Resiko

Keyword: Homeostasis, Resiko, Homeostasis Resiko,

Cerita berawal dari saat penulis membeli buku “What the Dog Saw” nya Malcolm Gladwell yang sedang di-DISKON 20%. Yes, as a woman, I love discount! Tentu saja diskon ini adalah benar membuat harga bukunya lebih murah karena gw tau harga standarnya di beberapa toko buku. And if someone calls me a “price tag”, I would definitely say, yes I am. Bukan karena gw suka menilai barang dengan harga, tapi itu sudah menjadi kebiasaan karena tempat jalan-jalan di daerah rumah gw itu semuanya supermarket >.< jadi otomatis gw jalan-jalannya selalu ke supermarket… dan karena ada 4 merek supermarket yang berbeda, gw jadi punya kebiasaan membanding-bandingkan… bahkan punya hobi untuk berlomba mencari barang yang lebih murah dengan kualitas serupa.. (dasar calon emak-emak…)

Anyway anyhow, buku ini berisi artikel-artikel si Tuan Aku-Senang-Aku-Sehat (Mr. Gladwell). Sejauh ini gw udah membaca tentang Pil KB, terus loncat ke pesawat Challenger, terus loncat ke Tukang Jual Kecap. Dan kemudian, sebagai anak IS yang senang menimba ilmu dan berbakti pada orang tua, gw sangat senang membaca buku yang isi artikelnya macam-macam kayak begini.

Dan hari ini, gw mau membahas tentang teori seseorang yang dibahas dalam buku si Tuan Senang dan Sehat (Mr. Gladwell)

Teori Homeostasis Resiko (Risk Homeostasis)

Penemu Teori

Gerald J.S. Wilde, a professor emeritus of psychology at Queen’s University, Kingston, Ontario, Canada

Teori

Teorinya mengatakan demikian: bahwa setiap manusia memiliki level penerimaan resikonya sendiri-sendiri (fixed level of acceptable risk). Ketika level resiko pada suatu bagian dari kehidupan manusia berubah, maka akan ada usaha tidak sadar yang dilakukan oleh manusia itu untuk membuat level resiko itu kembali ke level semulanya. Contohnya, supir taksi cenderung mengemudi secara lebih tidak hati-hati ketika mobilnya dipasangi anti-lock brakes (menurut hasil penelitiannya di Munich), atau pengemudi menjadi lebih berhati-hati ketika melewati pengemudi sepeda yang tidak pakai helm, dibandingkan dengan yang memakai helm.

Pada kasus mobil yang dipasangi anti-lock brakes itu, manusia jadi cenderung untuk mengemudi lebih cepat, cenderung untuk mengerem lebih keras, cenderung menjadi lebih berani untuk mengemudi secara ugal-ugalan. Pada akhirnya, usaha pengurangan resiko ini malah membuat mereka mengemudi secara lebih ugal-ugalan. “Kalau menurut ahli ekonomi, mereka mengonsumsi resiko, dan bukan menabungnya”

Dikatakan pula bahwa teori homeostasis resiko bekerja sebaliknya, kalau dibuat resiko yang lebih besar dari yang bisa dihadapinya, manusia cenderung lebih berhati-hati. Tahun 1960 di Swedia, pemerintah mengubah peraturan mengemudi di jalan dari menyetir di sisi kanan menjadi menyetir di sisi kiri, dan diperkirakan perubahan itu bakal menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas. Namun yang terjadi malah sebaliknya, orang-orang yang belum biasa menyetir dengan peraturan baru itu jadi cenderung lebih hati-hati. Setahun kemudian, angka kematian akibat kecelakaan menurun 17 persen sebelum akhirnya kembali ke tingkat semula.

Kesimpulan

Paul Slovic and Baruch Fischhoff, Decision Research, Eugene, Oregon

Antilock braking systems, airbags, seatbelt laws, traffic lights, speed regulations, are all part of mammoth efforts to reduce traffic casualties. But do these measures, and their counterparts in industry and public health, have the effects intended? In his theory of risk homeostasis, Professor Gerald Wilde postulates that they don’t, because they fail to influence people’s willingness to take risk.

