The Tale of “Judi dan Togel”: Part 3

Jaman pun berubah, judi memang sudah tidak terlalu populer lagi, karena anak-anak mulai besar dan pindah ke kota, dan orang-orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk tidak berjudi.

Part 3 dari trilogi ini akan bercerita tentang bagaimana togel memiliki sedikit cerita manis di balik semua kejelekan yang diumbar-umbar.

Keluarga gw dulu termasuk miskin. Gw anak pertama, maka gw termasuk ikut mengalami masa sulit itu. Meskipun demikian, karena gw masih kecil, penderitaan itu tidaklah terlalu terasa. Makanan gw cuma telur dan nasi setiap hari. Menderita? Nyokap gw yang menderita menyuapi gw. Bokap gw bekerja keras untuk membeli susu. Tapi ada kalanya tidak cukup. Namanya juga baru merantau, masih berjuang di ibukota.

Dan suatu hari, saat gw berumur 4 tahun, gw mendatangi nyokap gw, dan berkata “mama… aku mimpi, ada kakek-kakek… kasih tau aku nomor…”, dan aku menyebutkan nomor itu. Nyokap gw bercerita kepada bokap gw. Dan bokap gw hanya diam tidak bereaksi.

Bokap gw pun memasang nomor ucapan gw, hanya karena iseng, kebetulan lewat kios porkas, dan dengan uang 2000 perak di kantong, memasang sebuah nomor.

Keesokan harinya, 6 kotak susu Promil dibawa pulang untuk gw. Uang 2000 perak berubah menjadi 120,000 perak, di saat gw sedang tidak punya susu untuk diminum.

Kejadian sama terjadi, ketika nama gw, tertulis di koran, sebagai salah satu pemenang undian. Ah, mana gw ingat. Nyokap gw bilang sambil tertawa “pokoknya itu anak, kalau lagi kehabisan susu, selalu aja ada uang untuk beli susu.”

Tapi keluarga gw tidak tergila-gila dengan porkas ataupun undian. Dua kali menang, dan kemudian, kita mensyukuri dua kali keberuntungan itu, di mana dua dus susu masuk ke perut gw. Kalau gw bilang Tuhan bekerja melalui cerita di atas, mungkin akan ada yang marah, mengatakan bahwa Tuhan, tidak akan bekerja melalui perjudian, dan mungkin itu adalah Setan yang bekerja.

Benarkah itu? Gw tidak tahu. Gw rasa, tidak ada yang bisa mengatakan secara pasti. Dan jikalau, tidak bisa memutuskan jawaban yang tepat untuk saat ini, simpanlah perkara dan hikmah apapun yang didapat dari cerita ini sebagai bahan perenungan.

Kemudian, adik gw lahir. Ia tidak mengalami kemenangan porkas seperti gw, karena keluarga gw memang tidak tertarik untuk main porkas ataupun sejenisnya lagi. Tapi ia sering sekali menemukan uang di jalan. Sungguh menarik, karena nominalnya lumayan besar-besar. 5,000 perak, sampai 50,000 perak. Jaman dulu, nominal itu termasuk besar sekali. Hal itu, senang dibanggakan oleh nyokap gw. Adik gw juga, memiliki frekuensi menang undian yang lebih banyak dibanding gw sejauh ini. Undian apa? Undian dalam snack makanan kecil, undian di dalam perkawinan, undian dalam acara tertentu.

Untuk apa hal-hal seperti itu diingat? Well, orang tua gw, punya cara yang menarik untuk mengajarkan kehidupan kepada kita berdua, di mana mereka berkata, bahwa kita adalah orang-orang yang dilindungi Tuhan jikalau selalu berbuat baik, bahwa kita akan selalu beruntung karenanya, dan kita harus bersyukur karenanya. Mereka selalu mengingatkan kita akan cerita-cerita keberuntungan yang pernah kita alami. Cerita-cerita keberuntungan itu, adalah cara untuk membuat gw dan adik gw yang masih kecil bisa percaya bahwa kita adalah benar-benar beruntung.

Karena itulah, gw adalah orang yang beruntung. Bukan karena gw menang lotere saat kecil, bukan karena gw pernah menang undian beberapa kali, tapi karena gw mengerti cara menjalani hidup yang menurut banyak orang adalah pahit, dengan penuh rasa bersyukur.

Gw sudah jarang menang lotere. Namun mengingat bahwa Tuhan ada untuk kita, memberikan kita cerita-cerita manis di dalam setiap bagian dari hidup kita, mengajarkan kita untuk berbahagia mengingat setiap keberuntungan dalam hidup kita, orang-orang yang masih berada di samping kita, kesedihan yang membuat kita menyadari bahwa masih banyak orang yang peduli kepada kita sebagai seorang teman dan saudara.

Dan inilah bagian akhir dari trilogi Judi dan Togel. Tulisan ini dibuat untuk bokap, nyokap, adik, nenek, dan semua keluarga yang bisa gw ingat, sebagai suatu kenangan di masa gw tua nanti, jika memang nanti gw diberikan umur panjang untuk menceritakannya kembali kepada anak cucu gw.

-THE END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s