Aborsi

*serius mode on ;), kata “gw” menjadi “aku”, bahasa indonesia sok gaul berusaha dihilangkan untuk artikel ini, mohon maklum*

Aborsi (abortion) adalah hal yang sudah sering menjadi bahan perdebatan masyarakat. Aku tidak terlalu peduli dengan semua hal itu. Aku tidak suka berdebat. Buat orang beragama seperti diri ini, aborsi adalah hal yang tidak boleh dilakukan karena melanggar perintah agama.

Kemarin malam adalah seminar musim dingin pertamaku di Melbourne. Temanya: “Abortion”. Teori yang dijabarkan sangat jelas. Tidak boleh melakukan aborsi, kecuali:

  1. Kelahiran menyebabkan kematian salah satu individu, antara sang ibu atau si bayi.
  2. Si bayi sudah pasti akan mati, dan sang ibu malah terpengaruh kesehatannya karena tidak bayi itu tidak diaborsi.

Seminar terus dilanjutkan. Aku hanya menunggu satu bagian dari keseluruhan ceramah itu. Sebuah kasus khusus lain yang selalu menyita perhatianku, yaitu bagaimana jika wanita tersebut diperkosa. Kasus kerusuhan Mei 1998 menyimpan banyak masa lalu kelam. Wanita-wanita diperkosa dan menjadi hamil tanpa mengetahui siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Aborsi menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan aib dan trauma. Bagaimana reaksi gereja tentang hal ini?

Ternyata, aborsi tetap tidak diijinkan.

Merupakan suatu hal yang wajar sebenarnya bagiku. Tapi kemudian, sang pastur berhenti dan berkata “… but right choice is not always a good choice.“. terkadang, keputusan yang benar, bukanlah sebuah keputusan yang baik. And this is what we always do (dan ini yang sering kita lakukan). “We impose our choice to them without considering their conditions” (kita memaksakan pilihan kita kepada mereka tanpa mempertimbangkan kondisi mereka).

Kisah ini aku dengar di retret tahun lalu. Seorang anak bertanya “apakah aborsi diperbolehkan di dalam gereja?”. Bapak pendeta berkata, tidak boleh. Tapi ia memberikan sebuah kisah. Seorang wanita telah diperkosa dan hamil di saat kerusuhan bulan Mei 1998. Ia menggugurkan kandungannya. Saat ditanya akan keputusannya yang melanggar perintah gereja itu, ia hanya menjawab “Saya yakin, Tuhan mengerti”.

Kisah ini masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dan aku kembali sadar dari lamunanku. Pastur masih terus berbicara. “nobody would want to be in the position” (tidak ada yang ingin berada dalam posisi ini), “but remember this, don’t repay evil for evil, overcome evil with good“. (tetapi ingatlah hal ini, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, kuasai kejahatan dengan kebajikan). Ia terus mengingatkan kita untuk tidak menjauhi, membicarakan, apalagi mencela orang-orang yang melakukan aborsi. “Take decision not based on human views but from God’s view”. (ambillah keputusan bukan berdasarkan pandangan manusia, tetapi berdasarkan pandangan Tuhan).

Pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan setelahnya. Siapakah yang harus dipilih jika salah satu harus dikorbankan? Sang ibu atau sang bayi? Bagaimana jika sang bayi tidak diaborsi, malah terjadi keretakan rumah tangga?

Jawabannya menjadi sangat jelas. Semua tergantung individu masing-masing. Semua tergantung kondisi masing-masing. Tidak ada yang berhak memaksakan pilihan yang dibuatnya terhadap orang lain. Saat seorang wanita diperkosa, tidak ada yang berhak memaksanya untuk tidak menggugurkan anaknya. Saat sang ayah lebih memilih sang ibu daripada bayinya, tidak ada yang punya hak untuk menyalahkannya.

Aborsi tetaplah menjadi suatu dosa, tetapi bukanlah sesuatu yang tidak termaafkan. And in the end, it’s not you who have the right to judge them who has sinned, it’s God.

Pesan-pesan diberikan sepanjang ceramah. Untuk para orang tua: “Children should be loved, not wanted. welcome children as they are” (Anak-anak harus dicintai, bukan diinginkan. Terimalah anak kalian apa adanya). Janganlah memaksakan anak-anak untuk hidup dalam impian para orang tua.

Untuk para pria: kendalikan diri kalian sebaik mungkin. Kurasa maksudnya cukup jelas. :)

-Sekian-

3 thoughts on “Aborsi

  1. Take decision not based on human views but from God’s view
    @ : I’m agree :D

    dalam mengambil suatu keputusan benar atau salah anda harus mempertimbangkan 3 premis yaitu :
    1. apakah itu berguna dan bermanfaat bagi anda..
    2. apakah itu bersifat membangun bagi anda..
    3. apakah hal tersebut memuliakan Tuhan atau tidak..

    hidup bukan hanya masalah benar atau salah saja..’
    tetapi refleksi pribadi dengan segala pertanggung jawaban dengan yg Di Atas…

    And in the end, it’s not you who have the right to judge them who has sinned, it’s God.
    @ : hmm my favorite words. manusia tidak boleh menghakimi karena keadilan hanya milik Tuhan :D

    Untuk para pria: kendalikan diri kalian sebaik mungkin. Kurasa maksudnya cukup jelas. :)
    @ : iya tante ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s