The Tale of “Judi dan Togel”: Part 1

Pada jaman dahulu kala, di kota kelahiran gw, di masa nyokap gw masih anak-anak, dan nenek gw masih emak-emak, budaya kongko-kongko orang-orang setempat adalah, silaturahmi sambil berjudi. Tiap malam, di rumah nenek gw dulu, bisa 3 kloter, 1 kloter 10 orang, duduk melingkar, main kartu, sambil minta disuguhin kopi. Kopi bubuk di rumah pun habis tak tersisa, sampai harus menarik uang kopi dari tiap orang untuk menyeduhkan mereka kopi.

Pada jaman dahulu kala, dari dulu sampai sekarang, bermain judi adalah ilegal, sehingga bisa sampai ada 3 kloter berada dalam satu rumah, tanpa tertangkap, adalah suatu keajaiban, dan suatu keberuntungan. Memang ada suatu kali, ada polisi datang menginspeksi dengan pura-pura meminjam toilet. Tapi untungnya saat itu, semua orang sudah pulang. Dan sejak saat itu, semua orang menjadi takut berjudi lagi.

Pada jaman dahulu kala, nenek dan nyokap gw bercerita, bahwa ada suatu kebiasaan polisi-polisi di sana yang sangat menarik, yaitu mengarak-arak orang-orang yang tertangkap berjudi sambil diberitakan lewat speaker. Kalau kata nyokap gw “diumumkan keras-keras, kayak penjual peralatan rumah tangga plastik yang lewat sambil teriak-teriak seribu tiga! Seribu tiga!”

Pada jaman dahulu kala, ketika nyokap dan bibi gw lagi asik ngobrol sambil nongkrong di jendela rumah, tau-tau saja, ada arak-arakan polisi… dan bibi gw berkata… “lohhh itu bibi kitaa!!”, yang mungkin bisa gw panggil tante saja karena bingung mau sebut apa. Jadi tante gw tertangkap dan diarak-arak. Tante gw bersama teman-temannya tertangkap, dan diarak-arak sepanjang jalan, sambil diumumkan “inilahhhh oraaang oraaang yang tertangkaaap berjuudiii bla bla bla”. Dan karena diaraknya masuk gang, maka keluarlah semua orang.

Dan karena pada jaman dahulu kala, di kota kelahiranku yang kecil itu, semua orang saling kenal, maka yang terjadi adalah, mereka ditertawakan sejadi-jadinya oleh para tetangga “yaaaah, udah tua masih maen judii”. Dan karena polisi jaman dahulu pun sudah mengenal uang tebusan, maka tante gw dan konco-konconya tidak bisa lepas dari bui sebelum ditebus. Dan karena kita semua miskin… terpaksalah meminjam uang dari tante di Jakarta. Tante di Jakarta, tentu kagetnya bukan main “HAAA? MASUK PENJARAAA??? KENAPAA?”, yah kalau bisa dilebay-lebaykan, begitulah kira-kira reaksinya. Tapi kemudian, uang tebusan pun dikirimkan, disertakan dengan bonus tertawaan dari tante di Jakarta.

Sejak saat itu, kapoklah orang-orang berjudi. Meskipun masih sedikit-sedikit, sembunyi-sembunyi. Namun rasa kapok itu ada dan sungguh terasa.

Cerita ini menarik, karena, Satu, arak-arakan polisi itu benar-benar menimbulkan rasa malu luar biasa. Lebih efektif daripada langsung dikirim ke penjara dan kemudian keluar diam-diam.

Dua, Reaksi tetangga-tetangga pun sangat menarik. Tidak kasihan ato pura-pura bersimpati, malah menertawakan terang-terangan. Meskipun menambah rasa malu, namun menurut gw, itu adalah reaksi yang sangat jujur. Ledekan dan tertawaan bercanda kecil yang diterima setelah diarak, akan jauh lebih baik, daripada pengucilan dan gosip di belakang.

Salah satu aspek terjadinya hal ini, menurut gw, adalah karena mereka semua sadar, bahwa mereka semua pernah melakukan hal tersebut. Karena itu, toleransinya pun tinggi. Semua orang pernah berjudi. Yang kapok, tidak melakukannya lagi, yang tidak kapok, kena getahnya, yaitu ditertawakan, namun tidak dikucilkan. Kesadaran bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan yang sama, ternyata bukan hal yang buruk. Bukankah indah, kalau orang berbuat salah, tidak kita kucilkan, namun hanya kita ‘sentil’ sedikit rasa malunya, supaya ia berpikir untuk berubah?

Just my two cents~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s