Kaya? *catatan renungan sambil ngelamun*

Sekali waktu gw ngobrol sama adek gw, mengenai … kekayaan?

Gw pernah denger kalimat berikut ntah di mana “kaya atau miskin sama saja tantangannya. Yang kaya tergoda untuk korupsi, yang miskin tergoda untuk mencuri.”

dalam arti, membuat gw memikirkan bahwa sebenarnya, menjadi kaya tidak membuat elu berbuat dosa lebih sedikit. Dan sebagai kebalikannya, belum tentu membuat elu berbuat pahala lebih banyak.

Kenapa demikian?

Karena semua kembali kepada diri masing-masing. Mereka yang lemah hati, dapat tergoda untuk korupsi ketika menjadi kaya, dan tergoda untuk mencuri ketika menjadi miskin.

Namun biasanya, orang-orang hanya sadar bahayanya menjadi kaya, sehingga banyak orang-orang yang menjadi waspada, cenderung takut, namun tetap mengalami godaan untuk menjadi kaya. Akhirnya, muncullah kalimat seperti “kalau dapat memberi lebih banyak, kenapa harus takut menjadi kaya?”.

Usaha untuk “menjadi kaya” menjadi sesuatu yang positif. Dan benarlah kalimat tersebut adalah sesuatu yang positif, tapi terasa janggal. Kenapa kalimat tersebut muncul? Kalimat ini sering dipakai oleh motivator untuk memotivasi orang-orang supaya tidak takut mencari uang lebih banyak, yang notabenenya adalah parameter penentu kekayaan.

Namun menurut gw, ada suatu flaw di sini, yaitu, apakah benar tujuan sebenarnya dari menjadi kaya adalah supaya bisa memberi lebih banyak? Karena menurut gw, memberi lebih banyak selalu dapat dilakukan oleh siapapun, yang berada dalam kekurangan ataupun kelebihan. Suster Teresa yang tidak punya apa-apa, dapat memberikan pelayanannya sepenuh hati kepada orang-orang miskin di India. Yayasan Tsu Chi, dengan semangat relawannya, dengan rajin mengunjungi orang-orang sakit dan terlantar, dan perlu dicatat, tidak semuanya kaya menurut dunia.

Dalam hati, gw merasa, bahwa gw harus berhati-hati ketika mencari sisi positif dari setiap hal, bisa saja itu menjadi pembenaran untuk celah dosa gw.

Yang perlu ditakutkan bukanlah keadaan menjadi kaya, namun berubahnya diri kita karena keadaan tersebut. Kalimat di atas memiliki suatu pertanyaan lain “jadi saat ini, anda tidak bisa memberi lebih banyak jika belum menjadi kaya?”, jika jawabannya ya, mungkin tujuan ada sebenarnya adalah menjadi kaya, dan bukan untuk memberi lebih banyak. Jika jawabannya tidak, maka kalimat di atas sudah menjadi tidak berarti lagi.

Mengapa takut pada keadaan menjadi kaya? Kaya, miskin, di bawah garis kemiskinan, apapun keadaan kita saat ini, tidak ada yang bisa mengubah usaha kita untuk memberi lebih banyak jika memang kita sudah bertekad.

Dan sebaliknya, dapat mengubah kita menjadi orang lain ketika keadaan itu datang…

jika tetap ingin menjadi kaya setelah membaca perenungan kurang kerjaan gw, jangan khawatir, saya juga ingin jadi kaya kok, tapi saya jujur, belum tentu akan bisa memberi lebih banyak dari kemampuan saya saat ini. Duh, terus kalau gw jadi kaya bagaimana ya >.< sia-sia dong duitnya gw pakai buat diri gw sendiri doang???

Bagaimana caranya supaya dapat memberi lebih banyak ketika bertambah kaya? Well, caranya mudah, belajarlah memberi lebih banyak mulai sekarang. dan tentu saja, tanpa mengharapkan pamrih, dan bukan dipakai untuk menyogok Tuhan biar kirim pahala ;).

Kemampuan untuk memberi bukanlah hal yang mudah. Dan kemampuan itu tidak seketika juga muncul ketika kita menjadi kaya.

 

salam kurang kerjaan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s