Bersyukur?

Perusahaan tempatku bekerja sedang mengalami resesi. Atasanku hampir setiap hari lembur untuk mengejar target penjualan yang kurang. Hidupku tidak kalah sibuknya, hampir setiap hari aku menemaninya lembur karena aku adalah satu-satunya asistennya yang masih bertahan di sana.

Bulan Oktober, di suatu hari yang cerah, akhirnya ada tanda-tanda peningkatan pendapatan perusahaan berkat usaha kerasnya. Atasanku sangat senang. Tidak sia-sia ia lembur selama beberapa tahun terakhir ini. Teman-temannya menyelamatinya, mengatakan bahwa bos besar pasti akan menaikkan gaji dan jabatannya. Aku ikut senang, karena mungkin saja aku ikut kecipratan kenaikan gaji.

Waktu pun berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun.. pangkat yang diidamkan tidak kunjung datang, gaji yang diharapkan naik pun tidak kunjung terjadi. Atasanku mulai uring-uringan, dan aku menjadi satu-satunya tempat ia menumpahkan keluh kesah. Suatu hari di rumah makan padang, kami pun membicarakan hal ini.

Lebih tepatnya, ia mengeluhkan semua yang telah dialaminya kepadaku.

“Perusahaan ini tidak menghargaiku”, keluhnya sebagai kata pembukaan. “Mana apresiasi mereka terhadap hasil kerja kerasku??”, pertanyaan pertama pun dilontarkan. “Memangnya ucapan terima kasih saja cukup? Mau makan apa keluargaku?”, pertanyaan kedua dan ketiga pun ditembakkan ke telingaku.

Aku hanya diam mendengarkan sambil menikmati nasi padangku. Hmm… rendang dan sambal cabe hijau memang gak ada matinya!

“hmmm… yah, belajar bersyukur aja pak”, kataku sambil sibuk mengunyah rendang di mulutku… Duh, enaknya rendang ini… jerit lidahku kesenangan. Aku tidak begitu memperhatikan keluhannya, yah, memangnya aku bisa apa? Peranku kali ini kan memang hanya mendengarkan.

Atasanku terdiam. Ia sepertinya mencerna kata ‘bersyukur’ku dengan serius. Tiba-tiba saja, dari sebelah kanan, muncul seorang pengemis tua. Sambil terbungkuk-bungkuk ia memohon sedikit sedekah untuk makan. Atasanku menyodorkan seribu rupiah yang diterima dengan ucapan terima kasih dan berkat doa dari si pengemis. Ia pun segera berlalu.

Dan tiba-tiba seperti seorang bijak, ia berkata “memang benar sih, kita patut bersyukur. Lihat pengemis tua tadi… mau makan saja susah. Aku sudah mengelola uang yang aku punya sekarang dengan baik, sebenarnya aku hidup berkecukupan dan maksimal…”

Aku memandangnya sambil tertawa “wah, ada bagusnya pengemis tadi lewat ya. Bapak jadi lebih bersyukur,” ujarku sambil tersenyum. Tapi sebenarnya ada pertanyaan yang menggelitik di kepalaku. Aku melanjutkan perkataanku

“tapi pak… kalau begitu bapak berharap dia tetap menjadi pengemis yang miskin menderita donk?”

“ah, maksud kamu? Tentu saja aku tidak bermaksud begitu.”

“habisnya, bapak merasa bersyukur ketika melihat ada orang yang lebih miskin menderita dari bapak. Saya jadi bertanya-tanya nih, seandainya di dunia ini semua orang punya kehidupan yang sama dengan bapak, punya uang yang sama banyaknya dengan bapak, bapak bakal tetap bersyukur nggak?”. Tanyaku iseng.

Dia mencerna pertanyaanku dengan keras.

Mau jawab “nggak bersyukur donk, kan gw gak punya seseorang untuk dibandingkan lagi dengan gw”, kok rasanya salah…

Mau jawab “tetap bersyukur donk, gw akan cari alasan apapun supaya gw bisa tetap bersyukur”, tapi apa?

