Menit-Menit Terakhir 2009

Pukul 11.00, 31 December 2009
Hari terakhir di tahun 2009 aku habiskan di rumah. Suatu event yang tidak seperti biasanya. Aku tidak mengharapkan sebuah tontonan kembang api malam ini. Pukul 12 kurang, aku masih ngobrol sama teman aku di YM, saling bercerita tentang betapa anehnya kehidupan ini, betapa tidak pernah dewasanya manusia, betapa panjangnya jalan yang harus kita lalu tahun depan, betapa beratnya tanggung jawab kita sebagai seorang manusia. Aku beranjak dewasa… Dengan emosi yang kadang masih tidak stabil, aku tidak merasa siap untuk menghadapi dunia orang-orang ‘dewasa’ ini… But I know I have to.


Pukul 11:54, 31 December 2009
Suara kembang api makin kencang, ternyata ada kembang api banyak sekali tahun ini!! Aku berlari keluar balkon. Dan tidak lama papa mama menyusul, dan papa aku suruh aku panggil nenek, jadi aku lari ke bawah, panggil nenek ke atas, dan kita nonton kembang api gratis :D.

Suasananya terasa tenang dan membosankan. Kembang api di langit, bulan purnama bersinar terang dengan lingkaran halo, awan putih bersih (mana nih, kata BMG bakal hujan deras?? Bo’ong nih =.=).

Di sebelah kiri, anak-anak tetangga naik ke atap untuk nonton kembang api. Di sebelah kanan, sebuah rumah tetangga penuh sesak dengan sanak saudara yang berdatangan. Mereka main kembang api bersama. Ayahnya menyalakan kembang api, anak-anaknya meniup terompet. Bahagia sekali. Kita menonton sambil tertawa. Ayahnya adalah seorang pelaut. Jarang pulang. Namun sekalinya pulang, tetangga pasti tau, karena rumah itu akan ramai luar biasa. Kehangatan keluarga itu sungguh terasa. Ia adalah seorang ayah yang sangat melindungi keluarganya. Dan aku merasa tahun baru ini sangat terberkati dengan hanya memandang mereka yang meramaikan suasana jalan perumahan.

Aku memandang nenekku, pasti tahun ini adalah tahun yang berat baginya.

Sambil menonton, aku mengucap syukur “Terima kasih Tuhan, telah membiarkanku hidup satu tahun ini”. Dan aku liat mama juga berdoa. Dan aku menyadari bendera yang berkibar di depan rumahku. Benar juga, ada juga yang ditinggal orang tercinta di penghujung tahun… Selamat Jalan Gus Dur, kita mungkin tidak saling kenal, tapi kami kibarkan bendera setengah tiang untukmu

Hey, ini awal tahun yang bagus juga, pikirku. Pengalaman baru, menatap kebahagiaan orang-orang yang bermain kembang api… Waktu aku masih kecil, aku selalu main kembang api, kemudian saat aku beranjak remaja, aku selalu merayakan dengan temanku. Kali ini, aku hanya penonton. Menyenangkan juga, pikirku.

Pukul 00:27, 1 January 2010
Kembang api berakhir… Aku turun ke bawah, mendapati YM penuh dengan ucapan selamat tahun baru. Handphone penuh dengan SMS selamat tahun baru. Namun tahun ini semua ucapan selamat terasa tidak berarti lagi. Kurasa aku jenuh.

Banyak yang berubah tahun ini. Aku berdoa supaya aku lebih bijak lagi menghadapi betapa mengerikannya pikiran-pikiran manusia. Aku berdoa supaya aku dibimbing Tuhan untuk bisa membimbing orang lain ke arah yang lebih baik, entah hanya dengan mendengarkan, atau sekedar mendoakan.

Aku berdoa, supaya semua orang bahagia. Amin.

2 thoughts on “Menit-Menit Terakhir 2009

  1. @kijang: biasa :D lagi ‘ketiban’ bulan.. eh salah, maksudnya ‘kedatangan’ bulan. ~jiwa jadi melankolis amit-amit gitu deh~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s