One Simple Theory

Ini hasil pembahasan gw dan Jojo di saat mau mengaku dosa. Secara dia abis nonton Full Metal Alchemist, jadi dia bisa menyebutkan dengan lengkap 7 sins, sedangkan gw cuma ingat beberapa yang biasanya selalu nempel di diri gw. Yang gw ingat cuma envy sama sloth (hmm, gw ingat di FMA ada yang endut musuhnya, nah nama dia artinya greed).

Jadi yang mau gw tulis bukan hasil pengakuan dosa gw, melainkan percakapan kita sebelum itu. Kita berdua ngomongin “sloth”, kemalasan. Dan adek gw menunjuk pada teman-temannya yang sebagian besar nyontek dia kalau sudah saatnya mau ngumpulin PR Algo, bahkan lu bisa lihat di facebooknya, siapa aja yang minta jawaban PR algo ke dia. Lumayan… Sekarang dia punya koleksi email teman-temannya deh.

One Simple Theory: Student
Teori dia sebenarnya simpel aja. Lingkungan juga menentukan nasib seseorang.

Jojo: misalnya, A, B, C, D, E dalam satu kelas. Terus cuma A yang bisa ngerti PRnya. E tanya D, D gak ngerti. Semangat E agak turun, terus dia tanya C, eh C juga gak ngerti, dia jadi tambah malas, terus dia tanya B, ternyata B juga gak ngerti, yah semangatnya habis. Dia akhir-akhirnya gak ngerjain juga deh.
Gw: (ngangguk-ngangguk)

Gw bisa mengerti teori simpelnya, tapi kalau menurut gw, itu bukan semangatnya yang habis, tapi level ketenangannya yang bertambah, di mana pikirannya mengatakan “tidak apa-apa, kamu punya teman yang sama-sama tidak bisa mengerjakan. Kalau dapat nilai jelek, ya bareng-bareng”

Dalam kehidupan sebenarnya, mungkin tidak sesimple itu pada teorinya. Bisa saja E bertanya pada D, D tidak mengerti, E bertanya lagi pada D, siapakah yang mengerti, dan D akan merujuk pada anak paling pintar di kelas, atau kedua paling pintar, atau kalaupun tidak kenal yang paling pintar, ia akan merujuk pada yang kira-kira paling pintar di dalam kelompok pergaulannya.

Jangan dilupakan juga kalau anak pintar juga punya level kesabaran dan keterbatasan. Ada saatnya di mana ia akan jenuh mengajar dan memutuskan memberikan saja jawabannya secara langsung. Contoh kasus ekstrimnya adalah, misal, satu anak, ditanyai 60 anak. Tentu lelah bukan?

Karena itu, saat jumlah murid di dalam kelas mencapai 60 anak, dan hanya A sebagai seorang anak yang mengerti pelajaran itu, setelah dihitung dengan kemungkinan acak pun, sebagian besar murid mungkin tidak pernah akan berhasil berbicara kepada A untuk minta diajari, dan mereka akan mencapai level ketenangan, atau level kesepakatan yang sama, bahwa pelajaran itu sulit. Padahal jika mereka dihadapkan pada lingkungan yang berbeda di mana semua anak mengerti pelajaran itu, dan hanya dia yang tidak mengerti, mungkin dia akan berpikiran lain.

One Simple Theory: Teacher
Begitu juga mungkin guru tidak akan pernah berhasil membuat semua anak mengerti, dan di saat murid sudah menjadi terlalu banyak, Matthew Effect kembali bekerja. Ini adalah efek yang diambil dari ayat kitab suci, yang mengatakan,

For unto everyone that hath shall be given, and he shall have abundance.
But from him that hath not shall be taken away even that which he hath.
– Matthew 25:29

yang artinya literally,

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.
Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
– Matius 25:29

Pertama-tama, ini bukan usaha kristenisasi. Gw lagi nggak membaca buku religius. Gw lagi baca Outliers, dan kenapa dia ngambil dari kitab suci kristiani, hmm, mungkin karena dia seorang kristiani? Gw juga tidak tahu. But anyway, selagi membaca artikel gw, pastikan otak anda sedang berada dalam status logis.

[itu satu-satunya ayat di dalam buku Outliers, dan ada satu bab tersendiri untuk menjelaskan teori tersebut].

Back to topic. Tadi gw bilang Matthew Effect kembali bekerja. Bagaimana tuh? Ayat yang dipaparkan aja gak adil begitu. Masa yang udah punya akan berkelimpahan, terus yang gak punya malah akan diambil. Apa-apaan tuh? Harusnya kan yang udah punya, punya dia dibagi ke yang gak punya, biar adil. Ya gak?