Akhirnya ia mencoba untuk realistis dan menangkal pertanyaanku “Wah, situasi itu tidak mungkin terjadi. Di dunia nyata ini, pasti ada yang miskin, dan ada yang kaya. Dan kita jadi bersyukur karena kita tahu banyak yang masih lebih menderita dari kita, dan kita juga jadi berjuang karena tahu ada yang lebih sukses dari kita…”

“kalau begitu orang yang paling menderita di dunia, tidak bisa bersyukur donk? Kan tidak ada orang lain yang lebih menderita daripada dia?”

Kali ini atasanku benar-benar diam. Sepertinya dia mulai kesal dengan pertanyaanku. “Jadi maksud kamu, aku berharap pengemis itu tetap miskin supaya ia bisa menjadi pengingat bagiku untuk selalu bersyukur?”

Aku membetulkan posisi dudukku menjadi lebih nyaman, dan menjawab dengan tenang “tidak bermaksud menyinggung lho pak, tapi kadang saya merasa seperti itu juga. Dulu saya bersyukur ketika ada orang lain yang lebih menderita dari saya, tapi kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, kalau saya tidak melihat orang lain yang lebih menderita dari saya, apakah saya masih akan bersyukur?”

Ia menangkap maksud pertanyaanku, karena kulihat ia mengangguk-angguk sambil menerawang. Entah ngantuk, bosan, atau memang sedang berpikir, tapi pembicaraan memang segera terhenti ketika ada dering telepon masuk, ternyata ada panggilan untuk rapat saat ini juga. Atasanku langsung berdiri “ayo, kita harus sana sampai jam 1 siang.”

Kita segera membayar nasi padang itu, dan beranjak dari sana. Sambil berjalan, ia melanjutkan pembicaraan

“jadi apa kesimpulannya?”

“saya belajar bersyukur untuk kehidupan saya karena Tuhan memberikannya demikian, dan bukan karena orang lain lebih menderita dari saya. Saya bersyukur karena saya diberikan lebih untuk membantu mereka yang kekurangan…”

“hmmmm…”

“sebenarnya, bukan hal yang salah sih ketika bersyukur melihat pengemis itu, tapi saya takut rasa syukur saya sebenarnya disebabkan oleh ketakutan dan rasa tidak aman dalam diri saya, dan bukan simpati yang membuat saya ingin membantu orang itu supaya mendapatkan hidup yang lebih baik.”

“… bagaimana kamu tahu rasa syukurmu itu disebabkan oleh rasa tidak aman atau rasa simpati?”

“hahaha, bapak serius amat. Yah, karena saya biasanya bersyukur abis liat pengemis, dan berpikir -wah, ternyata masih ada orang yang lebih menderita dari saya, terima kasih Tuhan karena Engkau masih menjaga saya sehingga saya tidak mengalami hal itu-, dan kemudian saya lupa sama pengemis itu, hati saya sudah tenang, saya lupa akan kehadiran si pengemis, yang sebenarnya mungkin membutuhkan bantuan saya… gitu pak”

“………..”

“kenapa pak?”

“…………..”

“bapak marah sama saya?”

“………………… kamu harusnya jadi filsuf aja, kata-kata kamu ribet amat, saya jadi pusing dengerin kamu ngomong.”

“lah… kan bapak yang nanya tadi…”

Kita hampir sampai ke kantor, ketika pengemis itu lewat lagi dari jauh. Ia sedang mengemis ke setiap orang yang duduk makan di sana. Atasanku mengomel

“tuhh saya jadi bingung mau bersyukur atau kasihan liat dia??? gara-gara kamu sih!”

“… wahh, itu bagus pak, itu artinya bapak mencerna perkataan saya, hehehe. Lagian pak, emangnya kalimat-kalimat semua filsuf itu ribet ya? Kalau saya ngomong ribet-ribet tapi gak ada maknanya, saya bisa disebut filsuf juga donk?”

“…. aaah! Bawel kamu! Udah kamu jadi bawahan saya aja seumur hidup! Jangan jadi filsuf!”

-Fin-

Apa yang menyebabkan anda bersyukur? Karena matahari yang cerah? Karena teman yang baik? Atau mungkin, karena anda baru saja membantu seseorang hari ini?

biasa deh, cerita fiksi lagi… semua peran di atas hanya ciptaan kepala gwe. Kagak ada satu tokoh pun yang nyata atau terilhami dari kehidupan nyata. Karangan tercipta karena bosan ngantri dan bengong di bus trans dua hari ini…

One thought on “Bersyukur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s