Musik dan Matematika

Dari dulu gw selalu merasa kalau orang yang pintar matematika pasti pintar musik, dan sebaliknya. Iya atau nggak sih? Denger-denger sih ada ngefek kalau dilatih dari kecil?

Nah, gw suka musik dan matematika. Tapi gw meninggalkan musik terlalu dini saat kecil karena satu dan lain hal. Sekarang waktu mau latihan kembali, ya sudah terlambat. Yang tertinggal tinggal kemampuan telinga gw membaca frekuensi nada.

Ah ya, ini gw lagi isenk menemukan artikel ini, share-share dikit lah ;). Cuma mau bilang, musik dan matematika itu berhubungan lho. http://www.scribd.com/doc/18096869/Frekuesi-Nada-harmonis-beraturan

Kepekaan manusia merasakan harmoni nada-nada dalam alunan musik, sungguh merupakan keunggulan cita rasa manusia atas akalnya. Ketika dalam sebuah komposisi musik anda mendengar sebuah suara yang dissonance (kita sering menyebutnya sebagai “fals”), anda dengan sendirinya akan merasakan sebuah rasa tidak nyaman. Hal ini terjadi karena manusia (yang peka nada) dapat menangkap tegangan frekuensi antar nada. Nada-nada yang harmonis secara matematis memiliki keteraturan numeral yang sungguh mengagumkan.

Ambil contoh sebuah akor C mayor. Akor C mayor sesungguhnya adalah gabungan dari beberapa nada yang dibunyikan secara bersama dan terdengar harmonis. Nada-nada tersebut adalah: nada C, nada E, dan nada G. Nah disinilah pertanyaannya: “Mengapa nada C, nada E, dan nada G akan terdengar harmonis jika dibunyikan secara bersamaan?”

Ini dia jawaban matematisnya:

Kurang lebih 2500 tahun yang lalu, Pak Dhe Phytagoras (560-475 SM) melakukan sebuah percobaan dengan menggunakan sebuah senar. Sebuah senar dengan panjang tertentu, jika digetarkan angan menghasilkan sebuah nada dengan frekuensi tertentu. Pak Dhe Phyt menyebutnya sebagai nada dasar (katakanlah nada itu adalah nada C).

  • Kemudian panjang senar dibagi menjadi 2. Ternyata menghasilkan nada C (satu oktaf di atas C dasar).
  • Kemudian panjang senar dibagi menjadi 3. Ternyata menghasilkan nada G (di atas C oktaf tadi).
  • Kemudian panjang senar dibagi menjadi 4. Ternyata menghasilkan nada C (dua oktaf di atas C dasar).
  • Kemudian panjang senar dibagi menjadi 5. Ternyata menghasilkan nada E (dua oktaf di atas C dasar).

Masih ingat nada penyusun akor C mayor tadi? Ya… C – E – G

Nada tersebut adalah hasil dari pembagian angka ganjil (3 dan 5).

Sementara pembagian dengan angka genap (2 dan 4) menghasilkan nada yang sama hanya saja lebih tinggi.

Kemudian ketika frekuensi nada-nada tersebut diukur maka hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Nada C memiliki frekuensi 264 Hz
  • Nada D memiliki frekuensi 297 Hz
  • Nada E memiliki frekuensi 330 Hz
  • Nada F memiliki frekuensi 352 Hz
  • Nada G memiliki frekuensi 396 Hz
  • Nada A memiliki frekuensi 440 Hz
  • Nada B memiliki frekuensi 495 Hz
  • Nada C’ memiliki frekuensi 528 Hz

Sekali lagi…Masih ingat nada penyusun akor C mayor tadi? Ya… C – E – G

  • Frekuensinya adalah 264 Hz – 330 Hz – 396 Hz
  • Masing-masing dipisahkan dengan angka 66
  • Dalam skala perbandingan nada C : E : G adalah 24 : 30 : 36
  • Ketiganya merupakan kelipatan 6

Sementara nada yang sama namun lebih tinggi, memiliki frekuensi dua kali lipat. Nada C= 264 Hz dan nada C oktaf= 528 Hz

– the end of piece of knowledge –

One thought on “Musik dan Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s