CHASE EXCELLENCE, SUCCESS WILL FOLLOW

Setelah nonton 3 idiots, gw menyadari bahwa sebenarnya sistem dan budaya yang ada di dunia ini belum bisa menjadi pendukung untuk seseorang dalam menggapai mimpi-mimpinya.

Berbahagialah kalian yang suka belajar karena masuk universitas tidak menjadi suatu beban berat dan memilih jurusan bukanlah suatu keputusan yang menentukan nasib kehidupan kalian di masa depan.

I’m one of those happy people.

Dulu gw tidak pernah mengerti kenapa orang-orang benci sekali dengan sekolah, gw tidak pernah mengerti kenapa orang-orang belajar untuk mengejar nilai, menghafal karena takut nilainya jelek, belajar biar dapat gelar doang. Percayalah, tujuan dibuatnya institusi pendidikan bukan sekedar untuk mempersiapkan kita supaya bisa bekerja dengan baik dan bergaji besar, tetapi untuk mendukung kita supaya kita bisa menggapai mimpi-mimpi kita. Ingat masa-masa orientasi? Gw selalu memperhatikan visi dan misi sekolah dan kampus yang gw datangi dan gw bisa membayangkan betapa mulianya mimpi-mimpi mereka yang mendirikan institusi ini.

Dan kemudian akan segera muncul kalimat ini dari mulut beberapa orang “idealism never works in this world, my dear

Gw dulu tidak pernah mengerti. Sekarang gw punya sedikit clue: Mungkin mereka yang tidak suka belajar itu punya mimpi lain…? Bukankah menjadi pemain sepak bola tidak mengharuskan kita untuk memilih jurusan dan mendapatkan gelar sarjana?

Teman gw, anak jurusan Komputer, dan suka sekali dengan seni. Gw 100% mengakui, dia sangat berbakat seni, dan sangat mencintainya. Tapi dia gagal masuk tes jurusan DKV. Dan karena sudah mendapat beasiswa di jurusan Komputer, akhirnya dia masuk jurusan Komputer. Tersiksa selama 4 tahun. Gw tidak pernah mengerti kenapa dia rela mengkhianati mimpinya. Sejuta alasan bisa dilontarkan tentunya, coba gw list kemungkinan alasan yang bisa gw temukan.

  • kalau gw gak kuliah, nanti gw gak punya gelar.
  • kalau gak punya gelar, nanti gw gak bisa kerja, or gw bisa kerja, tapi gaji gw kecil
  • kalau gw gak kerja, atau gaji gw kecil, nanti siapa yang hidupin keluarga gw?

Kemudian keluar lagi nasehat ini “Life’s hard, dear. Face it“.

Jika anda setuju dengan nasehat di atas, berhentilah membaca artikel ini dan tutup blog gw.

If you’re still reading, I want to ask you one simple question:

Would you be happy with your life?

Akankah anda bahagia dengan hidup anda? Pergi kuliah, mengikuti sistem yang ada, dapat gelar, berhasil menghidupi orang tua, berhasil di mata semua orang karena lulus dengan IP 4, berhasil di mata orang-orang karena mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, tapi tidak pernah melakukan apa yang anda impikan?

Jika mimpi kalian memang adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar tanpa memikirkan pekerjaan apapun yang akan kalian kerjakan nanti, maka berbahagialah :D. kalian bukanlah orang yang termasuk dalam contoh yang gw ajukan. Mungkin kalian jatuh ke dalam contoh yang lain?

Anyway, ada nasehat penting yang dilontarkan oleh pemeran utama kepada temannya.

don’t fear today, Farhan, otherwise after 50 years when you’re old, lying down in the hospital, and waiting to die, you’ll think then, letter was in the hand, taxi was at the gate, if I had dared a little bit… life would be something else!”

