Kecerdasan

Another sharing from the book of “What the Dog Saw”. Ada penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli psikologi di Columbia University bernama Carol Dweck mengenai bagaimana seseorang memegang suatu kepercayaan yang lumayan kuat mengenai kecerdasan.

Seseorang biasanya memegang satu dari dua kepercayaan yang lumayan kuat mengenai kecerdasan:
Kepercayaan #1: Kecerdasan dianggap tetap
Kepercayaan #2: Kecerdasan bisa dibentuk atau dikembangkan

Penelitian #1
— Metode Penelitian —
Penelitian dilakukan di universitas Hong Kong yang menjalankan kuliah dalam bahasa Inggris. Dweck memberitahu sekelompok mahasiswa mengenai nilai bahasa Inggris mereka dan mereka ditanya apakah mereka mau ikut kursus untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

— Hasil Penelitian —
Mestinya bisa diharapkan bahwa semua yang bernilai rendah bakal ikut kursus. Tapi anehnya, hanya mereka yang percaya bahwa ‘kecerdasan bisa dibentuk’lah yang tertarik mengikuti kelas bahasa Inggris. Para mahasiswa yang percaya bahwa ‘kecerdasan itu tetap’ sangat takut kelihatan tidak mampu sehingga mereka memilih tidak ikut.

— Pembahasan —
“Para mahasiswa yang percaya bahwa ‘kecerdasan itu tetap’ sangat takut kelihatan tidak mampu sehingga mereka memilih tidak ikut. Para mahasiswa yang memandang kecerdasan mereka tak bisa berubah sangat memperdulikan untuk tetap bisa tampil cerdas, jadi mereka malah bertindak bodoh. Karena apa lagi yang lebih bodoh daripada melepas kesempatan mempelajari sesuatu yang penting bagi keberhasilan diri?”, komentar Dweck.

Penelitian #2
— Metode Penelitian —
Tes yang sulit diberikan kepada satu kelas siswa praremaja. Setelah selesai:
1. satu kelompok dipuji karena sudah berusaha keras
2. satu kelompok dipuji karena cerdas
Kemudian Dweck meminta murid-murid itu menulis surat kepada siswa sekolah lain untuk menceritakan pengalaman mereka.

— Hasil Penelitian —
Mereka yang dipuji karena cerdas enggan melakukan tugas-tugas sulit, dan prestasi mereka pada tes-tes sesudahnya mulai menurun. Selain itu, Dweck menemukan sesuatu yang luar biasa, 40% siswa yang dipuji karena cerdas berbohong mengenai nilai mereka dalam tes, menaikkan nilai mereka.

— Pembahasan —
Mereka bukan orang yang biasa berbohong, mereka pun tidak kalah pandai atau percaya diri daripada yang lain. Mereka sekedar melakukan apa yang dilakukan orang kalau ditaruh dalam lingkungan yang memuji mereka semata-mata karena “bakat” alami. Mereka mulai mengaitkan bakat itu dengan kepribadian mereka sendiri, dan ketika keadaan menjadi berat dan citra diri itu terancam, mereka repot menghadapi konsekuensinya. Mereka tidak mau mengambil kelas perbaikan. Mereka tidak mau menghadapi para investor dan masyarakat untuk mengakui kesalahan. Mereka lebih suka berbohong.

Jadi yang mana yang kalian percayai? Gw mengakui dulu gw merasa bahwa kecerdasan itu ada batasnya. Pasalnya meskipun gw suka pelajaran matematika, tapi gw tidak merasa kemampuan menghitung gw mengalami improvement selama 3 tahun. Waktu masuk kuliah, gw sempat mengalami masa di mana gw menyerah dan berkata kepada diri gw sendiri “Emang kemampuan gw cuma segini aja, ya udahlah, ngapain ngerepotin diri buat belajar terus?”. Untungnya sebelum kata-kata itu mengakar di dalam kepala gw, gw menolak menerima teori yang gw indoktrinasikan ke diri gw. Dan gw mulai belajar lagi dengan sungguh-sungguh, dan saat itu gw mulai merasa ada perubahan ketika gw bertekad untuk belajar lagi.

Gw mencoba mengatakan ke diri gw sendiri, bahwa gw masih bisa berkembang, bahwa kalau gw belajar, gw akan merasakan sesuatu yang berubah dalam diri gw, meskipun pelan, tapi pasti berkembang! Gw berhenti membandingkan diri dengan orang lain. They have their own rhythm of life. I have my own. As the quote says “Never compare yourself to the best others can do, But to the best you can do.” dan ketika gw mulai melihat kehidupan dengan perspektif hidup seperti ini, rasanya hidup jadi lebih menyenangkan. :D.

Pertama, gw tidak harus merasa cemas dengan orang-orang yang menjadi jauh lebih pintar dari gw dalam waktu yang lebih singkat, gw berhenti mencap diri sebagai orang bodoh.

Kedua, gw tidak merasa cemas mempertanyakan apakah gw telah kalah cepat dari mereka, apakah gw akan selalu berada di belakang mereka seumur hidup, dan apakah itu membuat hidup gw menjadi tidak berarti karena gw akan selalu kalah cerdas dibanding mereka.

Ketiga, gw tidak mencemaskan penilaian orang-orang lain terhadap gw. (Oh yeah, like they care. BUT. You would usually think of that, don’t you? Don’t you? YES).

Keempat, and the last but not least, karena gw tidak mencemaskan apapun, gw bisa fokus untuk meningkatkan skill gw, belajar apapun yang gw sukai, tanpa gw harus takut memikirkan bagaimana dunia akan menilai kecerdasan gw. Apakah gw dianggap bodoh di satu komunitas? Apakah gw dianggap pintar di komunitas yang satu lagi? Don’t bother :)

Fokus gw saat ini adalah: meningkatkan talenta gw dengan sebaik-baiknya supaya suatu saat talenta tersebut bisa berguna bagi sesama. Whatever it is. Oke, nasihat klise terakhir, apapun yang kalian lakukan, apapun yang menjadi pekerjaan kalian saat ini, suka atau tidak suka, lakukan dengan sepenuh hati. Ada rencana Tuhan di dalamnya, ada hal-hal yang selalu bisa kalian pelajari, ada seseorang di luar sana yang suatu saat nanti kalian bisa berikan semua hal-hal yang telah kalian pelajari dalam hidup ini. :)

ciao.

6 thoughts on “Kecerdasan

  1. hohohohoho….yes setuju sekali. setiap org cerdas, cuma kecerdasannya beda2 n cara u/mendevelopnya juga bisa berbeda2. sygnya ga semua org sadar. msh byk yg ‘pasrah’ aja ma level kemampuan mereka saat itu.

    syg banget ya pdhal dah dikasih Tuhan kepercayaan berupa kecerdasan tsb, tp krg maksimal dikembangkan…

  2. benar2.. kecerdasan itu bisa dibentuk, yg penting usaha.. sayangnya gw msh peduliu dgn penilaian org lain thdp diri gw (uhm, bukan soal kepintaran seh *narsis mode on). ;p

  3. @irene: iya… tapi tidak pernah terlambat untuk saling mengingatkan :)

    @koko: silakan :D

    @ipungmbuh: … halo pak :). blognya makin bagus aja nih. haha. saya suka liat foto-fotonya. :)

    @ika: hahahha. yah, emang perlu juga sih menampung dan mencerna nasehat orang,… kan bisa aja kita yang salah ya.. :P

    @cecep: halo pak cecep :D. makasih udah mampir, btw, blognya bagus juga :) (dah mampir2 juga kemarin. haha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s