Matthew Effect
Nah, kenyataannya hidup memang tidak adil. Pernah menyadari bahwa guru-guru di sekolah kalian lebih sayang sama teman-teman kalian yang pintar? Ini yang disebut Matthew Effect. Anak yang pintar, selain akan menarik perhatian guru, juga akan punya kesempatan lebih besar untuk bertanya, atau diajari hal-hal yang anak lain mungkin tidak akan dapat.

Bagaimana dengan anak yang notabenenya gak ngerti pelajarannya? Benar, dalam kenyataan, hidupnya di dalam kelas akan lebih sulit. Ia tidak mengerti, ia bertanya, dijelaskan oleh guru, tapi tetap tidak mengerti, dan karena guru harus lanjut menjelaskan, tentu ia tidak bisa menjelaskan sampai anak itu mengerti. Karena si anak tidak mengerti, akhirnya dia memutuskan untuk tidur saja di kelas. Dan dia tidak dapat apa-apa. In the end, semua akan diambil daripadanya.

Teori menarik? Temukan dalam part one buku Outliers (loh kok jadi promosi).

Terus bagaimana nasib anak-anak yang gak ngerti pelajaran ini? Mereka harus berusaha lebih keras saat berada di luar kelas. Sekedar duduk belajar sebelum masuk kelas? Mana cukup. Pada kenyataannya, anak-anak yang pintar, atau anak-anak yang kepintarannya telah diakui di level international, mereka semua sudah berusaha JAUH lebih keras dari yang lain (gw gak main-main dengan huruf kapital JAUH itu). Bahkan seorang jenius pun, kalau nggak dilatih, levelnya hanya sampai segitu-gitu aja.

Kalau kata Felix Halim, itu butuh pengorbanan. Sekarang pertanyaannya, ada yang mau mengorbankan waktu main dan waktu tidur? Nggak mau? Ya nasib. Ada loh orang yang mau mengorbankan waktu main dan waktu tidurnya untuk mengasah “pisau bakatnya”. Gw ingat teman gw nanya gw, kenapa gw pintar programming. Dalam hati gw ketawa, lah, kerjaan lu main plant versus zombie di kelas. Gw nyatet, merhatiin, sampai rumah, gw baca tutorial sendiri, gw habisin seminggu gw baca tutorial. Kenapa gw pintar? Haha. Lu kira gw bisa coding 1.5 tahun lalu? Itu hanya perspektif, kawan. Saya ini yang paling bodoh saat berada di komunitas lain.

Udah ah, mari masuk Conclusion
Duh laper… Langsung kesimpulan aja deh. So? Ada bakat apa yang mau diasah di tahun 2010? Ayo diputuskan. Lakukan 10,000 jam.

5 thoughts on “One Simple Theory

  1. Wogh.. +100 dari gw :)).

    Tapi bagi gw itu bukan “pengorbanan” sih :P, tapi “kesenangan” hihihi. Bagi orang yang memang hobi, dia bisa lakukan hal itu selama kesenangannya masih ada :).

    Kata beberapa orang, ini namanya adalah “Passion”. Tiap orang punya passion yang berbeda2, contohnya: ada orang hobi mancing, yang kerjaannya cuman duduk 1 harian nunggu mangsa… kalo gw mah gak bakal tahan :P

  2. nice post sis, walaupun Matthew Effect rada menyesatkan gitu hehe.. Anyway most people love to get what they want instantly, so it’s hard to do some ‘pengorbanan’ hehe…

  3. @FH: 100 nya bisa ditukar bakmi gak? wkwkwk. hmm… yup “passion” juga tepat. Dan karena punya passion, lu tidak merasa mengorbankan sesuatu, meskipun orang lain menganggap itu pengorbanan.. Okaayy, another new perspective! Got it :D!

    @someone: haha kalau menurut gw Matthew Effect ini bukan menjelaskan ayat alkitab, tapi kayaknya dia menemukan sepotong kalimat dalam ayat alkitab yang cocok sama penjabaran dia, jadi diambil deh biar keren. :P. Jadi memang tak ada hubungannya sama ayat alkitab,
    Ya, namanya juga manusia, dan sampai sekarang kita masih suka sama teori jadul ekonomi >> mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan kerugian sekecil-kecilnya. :)

  4. “Udah ah, mari masuk Conclusion
    Duh laper… Langsung kesimpulan aja deh. So? Ada bakat apa yang mau diasah di tahun 2010? Ayo diputuskan. Lakukan 10,000 jam.”

    quote ah.. 10 ribu jam, amen *cheers* :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s