Tuhan dan Hari Ketujuh

Note: this is purely an imagination being created when I was bored ;)

Diceritakan bahwa, Tuhan, pencipta manusia, senang turun ke dunia dan menyamar menjadi manusia untuk bercakap-cakap dengan manusia. Tuhan akan turun pada hari ketujuh menurut perhitungan manusia, dan menginap semalam di rumah mereka yang mau menerimaNya sembari mendengarkan keluh kesah serta permintaan manusia itu.

Pada suatu ketika di hari ketujuh, turunlah Tuhan menuju tempat tinggal manusia. Ia menyamar sebagai seorang kakek tua berjanggut yang membawa buntalan. Tuhan senang menyamar menjadi orang-orang sederhana. Sekali ia turun ke dunia dengan menyamar menjadi janda tua yang kehilangan tangan kanannya. Sekali lagi ia turun menjelma menjadi bapak berumur 40 tahun yang baru saja bangkrut dan kehilangan tempat tinggalnya. Sekali lain ia turun menjelma menjadi seorang anak laki-laki yang bekerja menjual susu dari rumah ke rumah, dan seterusnya. Manusia senang sekali ketika Tuhan datang. Mereka menanti-nanti kapan Tuhan akan muncul di rumah mereka. Namun mereka yang menanti, tidak pernah didatangi. Pada saat mereka tidak menanti, mereka akan didatangi. Begitulah Tuhan memperingatkan manusia untuk selalu berjaga-jaga setiap saat.

Alkisah di desa tempat Tuhan akan turun hari itu, hiduplah seorang anak muda yatim piatu yang sehari-hari bekerja mencari kayu bakar. Ia adalah seorang yang ambisius dan rajin. Ketekunannya membuatnya berhasil menabung sekantung uang emas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tuhan telah memutuskan untuk menginap semalam di rumahnya hari itu. Anak muda ini tidak mengetahui hal itu. Ia tetap mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Malamnya ia pulang dan menyiapkan tungku perapian untuk memasak makan malam. Namun ada hal yang menggelisahkannya malam itu. Ia baru saja berbincang-bincang dengan temannya siang itu, dan temannya mengatakan bahwa Tuhan bisa mengabulkan apapun yang diminta oleh manusia selama manusia itu percaya kepadaNya dan meminta dengan penuh kepercayaan. Ia berpikir apakah hal itu mungkin terjadi karena menurutnya, Tuhan tentu saja berhak untuk menolak mengabulkan permintaan manusia.

Saat ia sedang berpikir, muncullah seorang kakek tua di depan pintunya. Mengetuk lemah, dan memohon untuk diijinkan menginap semalam karena sedang dalam perjalanan panjang menuju ke desa sebelah. Anak ini membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia karena Tuhanlah yang datang dengan wujud manusia. Memang pada jaman dahulu, manusia masih dapat mengenali Tuhan karena hati mereka belum tertutup tebal oleh pikiran-pikiran kotor duniawi. Anak muda ini sangat senang dan terkejut. Ia mempersilahkan ‘kakek Tuhan’ untuk masuk. Kakek Tuhan tersenyum. Ia tahu apa yang ada di pikiran anak muda itu. Namun diurungkanlah niatNya untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Anak muda itu menyediakan roti dan susu hangat untuk si kakek. “Hanya ini yang aku punya, kek… silakan dinikmati”, ucap anak muda itu dengan rendah hati. Kakek mengambil dan memakannya dengan riang. Ia menyukai roti dan susu yang dibumbuhi dengan sikap kerendah-hatian.

Tuhan menikmati roti dan susu itu pelan-pelan sambil bercakap-cakap. Suasana malam itu sangat hangat di dalam rumah si anak muda. Tuhan adalah seorang yang humoris, dan anak muda itu sangat menikmati setiap kata-kata yang telontar dariNya. Si anak muda menceritakan bagaimana ia mendapatkan banyak kayu hari ini, dan bagaimana atasan dan teman-temannya memarahinya hari ini tanpa sebab, dan bagaimana ia kemudian menemukan bahwa mereka mengerjainya karena hari itu adalah hari ulang tahunnya, dan bagaimana ia merasa beruntung dikunjungi olehNya malam ini.

Tuhan mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia ikut tertawa dan menimpali. Anak muda ini merasa seakan-akan Tuhan sangat mengenalnya dan tidak jarang ia akan terkejut dan berseru “benar kek! Seperti itulah yang aku rasakan!”. Anak muda itu ingat nasehat dari penatua desanya “tidak ada manusia yang tidak memiliki satu orang teman pun di dunia ini, karena setiap manusia memiliki Tuhan sebagai teman terbaiknya”. Benarlah nasehat penatua, pikir anak muda itu. Pembicaraan pun berlangsung seru, tidak terasa sudah larut malam. Anak muda itu ingat kata-kata temannya siang itu, dan menanyakannya kepada Tuhan.

