Si Biji Kopi

Lagi-lagi aku bertengkar dengan ayahku, seakan-akan jadwal bertengkar sudah diatur untuk terjadi minimal 2 jam sehari. Aku tidak tahan lagi, kuputuskan untuk lari dari rumah malam itu. Aku membanting kamar. Ayahku mengira aku sudah tidur. Kamarku memang cukup besar untuk meredam suara tangisku. Akulah manusia paling sial di dunia, pikirku. Aku inilah orang yang diberkahi semua kekayaan di dunia dan karenanya dilarang oleh penduduk dunia untuk meng-keluhkesah-kan kehidupanku yang sudah pasti bahagia. Bagaimana tidak, hidupku tidak pernah susah. Makan tersedia, uang tersedia, setiap toko menyambutku bagaikan ratu, mereka bergantung padaku untuk menyambung hidup. Banyak yang mau hidup seperti diriku.

“kalau aku jadi kamu, aku akan baik-baik sama ayahku, yang penting aku hidup enak. Haha. Kalau bapakmu sudah tidak bisa berubah, ya setidaknya kamu terima saja, daripada diusir dari rumah dan tidak bisa makan” sahut temanku dengan nasihatnya yang bijak.

“lebih baik jadi orang miskin dengan orang tua yang mencintaimu”, aku terus mengumpat.

“eh, kau kira segampang itu hah, gaji kamu sebagai pegawai kantoran mana bisa menghidupi hidupmu sendiri kalau kamu lari dari rumah, lebih baik bertahanlah… lagian dia itu masih bapakmu loh”

Temanku peduli pada kehidupanku. I have the best life that people can ever dream of , kecuali masalah dengan bapakku yang keras kepala itu. Huh. Kurasa sikap keras kepalanya menurun padaku…

Malam itu, aku menelpon dia, seorang teman kantorku, kemudian aku meloncat keluar dari jendela kamarku, dan berlari menuju rumahnya.

Benarkah hidup itu adil?

Rumah temanku ini ternyata sangat kecil. Hanya berukuran 4 x 10 meter untuk 3 orang penghuni rumah. Rumah yang tidak layak untuk ditinggali… Aku kembali terperangah saat memasuki rumahnya. Ia hanya menyewa sebuah kamar kost untuk ditinggali dirinya, adiknya, dan ibunya. Sedetik aku menyesal, kenapa aku harus ikut berhimpitan di dalam kamarnya. Pantas saja ia melarangku kabur ke sini. Empat orang berhimpit di dalam kamar sekecil ini jelas tidak manusiawi.

“Sudah kubilang kan, jangan kabur ke sini.” Ujarnya setengah tertawa seakan mengetahui pikiranku dari raut mukaku.

“Maaf ya merepotkan…” aku tidak bisa berkata apa-apa. Duh, kenapa aku memaksa untuk ke rumahnya tadi… pikirku…

“Duduk di sini saja”, ia menyediakan sebuah bantal untuk kududuki. Tidak ada kursi, hanya ada bantal dan meja pendek. Ruangan itu panas sekali… Ibu dan adiknya sudah tertidur lelap. Aku tidak enak meletakkan koperku yang otomatis mengurangi luas petak rumahnya.

“Mau ke kafe aja? Tidak leluasa bercerita di sini,” temanku yang satu ini memang pembaca pikiran

“Ah tidak apa-apa…”

Sepuluh menit kemudian, aku dan dia sudah berjalan menuju kafe di seberang rumahnya.

“Bagaimana kamu bisa tinggal di rumah sekecil itu?”

“haa? Kenapa membicarakan gubug tercintaku itu? Bukannya kamu mau cerita tentang bapakmu?” jawabnya santai sambil menyeruput kopinya. Wangi kopinya menusuk hidungku. Aku berusaha menahan diri. Aku tidak suka kopi, rasa pahitnya bisa mempengaruhi pikiranku selama berhari-hari.

“bagaimana kamu bisa hidup di rumah sekecil itu…” ujarku bergumam sendiri.

“buktinya aku hidup kok” ujarnya tertawa.

