Abu-abu

Cerita ini, tentang langit hari ini yang warnanya abu-abu semua.

Pelajaran PPKN atau PMP (buat yang lebih tua, hehe), adalah pelajaran yang gampang sekali… Karena tujuannya adalah mengajarkan hal-hal yang esensi kepada anak-anak, maka setiap kali ulangan, selalu ada pola pasti untuk pilihan gandanya, yaitu, selalu ada satu jawaban yang membuat kita dianggap sebagai orang baik.

Ujian PPKN satu jam? Gampang, jadi “anak baik” satu jam, pasti nilainya bagus.

Soalnya pun cenderung sama terus… kalau di bab toleransi beragama, selalu ada pertanyaan:

Jika ada tetangga yang merayakan hari rayanya, maka tindakan kita adalah:
A. tidak melakukan apa-apa
B. menyalakan lagu keras-keras di dalam rumah
C. mengucapkan selamat hari raya kepada tetangga
D. … (ah biasanya gw gak baca pilihan D lagi, udah tau jawabannya)

Jawabannya C. Kenapa? Karena kita dituntut jadi tetangga yang ramah, jawaban A menunjukkan ketidakpedulian, jawaban B menunjukkan ketidak-toleransian, jawaban C jawaban paling benar, tetangga akan menganggap kita ramah dan peduli dan toleransi dan lain lain. Jawaban D… ah gak usah dilihat, lanjut… soal berikutnya…

Kemudian gw lulus SD dengan nilai PPKN yang cantik, dan masuk SMP. Kembali, dapat pelajaran PPKN lagi, jurus ‘anak baik’ waktu ujian selalu gw implementasikan tentunya, sampai suatu hari, keluar satu soal:

Kamu terlambat ke sekolah, dan kamu berlari ke sekolah supaya tidak terlambat, di tengah jalan, kamu melihat seorang nenek hendak menyebrang jalan. Tindakan kamu adalah:
A. melanjutkan berlari ke sekolah supaya tidak terlambat
B. menolong nenek menyebrang jalan
C. … (udah tau lah jawabannya B)
D. … (peduli amat)

Jadi jawabannya? Semua anak menjawab “B!!”, ibu guru menjawab, “salah, jawabannya A”.

Penjelasan ibu guru saat itu adalah “kalian tuh harus belajar bertanggung jawab. Tugas kalian kan sekolah, kalian sudah hampir terlambat, kalau kalian menolong nenek lagi, nanti kalian telat, terus dihukum donk”

gw shock. Okee… PPKN masa SMP tidak sesimpel menjadi ‘anak baik’ lagi…

sejak saat itu nilai pilihan ganda gw jelek. LoL. Sederhananya, karena si guru menjelaskan, ada konsekuensi yang harus kalian ambil untuk setiap pilihan hidup, gw jadi tidak bisa memutuskan, gw harus pilih yang mana:
1. menolong orang dan menanggung konsekuensi karena gagal menuntaskan kewajiban,
2. atau tidak menolong orang, dan tetap menuntaskan kewajiban.

Pilihan itu masuk ke wilayah “abu-abu”. Ada hal-hal yang “hitam” dan “putih” di dalam pikiran gw, misalnya, mencopet itu “hitam”, tidak nyontek saat ulangan itu “putih”. Beberapa hal bisa ditentukan mengikuti ajaran budaya, agama, dan lingkungan, beberapa hal lain tidak mudah.

Ketika suatu pilihan masuk ke wilayah abu-abu, sulit bagi seseorang untuk menghakimi dirinya sendiri. Wilayah ini adalah wilayah di mana segala sesuatu bisa terjadi. Wilayah di mana kita mengambil tindakan tanpa mengetahui dengan pasti apakah keputusan kita sudah tepat.

Soal nenek tadi pun tidak mudah diputuskan. Jawaban A saja mungkin tidak tepat, mungkin jawaban yang benar adalah A atau B, bukankah semua ada konsekuensinya? Namun pada saat itu, si ibu guru mungkin hanya mengajarkan satu hal kepada kita,

bahwa, tidak semua hal yang terlihat baik di mata kita, adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan.

Dan berita buruknya adalah, pilihan dalam hidup kita tidak hanya A, B, C, D.

… “kenapa ya bisa ada pasangan yang putus?”
… “because it just happens…”
… “tapi kan bisa dicegah?”
… “caranya?”
… “cari apa yang salah, kemudian perbaiki”
… “kadang ada kejadian, di mana si cewek terlalu sering ikut bakti sosial, dan membatalkan kencannya, akhirnya si cowok kesal dan minta putus, siapa yang salah?”
… “si cewek, karena gak bisa mengatur waktu”
… “kenapa bukan salah si cowok? Dia gak bisa toleransi ceweknya yang ingin berbuat baik”

haiz… *memandang langit yang sudah berwarna abu-abu*… JEDEEEEEEEEEEEEEEEEEEER… omg… bunyi guntur sekarang kayak bunyi bom di atap rumah…

 

If people do not believe that mathematics is simple, it is only because they do not realize how complicated life is. ~John Louis von Neuman

2 thoughts on “Abu-abu

  1. If people do not believe that mathematics is simple, it is only because they do not realize how complicated life is. ??? maknanya apa yah? can u explain 4 me?

  2. haha. artinya, kehidupan itu jauh lebih kompleks daripada matematika. Jadi ketika seseorang mengeluh tentang betapa kompleksnya membuat rumus-rumus matematika dan sebagainya, si John berkata “wah, masak baru liat matematika aja udah ngeluh rumit? hidup lo itu sendiri sebenarnya jauh lebih rumit loh” :P…

    a little thought from John Louis von Neuman (siapapun dia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s