Centennial Day of Services

Minggu lalu adalah hari yang sibuk sekali buat gw. Jadi jadwal gw hari Sabtu – Selasa kemarin adalah sbb:

  • Sabtu, 12 Juni 2011, menyiapkan presentasi untuk forum eII hari Senin, lihat-lihat software KidSmart untuk volunteer work hari Minggu, ke gereja.
  • Minggu, 13 Juni 2011, ikutan Centennial Day of Services dari IBM di mana kita semua akan mengajak anak-anak penderita kanker dari Dharmais untuk main-main pakai software KidSmart, terus juga ikutan lomba mewarnai dengan anak-anak itu.
  • Senin – Selasa, 14 – 15 Juni 2011, ikutan konferensi eII 7 th di ITB, Bandung

Sabtu, 12 Juni 2011

Jadwal hari sabtu tidak berjalan dengan lancar karena waktu yang sudah gw sediakan untuk membuat presentasi, malah gw pake buat nonton 49 days. Akibatnya, presentasi gw tidak selesai. Hohohoho… I blame Korean movies! >.<

Tapi meskipun begitu, tetap saja gw mendulang dua keping DVD Korea lagi dari teman gw untuk gw tonton hari-hari berikutnya. Sigh , ini sudah masuk tahap addiction … not good… not good…

Sorenya, gw ke gereja, dan sepulang dari gereja, gw dan teman gw makan McD dulu sambil ngomongin video-video Stanford di youtube, dari “ In Defense of Humanities ” sampai “ Mathematic Gives You Wings ”, terus dia mampir ke rumah ambil software untuk acara besok, cobain kaos, ngomongin film, dan mencari cara untuk sampai ke Dharmais dengan selamat.

Minggu, 13 Juni 2011

Nah, hari Minggu adalah hari yang melelahkan dan sekaligus menyenangkan. Gw dan teman gw berangkat jam 7 dari rumah untuk menuju ke RS. Dharmais. Acara mulai jam 8.30 pagi. Tapi kita sampai jam 9. kita santai-santai aja soalnya jam 8.30 – 10.00 itu acaranya cuma speech speech doang gitu lho.

Sampai sana, kita mutar-mutar untuk cari pintu aulanya, dan menemukan bahwa sudah banyak orang yang datang, dan tentu saja masih speech speech di depan. Gw duduk dan mulai tengak tengok, rata-rata volunteer udah dapat anak-anak yang akan dibimbing, tapi karena gw datang terlambat, tidak ada yang mengarahkan gw ke anak-anak yang belum dapat pembimbing.

Sekitar jam 10, acara pun dimulai. Semua kursi ditarik ke meja-meja yang sudah disusun khusus untuk menaruh laptop masing-masing. Oh ya, karena kita akan main software dengan anak-anak, jadi masing-masing dari kita harus bawa laptop sendiri-sendiri. Karena laptop kantor gw termasuk berat, jadi gw bawa laptop pribadi dari rumah.

Kemudian mulai deh para volunteer buka softwarenya, sedangkan gw masih celingak-celinguk, siapa yang harus gw ajak main ya??? Sementara gw celingak celinguk, ada orang tua yang datang dan bilang ke gw “mbak, anak saya belum ada pembimbing…”, dan karena gw masih ‘kesepian’ di sana, tentu aja gw langsung “oh saya aja pak!”… dan dengan semangat bergerak ke anak itu. Si anak kayaknya habis dikemoterapi karena kepalanya bulat plontos, dan dia pakai masker, plus suaranya kecil. Jadi gw agak bermasalah menangkap apa yang dia katakan. Tapi ternyata gw tidak berjodoh dengan si Reja ini, begitulah kata ibunya ketika gw menanyakan namanya. Si anak umur 6 tahun ini langsung dibajak oleh seorang kakak yang sudah menyiapkan laptop dan juga ‘kesepian’. Karena gw belum siapin laptop, tentu aja si anak lebih memilih ke kakak yang itu donk. Hiks.

Sementara gw meratapi naseb (lebay ah), ibunya si Reja bilang ke gw “yang itu juga belum ada pendamping tuh mbak”, dia menunjuk temannya, dan pergilah gw ke anak itu. Yang ini suaranya juga kecil, tapi setidaknya tidak pakai masker, jadi gw bisa membaca gerak mulutnya deh.

Namanya Eka, umur 7 tahun. Dan gw jadi teman main dia hari itu. Err… lebih tepatnya, laptop gw jadi teman main dia hari itu. Pertanyaan basa basi gw adalah “Eka, nanti besar mau jadi apa?”… dan dia menjawab malu-malu “mau jadi guru…”… ahahaha, cita-cita yang luhur nak, pertahankan ya…

Kemudian kita mulai main software KidSmart. Gw udah pilihkan beberapa game yang menurut gw asik, dan ternyata dia suka juga. Sip. Jadi sementara dia main, gw jadi cheerleader setiap kali dia berhasil menyelesaikan misi gamenya. Kemudian si bapak Suryo Suwigno mampir karena merasa gw berisik banget teriak-teriak di samping anaknya melihat gw semangat sekali. Well, si bapak emang lagi mondar mandir menyapa setiap volunteer . Sepertinya kita dan si orang tua dari Eka sempat ngomong-ngomong soal bagaimana si software bisa membantu anak-anak untuk belajar sambil bermain.