“tapi tidak ada privasi…”

“itulah yang membuatku dekat dengan keluargaku. Tidak ada sekat diantara kami. hahaha”

“yah kurasa begitu…” aku tertawa. Kasihan sekali dia… dan aku masih mengeluh ketika punya rumah yang besar dan luas. Aku tidak pantas mengeluh ketika aku memiliki semua kekayaan di dunia. Kenapa aku mengeluh ketika masalahku hanya muncul karena seorang bapak yang keras kepala…

“Barusan kamu mengasihaniku ya?” Ia sudah selesai menyeruput kopinya. Sekarang ia duduk menatapku dengan tenang.

Aku tergagap. Mana ada orang yang suka dikasihani. Tentu harga dirinya terluka. Dan lagi, bagaimana dia tau apa yang kupikirkan?

Ia tertawa senang. “Benar kan…”, ia melanjutkan kata-katanya setelah menarik napas “kau tahu? Sejak ayahku meninggal, ia tidak meninggalkanku apa-apa kecuali seorang ibu yang tidak bisa apa-apa dan adik yang masih harus sekolah, saat itu aku sudah bertekad”… ia memandang cangkirnya. “aku akan menjadi biji kopi”.

“haa?”

“ibuku menjadi sebutir telur” ia tertawa lagi “ia mengeluh setiap hari, menceritakan kepada semua orang bahwa hidupnya keras, bahwa ia sangat menderita, bahwa ia harus menjadi seorang pekerja keras demi kami, bahwa ia menjadi seperti ini karena kami, anak-anaknya, adalah beban hidupnya”

Aku terdiam. Apa maksudnya? Telur dan biji kopi? Apakah ia membenci ibunya?

“kamu pikir ibuku pantas mengeluh?”

Aku mengangguk. Ditinggal suami, terpaksa pindah ke kamar kecil yang tidak layak, dan kini harus bekerja meskipun sebelumnya tidak pernah bekerja… Pasti berat baginya. Wajarlah jika ia mengeluh.

Temanku tersenyum. “aku ingin menjadi sebuah biji kopi…” matanya menerawang. “yang ketika direbus dalam air panas… wanginya akan menyebar ke seluruh dunia… Aku ingin melakukan yang terbaik bagi semuanya… dan mungkin suatu saat… aku bisa menyadarkan seisi dunia, kalau manusia bisa mengubah seisi dunia dengan ketulusan hatinya…” ia mulai bermimpi… sebuah mimpi yang besar sekali.

“eh tadi kamu mau cerita apa?”

“ehh? Err… gak kenapa-napa sih…”

Aku menyeruput kopiku sambil berpikir… Ya, aku tahu cerita wortel, telur, dan biji kopi dalam air panas itu… Aku ini pasti sepotong wortel, yang ketika direbus menjadi sangat lembek…

Ketika aku bangun dari lamunanku, temanku itu sudah tertidur. Aku hanya memandangnya… si biji kopi… “terima kasih sudah menemaniku…” ujarku setengah berbisik, dan menghabiskan sisa kopiku.

Esoknya, tasku sudah tak ada di rumahnya. Aku kembali melalui pintu depan rumahku. Ayahku memandangku dingin “Ke mana semalam?” “ke rumah teman”. Jawabku tak kalah dingin. Aku naik ke kamarku. Aku akan menghadapinya… Aku akan menjadi biji kopi juga, tekadku.

Tapi mungkin hidup tidak semudah itu.

Setidaknya aku tidak membentak ayahku lagi.

Sebuah awal yang baik.

THE END

Do you ever think that maybe you were born to make other people feel better?

Comment: benar-benar tidak ada hubungannya sama gw :D. gw tidak ada di dalam sana. Ini benar-benar imajinasi aneh yang muncul karena melihat PATUNG DURIAN RAKSASA. Bingung? Sama. Gw juga bingung. Ada apa dengan durian??? Yang gw ingat, kali berikutnya, gw udah melamun dari Pondok Indah sampai Senayan. ==” … apa hubungannya durian dengan biji kopi? I don’t know. LOL. Tapi wortel, telur, dan biji kopi itu cerita klise yang gw rasa semua orang harus tahu. ^^. Cheers!

4 thoughts on “Si Biji Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s