Farhan adalah tipikal manusia yang sering gw temui. Kuliah karena disuruh orang tua. Bercita-cita jadi fotografer tapi dipaksa jadi insinyur. Ada teman gw yang bercita-cita menjadi businessman tapi disuruh jaga toko. Sebenarnya mimpi siapa yang kita penuhi? Budaya Indonesia penuh dengan aturan untuk berbakti kepada orang tua, menghormati orang tua, memenuhi mimpi orang tua yang sudah bersusah payah membiayai kita. Namun aturan-aturan itu TIDAK PERNAH mengatakan kita harus mengorbankan mimpi kita. Tanyakan kepada orang tua kita masing-masing, apakah mereka mau kita hidup bahagia? Apakah mereka mau kita mencapai mimpi kita? Apakah mereka menganggap pandangan orang-orang lain terhadap mereka lebih penting daripada mimpi anaknya sendiri?

Sewaktu SMA, gw selalu didorong oleh guru di SMA untuk menjadi dokter, selalu didorong untuk masuk universitas negri ternama. Alasannya? Supaya nama gw terpampang di papan pengumuman. Untuk siapa gw melakukan ini? Dua tiga hari setelah orang membaca pengumumannya, mereka akan lupa sama gw, dan gw akan terpaksa melakukan profesi yang tidak gw inginkan sama sekali.

Satu hal yang perlu diingat, menggapai mimpi, tidak pernah bertentangan dengan usaha kita untuk berbakti dan menghormati orang tua kita.

Back to topic, CHASE EXCELLENCE, SUCCESS WILL FOLLOW, adalah cara pandang yang mungkin cukup baru di pandangan beberapa orang. Kalimat ini menyelipkan sebuah tantangan untuk mereka yang tidak pernah berani melawan sistem di dunia ini.

“Gw kuliah biar nanti bisa sukses”

“Gw bermimpi supaya bisa sukses”

Jika kalian pernah melontarkan kalimat ini, pikirkan baik-baik, apakah itu sebuah kesuksesan? Apakah dengan menjadi kaya berarti sukses? Baik, mari kita ambil sebuah parameter kesuksesan di mata dunia.

Salah satu parameter kesuksesan di mata dunia adalah dengan menjadi kaya”

(Lihat saja bagaimana media menggembar-gemborkan daftar orang terkaya di dunia, di Indonesia, di Tangerang, di RT tempat tinggal kalian, atau lihat bagaimana orang tua kalian bercerita “eh si Anu kerja di perusahaan A, tiap hari bolak balik luar negeri, ke luar negri 5 kali seminggu (eh buset, tinggal aja di sono sekalian), gajinya 5000 US dolaaar lhooo, sukses banget yaa, orangtuanya pasti bahagia“, wait, orangtuanya bahagia?)

Di dalam film ini dijelaskan dua karakter yang benar-benar jelas, sebutlah A dan B, si A adalah seorang yang belajar sungguh-sungguh supaya menjadi sukses, dan si B (pemeran utama) belajar sungguh-sungguh demi menguasai ilmu tersebut dengan sempurna karena ia memang menyukainya.

Siapa yang lebih bahagia?

Di dalam cerita sih, semua berakhir sukses dengan definisi mereka masing-masing.

  1. Pemeran utama, bahagia, melakukan pekerjaan yang dia impikan, dan sukses sesuai dengan definisi dunia (which is menjadi sangat kaya)
  2. Dua orang temannya, bahagia, melakukan pekerjaan yang mereka impikan, dan sukses menurut definisi mereka, namun tidak menurut dunia, karena mereka kalah kaya dengan tokoh A.
  3. Tokoh A, sukses menurut definisi dunia, namun tidak pernah diceritakan apakah ia mencapai mimpi-mimpinya (tidak jelas apakah sebenarnya dia punya mimpi atau tidak, yang jelas sampai sekarang dia belum berhenti mengejar kesuksesannya sendiri)

Sutradara mengajak kita untuk merefleksikan kembali sesuatu dalam hidup kita. Apakah kita bahagia dengan keadaan kita sekarang? Apakah kita bahagia karena terpaksa mengikuti sistem pendidikan yang mengancam kita untuk bergaji kecil jika tidak bergelar sarjana?