Teori ini mengatakan, jika ingin mengurangi jumlah resiko A, bukanlah cara yang tepat jika melakukannya dengan usaha mengurangi kemungkinan terjadinya resiko A, melainkan dengan cara mengurangi keinginan orang-orang untuk melakukan resiko A tersebut.

Kontroversial? Begitulah. Seperti biasa, persepsi resiko yang baru ini menimbulkan banyak pemikiran juga di antara orang-orang yang membacanya. Namun begitulah adanya sebuah teori diciptakan untuk dipikirkan dan didiskusikan bersama di saat tidak ada thesis yang harus dikerjakan.

– The End, now left only 3 more weeks to finish 4 chapters of my thesis >.<… gyaaa –

11 thoughts on “Resiko

  1. Hmm.. Jadi kalo emang males bikin thesis, jangan melakukannya dengan usaha mengelak dari thesis dan menulis blog, melainkan dengan cara mengurangi keinginan menulis thesis tersebut >:), akan lebih effektif :P

  2. Coba gw jabarkan maksudnya si FH. hoho

    Resiko utama: Gagal TESIS

    penyebab resiko utama:
    A. gagal tesis karena malas nulis tesis
    B. gagal tesis karena waktu nulis tesis gak cukup

    Usaha mengurangi resiko A
    – nulis blog buat refreshing biar mood lagi buat nulis tesis.

    Apakah usaha itu membantu? Ceritanya nih, gw jadi refreshed dan kembali menulis tesis dengan baik.

    oke donk? :D, berarti usaha tersebut berhasil mengurangi resiko A.

    tapi kemudian, gw jadi merasa lebih tenang karena gw sudah menemukan cara mengurangi resiko A, gw mulai deh memanfaatkan (mengkonsumsi) usaha tersebut setiap kali gw malas nulis tesis. Tanpa gw sadari, gw meningkatkan resiko B

    Resiko B: gagal tesis karena waktu nulis tesis gak cukup

    apa penyebab resiko B? Karena gw kebanyakan nulis blog, waktunya kagak cukup buat nulis tesis. :D. tapi gw gak peduli karena anggapan gw, ah usaha A kan udah gw lakukan untuk mengurangi resiko utama tersebut.

    NAH, teorinya bilang kalau usaha ‘mengelak dan nulis blog’ itu gak membantu. Kalau malas, jangan cari alesan nulis blog, mendingan langsung aja turunkan “keinginan untuk menulis tesis” sebisa mungkin, nah saat itu, akan muncul suatu titik di mana elu merasa panik dan memperhitungkan semua resiko yang terjadi, dan kemudian menulis tesis dengan rajin, dan cepat =)).

    kurang atau lebihnya begitu :P, CMIIW, baru baca juga sih teorinya.

  3. si mr gladwell ada masukin faktor ‘harga yang harus dibayar untuk mengurangi resiko tsb’ gak ? kira2 ada pngaruhnya gak ya? klo cth anti-lock brakes ato pake helm, harga yg mesti dbayar user palingan kan keluar duit lbh banyak.

  4. @irene: harga yang mesti dibayar? ya efek pengurangan resiko yang besar, harga yang dibayar juga besar tentunya. *I know where your thought is heading to :D*

    tapi tidak dijelaskan dalam artikel nya si Mr. Gladwell, kalau mau baca lebih lengkap tentang penelitiannya, bisa download bukunya si professor, judulnya “Target Risk”

    oh ya, teori dia ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang, meskipun begitu, teori ini berlaku untuk beberapa orang juga. :D. jadi yaa menarik untuk dipelajari. haha

  5. @FL: pas baca blog yang ini, gw jadi ke inget situasi kelas dimana ada PR susah… lalu anak2nya tenang…. (tenang ada si X, tinggal nyalin :P).

    @FJ: saran buat elu: jangan jadi anak di kelas itu :P (except si X).

  6. @FH, wkwkwkkkwkwk… kok gw berasa jadi si Mr. X ya… =)) ini proyek2 semester ini, tiap ada proyek kelompok, pada bilang “ini codingnya, elu yang coding ya…” :-|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s