Waktu main hanya satu jam. Kemudian jam berikutnya diisi dengan lomba mewarnai. Tiap anak dapat 7 buah spidol warna warni yang muahaaaal dan mau gw bawa pulang kalau bisa untuk mewarnai tas kain yang sudah ada pola gambarnya. Kerennya si spidol ini washable . Jadi tasnya bisa dicuci lagi, terus diwarnai lagi… gw mau gw mau gw mauuu.

Lomba mewarnai pun dimulai. Ketika melihat spidol, si anak langsung tahu apa yang harus dilakukan. Dia pilih warna, ambil spidol, dan langsung mewarnai. Gw… gw sebenarnya mau banget ikut mewarnai, tapi gw merasa tidak adil kalau gw ikutan membantu, dan gw rasa dia akan lebih bangga kalau dia mewarnai tas dia sendiri. Jadi gw jadi asisten pribadinya untuk menutup kembali tutup spidol.

Si anak ini, sepertinya jago benar mewarnai, sampe gw tercengang-cengang. Gw nanya ke bapaknya “udah sering ikut lomba ya pak?”, dan si bapak bilang “iya”. Aih, sudah kuduga. Kemudian si ibu ikutan memberi saran warna kepada si anak, dan si anak menuruti. Sebenarnya gw sebagai seseorang yang selalu bermain sesuka hati dengan warna-warna, merasa tidak senang karena ibunya mendikte dia dengan warna-warna… tapi ya, mungkin si anak perlu diperkenalkan dengan warna-warna? Dia masih masa pertumbuhan gitu lho. Haha…

tapi kemudian gw menyadari si anak jadi takut salah. Ketika ibunya pergi, dia kayak “mamaaaa, yang ini warna apa??”… dan akhirnya gw membujuk dia untuk memilih warna yang menurut dia kira-kira cocok. Dan toh pilihan warna dia cocok-cocok aja… meskipun dia tetap aja cemas dan tanya ke gw “warnanya mati gak?”… wues… anak kelas 2 SD bisa nanya gw soal ‘warnanya mati’ ato nggak. -__-…

akhirnya gw memberi nasihat bijak “gak ada yang salah dalam mewarnai…” iya toh? Namanya juga kreativitas. Gak ada kan yang bilang warna merah harus sebelahan sama kuning terus, atau abis warna terang harus warna gelap. Ya suka-suka aja, namanya kreativitas gitu lho…

Waktu mewarnai pun habis, anak-anak maju ke depan untuk dinilai, dan anak gw masuk babak semifinal, tapi tidak masuk final. Yang masuk final, semuanya mewarnai dengan gradasi.. hebat hahaa (entah dibantuin pembimbing atau nggak, yah namanya juga senang-senang :P)

Acara pun dilanjutkan dengan foto-foto dan makan siang. Mulai deh para volunteer mondar mandir membagikan makanan ke bapak ibu dan anak. Sementara si anak gw sudah kembali ke mejanya… dan dia menuntut untuk main game lagi. Oke, gw bukain. Dan tanpa gw ajarin, dia bisa tau cara mainnya, plus dia tau option untuk explore dan Q&A … dan dia bisa milih-milih game sesuka dia. Dan dia sudah kenal tombol back setelah gw beritahu satu kali. Kayaknya anak gw emang pinter, secara volunteer lain masih sibuk ngajari anak-anak lain berkali-kali, yang ini bisa bergerak tanpa gw ajari.

Sementara anak-anak lain udah asik makan-makan, anak gw masih asik main laptop sambil disuapin emaknya. Gw yang cemas karena baterai laptopnya udah mau abis. Dan benar, setelah dua jam ++ dia bermain, habislah batere laptop gw, dan muka dia manyun… “laptopnya dimatiin…”… dan si ibu bilang “heh, mana bisa si kakak matiin laptop dari jauh”. .. dan gw merasa seperti tertuduh, wahahaha.

Sambil gw beres-beres laptop, tau-tau aja ada ibu dengan tampang hampir menangis berdiri di samping gw. Dia stress banget, dan dia cerita ke gw, kalau anaknya gak mau makan, habis kemoterapi selalu maki-maki ibunya… “ibu goblok!” dia mencontoh kata-kata anaknya dan muka dia memerah menahan air mata “hati saya sakit dibilang begitu…”. Sementara gw kalau udah dihadapkan dengan keluhan, cuma bisa mendengarkan dengan speechless karena gak tau mau ngomong apa… gw cuma bilang “sabar ya bu…”

… huff… jadi ibu memang berat, harus siap dengan segala konsekuensi… jadi para wanita, jangan coba-coba jadi ibu ya kalau memang belum siap :)

Acara pun berakhir setelah kita membagi-bagikan souvenir untuk anak-anak. Gw makan siang, sementara yang lain beres-beres. Kemudian pulanglah gw dan teman gw… menggotong laptop, ngantri 1 jam di halte busway Grogol, ketiduran di busway, dan makan Sushi di Sushi Kiosk. Hohoho.

Sorenya kita lanjut ke toko buku, cari buku mewarnai dan krayon. Sepertinya napsu mewarnai bangkit lagi setelah membantu si anak mewarnai hari ini.

Sekitar jam 6 gw sampai rumah, dan langsung lanjut menyelesaikan presentasi untuk hari Senin. Saat mau tidur, gw menyadari… punggung gw sakit karena mengangkut laptop seharian =__=… gw cuma bisa berdoa semoga besok gw tidak encok-encok…

Note:

oh ya, tanggal 26 Juni akan ada volunteer event dari IBM lagi dengan tema Children for Jakarta Green , so stay tuned !!

2 thoughts on “Centennial Day of Services

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s