I always remember my friend’s words …”jadi kaya itu gampang Fi… lebih susah jadi bahagia”…

Conclusion

Kejarlah mimpi kita, kalau belum menemukan apa mimpi kita, carilah. Tuhan menciptakan kita untuk suatu tujuan. Tidak perlu merasa menyesal jika memang salah jurusan saat ini, yang penting, mulai sekarang kita mencari cara untuk menggapai mimpi kita, supaya penyesalan itu tidak hadir saat kematian menjemput. Pesan dari film ini adalah, tidak perlu takut untuk tidak menjadi sukses. CHASE EXCELLENCE, SUCCESS WILL FOLLOW. Kalau punya skill, kenapa takut bergaji kecil? Kalau punya skill, kenapa takut tidak ada yang memerlukannya?

15 thoughts on “CHASE EXCELLENCE, SUCCESS WILL FOLLOW

  1. Setujuu!

    What people think you should do is not always the best, and other people’s choices do not necessarily work for you. Some people just don’t get it. Some people are plain lazy. Some people don’t have any dreams. Some people don’t have enough courage to choose. Some people just can’t. yadda yadda yadda…

    I’m happy that no one ever forced me to do anything, and I’m happy that I like what I’m doing.

    -Kurniady

  2. Ini film sih nampol… Tapi ada sesuatu yang agak sedikit beda dengan indo… di nih film nih, si pemeran utama, walau ngekritik / mengkoreksi dosen nya, penilaian untuk ujian dia pun tetap Objektif. lain hal kalo di indo… mostly yang terjadi di indo, mengkritik / mengkoreksi dosen, malah bisa2 nilai lu dibkin hancur ~_~ haish2… *Gw bilang, mostly lho ya ! kalo ada yang dosen, dan merasa tersinggung, y maaf… :P tapi itu kenyataan yang sering gw liat sebagai mahasiswa :D*

  3. @FH: nonton filmnya!! :D

    @kur: lu salah satu orang yang beruntung kur… :)). tidak punya masalah dalam memilih jurusan atau memutuskan untuk kuliah atau tidak, begitu juga gw…

    tapi tidak semua orang kayak kita-kita ini, ada orang-orang yang memang bermasalah dengan sistem dan kultur dunia. gw tau banget dilema temen gw waktu dia harus milih jurusan yang dia gak suka sama sekali, dia udah ngotot dengan segala cara biar gak perlu masuk jurusan itu, tapi orang tuanya kayak orang tua Farhan (dipanggil ‘hitler’ sama pemeran utama. wkwk), pakai senjata “duit buat sekolahin elo tuh duit gwe, jadi lu harus nurut sama gwe”. gitu deh… *sigh*. tapi bukan berarti kita harus menyerah kan :D. gw personally sih terus mendukung supaya setiap orang bisa mencapai mimpi2nya. ^^V.

    anw, daripada gw comment2 panjang terus, NONTON FILMNYA dulu baru comment!!! di indo sih cuma ada di Blitz Megaplex Pacific Place. Gak tau kalo di Sydney :D.

    @FJ: no comment :D. ada macam2 dosen di dunia, di film ini cuma dijelaskan satu-dua tipe dosen, pada kenyataannya, kehidupan kita jauh lebih bervariasi dari itu. hehehe.

  4. @FJ: yaa, tunggu aja di youtube. hehe. atau cari di rapidshare. tapi ngedonlotnya lama… mendingan minta di lu aja kalau mau nonton. wkwk.

    @brainplusplus: :)

    @chrysts: yes, indeed.

    btw, semester baru ini, hari pertama gw ngajar, gw kasih tonton film 3 idiots ini ke anak-anak gw :D (yes, melanggar syllabus seperti biasa!!! *siul2*). dan mereka tertarik, jadi mereka pada pergi nonton. sampai dua minggu ini gw masih denger mereka ngomongin tuh film. haha ^^. gw liat mereka skrg lebih niat belajar, semoga film ini berdampak baik ke mereka. ^^

  5. @Heru: kalo ketauan mah kena ban ID gw :D tapi karena gw punya banyak ID cadangan. >:) sebodo amat. huehue

  6. I’m one of those happy people..

    “Life’s hard, dear. Face it“

    I always remember my friend’s words …”jadi kaya itu gampang Fi… lebih susah jadi bahagia”…

    Fiona Fiona salam kenal..nama lo pgln lo fiona y?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s