Mendingan Gw.

Hari ini hari yang menyebalkan, karena gw menghabiskan 20% dari satu hari gw untuk mendengarkan keluhan orang-orang di sekitar gw. Betapa menakjubkannya bahwa ada orang-orang yang bisa melontarkan begitu banyak celaan dalam beberapa jam, menyebabkan orang-orang di sekitarnya menjadi sakit kepala…

tiba-tiba terdengar kalimat yang mengena di kepala gw, saat seseorang mengeluh “Huh, dia kan dihukum gara-gara melakukan hal A, mendingan gw, yang cuma ngelakuin hal B doang”. Gw tersentak. Hmmm… Akhir-akhir ini begitu banyak orang-orang yang saling membandingkan diri dengan orang lain (akibatnya, topik ini pun lagi hot di dalam kepala gw).

Tapi kalau biasanya orang-orang suka membandingkan kehidupannya dengan orang lain atas dasar rasa iri secara merasa rumput tetangga selalu lebih hijau, kali ini berbeda. Kali ini gw menyadari bahwa orang pun bisa saja membandingkan diri dengan orang lain dengan tujuan mendapatkan pembenaran.

“Ah si A korupsi 5 milyar, mendingan gw, cuma korupsi 1 juta doang”
“Ah si A suka jelek-jelekin orang terang-terangan, mendingan gw, ngomong di belakang doang, kan gak ketahuan”

Tidakkah ini sebuah pembenaran? Menurut pendapat gw, adalah suatu hal yang sangat berbahaya ketika kita melakukan pembenaran atas dasar tindakan orang-orang di sekitar kita saja. Apakah budaya yang korup bisa menjadi pembenaran atas tindakan korupsi yang kita lakukan? Bisa. Apakah budaya yang suka menggosip di kantor bisa menjadi pembenaran atas tindakan kita ikut menjelek-jelekkan orang di sekitar kita? Sekali lagi, bisa sekali. Sangat amat mungkin hal-hal seperti ini terjadi.

Sebagai seseorang yang senang berprinsip, gw selalu memastikan bahwa gw telah membuat standar prinsip yang benar untuk diri gw, gw punya sangat banyak waktu dalam perjalanan pergi dan pulang kantor, sehingga sepanjang perjalanan, gw selalu punya waktu untuk bertanya kepada diri gw sendiri “apa yang telah gw ucapkan dan pikirkan hari ini? Apakah berguna bagi orang lain? Apakah berguna bagi diri gw sendiri? Apakah gw mengucapkan sesuatu yang merusak pikiran gw?”

Gw tidak punya saran. Tulisan ini adalah tanda kesadaran gw bahwa adalah hal yang berbahaya ketika membandingkan diri dengan orang lain. Jika lingkungan bobrok, bisa saja kita ikut bobrok. Memang benar kita bersyukur jika lingkungan kita baik, maka kita terpacu untuk hidup dengan benar. Tapi untuk saat ini, apakah kalian bisa menilai lingkungan kalian baik atau buruk?

Dan inilah akhir perenungan gw pada jam perjalanan pulang hari ini… di akhir perenungan, gw hanya ingin mengatakan, bahwa gw memaafkan semua orang yang telah menyakiti gw secara perasaan, perkataan, maupun perbuatan, karena Tuhan telah menerima dan memaafkan gw apa adanya, maka gw pun berusaha menerima dan memaafkan semua orang apa adanya. :)

met tidur.

…dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami..” -diambil dari petikan doa bapa kami-

3 thoughts on “Mendingan Gw.

  1. hehehe….setuju sekali :)
    btw gara2 ngeliatin anak2 apprentice gw jadi makin bersyukur, ngeliat mereka begitu kompetitifnya n kykny ga gampang bgt ya buat masuk IBM :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s