuk melengkapi jodohnya dengan gw. But still, I still cry while writing this. He’s supposed to be my family. Sepertinya tidak ada hubungan darah, tapi sudah bisa dianggap keluarga.

Ini pengalaman ketiga kalinya dalam hidup gw mengunjungi rumah duka. Salah satu yang tidak gw sukai saat ke rumah duka adalah, gw selalu merasa berada dalam situasi yang salah. Gw, bisa merasa bersimpati pada orang-orang yang ditinggalkan oleh si orang yang meninggal ini, sekalipun gw tidak pernah mengenal mereka. Dan karena itu, gw selalu sedih saat ke rumah duka. tapi sekali lagi, situasinya tidak mendukung. Orang-orang yang datang ke rumah duka, tidak terasa bersedih hati. Mereka yang mungkin sudah ‘dewasa’ dan sudah ‘terbiasa’ datang ke rumah duka, bercakap-cakap dengan riang, mengadakan reuni dadakan, ngobrol, membicarakan orang yang sudah meninggal itu, seakan-akan ia hanya pindah ke luar negeri… Wajah mereka tidak menunjukkan kedukaan, tertulis jelas di pandangan mereka “What’s the point of being sad?”

Gw tidak suka, gw memilih diam. Dan kebetulan, karena masih ada buku Knuth di tangan, gw memilih tidak berbicara dan terus membaca. Mengosongkan pikiran jahat, menghindari pembicaraan…

Sesekali gw menatap sang istri yang ditinggal suaminya. Dia tampak tenang dan kelelahan. anaknya yang perempuan sibuk menghidangkan makanan dan cemilan setiap kali makanan di meja habis, ia tampak sibuk merapikan meja yang berantakan. Gw melihat lagi ke depan, anaknya yang masih kecil, lebih kecil dari adik gw… bagaimana nanti dia sekolah? Siapa yang membiayai? Gw ingat kata Dian, kalau suami lu nanti meninggal, dan lu gak bisa apa-apa, lu harus bagaimana?

Sewaktu mau pulang dan pamit, gw lihat ibunya sedang makan sambil menangis. Anaknya yang kecil memeluk ibunya untuk menenangkan… dan ibunya makan lagi. Gw menatap ke seberang gw, mereka… sedang asik ngobrol. Gw menatap ke belakang gw, mereka juga asik ngobrol. Gw harus bagaimana?

Perpisahan itu menyebalkan. Tapi masa-masa di rumah duka itu lebih menyebalkan lagi. Gw jadi merasa ingin mengusir semua orang yang ada di sana. Benarkah perpisahan ini sewajar itu? Kematian itu segitu wajarnya kah sampai tidak ada yang perlu merasa sedih? Apakah mereka hanya pura-pura bersikap wajar? Apakah gw terlalu sensitif?

Yah, kemudian hari ini Kur2 dinyatakan dapat job offer dari Google. Selamat ya Kur. Gw ikut senang, gw malah lebih senang dari dia kayaknya. Meskipun gw yakin dia bohong soal perasaannya sambil ngomong “ah biasa aja tuh”. Okeh, gw bisa berbahagia karena kebahagiaan orang lain. I’m really that simple. Orang lain menang, gw senang, orang lain sedih, gw ikut sedih. Gw sendiri, jarang mengalami sesuatu yang benar-benar merugikan atau menyiksa batin, karena gw diajarkan dari kecil untuk menerima kehidupan apa adanya. Berjuang sebaik-baiknya supaya tidak ada penyesalan, talenta yang diberikan Tuhan harus diusahakan secara maksimal, selain itu tidak perlu merasa sedih dengan kesulitan, tidak perlu merasa bahagia dengan kelebihan, tidak perlu merasa bangga dengan kemenangan, tidak perlu merasa gagal dengan kesedihan. Haa… kalau kata Maslow, ini namanya aktualisasi diri, dan kalau dalam Theory of Needs nya dia, kita diharuskan memiliki cinta, uang, keamanan, dan kehidupan yang baik, baru akhirnya memiliki aktualisasi diri. Tapi teorinya toh mendapat banyak kritikan karena tidak terbukti benar.

Hidup keluarga gw, penuh lawakan. Kalau orang bilang, keluarga gw bahagia dan gak ada kesulitan. Salah juga sih. Lebih tepatnya, kita tidak mempermasalahkan kesulitan, kita menuliskan setiap kebahagiaan. Dengan demikian, kita lebih bersyukur. Iya gak sih.

Tapi… semuanya akan hilang nantinya. Gw baru sadar. Perpisahan itu menyebalkan. Tapi gw ingat kata ibu teman gw saat adiknya meninggal… “nanti juga ketemu lagi di surga…” =). Kurasa itu membuat sesuatu yang namanya pengharapan. Ia yang pergi, hanya berlayar ke pulau lain. Kita yang masih di sini, akan segera bertemu lagi. Ada pertemuan, ada perpisahan, dan akan ada pertemuan kembali. Entah kapan itu terjadi, but believe, we’re destined to be live happily ever after. At least that’s what God has planned.

Fin – Just another thought

4 thoughts on “I’m really that simple

  1. Walau gmana pun hidup kita, tetap saja kita harus selalu riang dan selalu bersyukur..

    cheers up… in that way, you’ll be able to cheers up the others :)

  2. @Felixj: makasih advicenya :)

    @Heru: apanya yang bener dan salah sih? kok gw gak ngerti. hahaha. buku knuth? keren tuh. gw bacanya harus pelaaaaaaaaaaaaaaan pelaaaaaaaaaaaaaaaan… diresapi… *otak gw kali ya yang kagak kuat*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s