The Tale of “Judi dan Togel”: Part 2

Pada jaman setelah judi, muncullah togel, atau menurut bokap gw, adalah singkatan dari “toto gelap”. Kenapa disebut Toto, yang jelas-jelas mirip merek kloset, gw tidak tahu. Yang jelas, ‘gelap’ artinya ‘ilegal’.

Entah mulai kapan, banyak orang tertarik berjudi dan main togel. “Nenek, kakek, bibi, paman, dan tetangga-tetangga, semua suka”. Begitu klarifikasinya. Entah benar atau tidak. Gw tidak tertarik untuk memeriksa kebenarannya. Yang jelas, judi dan togel, menjadi trend untuk kongkow-kongkow. Kalau menurut nenek gw yang sudah hampir kepala 90, dulu mereka main, untuk adu intuisi, adu jago. Kalau sekarang sabung ayam dengan probabilitas menang 50:50, maka judi togel, kemungkinan menangnya tergantung jumlah angka yang dipasang. Kalau pasang dua angka, maka kemungkinan menang saat pasang satu nomor adalah 1 / 10^2. kalau pasang tiga angka, maka kemungkinan menang per satu nomor adalah 1 / 10^3, dan seterusnya. Yang gw tahu, cuma ada sampai 4 angka, maka kemungkinan menang untuk satu nomor adalah 1 / 10^4. bisa menang judi togel sepertinya memang lebih membanggakan daripada menang sabung ayam kalau dilihat dari kemungkinan kemenangannya.

Gw pernah baca tulisan di kasino Sydney, bahwa kemungkinan menang di kasino adalah, 0.01%. kecil bukan? Tapi tetap saja, orang suka menghabiskan uang di kasino. Begitu juga di kota kelahiranku. Dulu sepertinya masih banyak yang percaya dengan tukang ramal togel. Menurut cerita nenek gw, ada orang-orang yang sangat ‘desperate’ dalam mencari tafsir togel, sampai mereka mengikuti si tukang ramal togel ke WC – yang jaman dulu masih terbuat dari bambu, dan kotoran jatuh ke sungai – untuk menghitung jumlah kotoran si tukang ramal, kemudian ditulis untuk nomor togel.

Meskipun menurut kita absurd di jaman sekarang, untuk mengikuti seseorang ke toilet dan menghitung jumlah bunyi ‘plung’ di toilet, tapi sepertinya, pada jaman dahulu, hal tersebut adalah sesuatu seperti hiburan tersendiri. Namun tentu saja, karena ilegal, ditutuplah semua.

Sambil bercerita, nenek dan ibu gw menyebut-nyebut ‘KONI’, yang sepertinya adalah nama lain dari lotere resmi di jaman dahulu. KONI itu Komite Olahraga Nasional, Kino itu merek permen kopi… eh tidak nyambung. Jadi, si lotere untuk KONI ini, sempat menjadi favorit, sampai kemudian terjadilah suatu hal. Saking niatnya orang-orang membeli togel, terjadi suatu insiden, di mana banyak sekali orang menang, sampai bandar di kota kelahiran gw bangkrut.

Setelah itu, tidak ada cerita lagi. Bagaimanapun, tetap ada yang namanya porkas, yang sepertinya juga dilegalkan oleh pemerintah. Gw tidak tahu bagaimana ceritanya si porkas ini. Yang jelas, saat gw tahu yang namanya porkas, gw tahu bahwa ada satu kios kecil dekat rumah gw, tempat orang-orang berkumpul di malam hari, dengan lampu neon terang tergantung. Saat itu gw masih TK atau SD. Tapi ingatan itu begitu jernih.

Kesimpulan dari cerita ini adalah, dari dulu sampai sekarang, orang-orang masih punya hasrat untuk mendapatkan uang dengan cara cepat. Irasional? Tidak masalah. Namanya juga dicoba tokh, kalau sukses, sukur, kalau nggak, yaaaa, namanya juga usaha.

Gw tidak akan berkomentar ataupun menilai norma dan budaya dari cerita yang gw ceritakan itu. Semuanya adalah cerita, dan semuanya adalah pelajaran. Orang-orang kemudian belajar, bahwa berjudi dan bermain togel tidak membuat mereka menjadi kaya, atau menjadi lebih baik. Seperti yang direfleksikan oleh bokap gw di akhir cerita “semuanya, tidak baik.” titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s