Benarkah Tuhan akan mengabulkan apapun yang dimintaNya jika ia meminta dengan penuh iman? Begitulah pertanyaan anak itu. Tuhan tertawa, dan menjawab, benarlah, ia selalu mengabulkan setiap permintaan. “tapi jawabanKu tidak selalu iya”, jawab Tuhan dengan muka jenaka. Anak muda itu mengernyit. “Ada kalanya, dan hampir setiap saat, aku memberikan apa yang jauh lebih baik dari yang diminta manusia”, jawab Tuhan dengan bangga. Anak muda itu tambah mengernyit. “oh?”, komentarnya terkejut. Ia tidak pernah menyadari hal itu. Tapi Tuhan kemudian menimpali lagi “tapi sayangnya, manusia kadang tidak menyadari hal itu.” Anak muda itu tertawa malu dan mengakui bahwa ia tidak menyadarinya… Tuhan tertawa “tidak apa, manusia telah aku bekali dengan kemampuan untuk bertumbuh. Adalah pilihannya untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik, dan adalah kebahagiaanKu untuk membimbing mereka ke jalan yang lebih baik. Pada saat kalian bertumbuh, adalah wajar ketika meminta hal-hal yang kurang bijaksana” Anak muda itu mengatakan bahwa ia pernah meminta hal yang kurang bijaksana seperti ketika ia meminta Tuhan untuk menjodohkannya dengan putri tuan tanah supaya ia tidak perlu susah payah mencari uang dengan mencari kayu bakar lagi. Sudah 5 tahun berlalu sejak permintaan itu ia ajukan kepada Tuhan, namun tidak kunjung terpenuhi. Namun kemudian siang ini, ia menyadari bahwa ia menikmati hasil kerja kerasnya, dan bahwa ia menikmati hidupnya bersama teman-temannya yang menyenangkan.

Tuhan tertawa terbahak-bahak. “ya ya, aku ingat permintaanmu itu, dan aku masih mengingatnya sampai sekarang.” Anak muda itu tersipu malu, permintaannya telah terkabul sekarang. Ia menyadari bahwa permintaannya saat itu menandakan dirinya yang tidak dapat menerima kehidupannya yang menurutnya serba berkekurangan, namun sekarang ia menyadari bahwa hidupnya ternyata telah sangat berkecukupan.

Malam di rumah anak muda itu menjadi terasa singkat dengan kehadiran Tuhan. Waktu berjalan begitu cepat dan tanpa terasa sudah waktunya Tuhan untuk melanjutkan perjalananNya. Anak muda itu mengantarkanNya sampai ke ujung hutan dan mengucapkan salam semoga berjumpa kembali. Tuhan terkejut dan berkata “Aku selalu bersertamu, apa maksudmu semoga kita berjumpa kembali?” Tuhan tersenyum “ingatlah itu, aku siap sedia setiap saat, dan kau selalu bisa menghubungiKu melalui doa-doamu setiap malam”. Anak muda itu tersenyum senang “Aku tahu Tuhan, aku hanya terlalu sering lupa… baiklah, aku akan menghubungimu setiap hari!” ucapnya dengan penuh semangat.

Pagi itu, Tuhan dalam wujud seorang kakek tua, melanjutkan perjalanannya. Ke mana ia pergi, manusia tidak tahu. Mungkin ia pergi mengunjungi rumah lain, mungkin ia kembali ke kediamanNya, mungkin… dan mungkin… Tuhan masih turun ke dunia pada setiap hari ketujuh, namun saat ini manusia sudah kesulitan untuk mengenaliNya karena lemahnya hubungan mereka dengan Tuhan. Namun Tuhan masih berusaha dan dengan tekun mengunjungi setiap manusia, dengan harapan besar yang tidak pernah sirna, bahwa manusia akan mengenaliNya melalui penyamaranNya sebagai sesama manusia.

.The End.

2 thoughts on “Tuhan dan Hari Ketujuh

  1. Saya mau cerita pengalaman nyata yg pernah saya alami sendiri. Di depan gang sana, ada seorang perempuan tua yang selalu duduk meminta-minta dgn mangkok kecilnya. Biasanya saya cuma lewat begitu saja, berbulan-bulan lamanya.. Sampai suatu hari Tuhan berbicara kepada saya melalui firman-Nya,

    “Kalau seseorang yang berkecukupan melihat saudaranya berkekurangan, tetapi tidak mau
    menolong saudaranya itu, bagaimana orang itu dapat mengatakan bahwa ia mengasihi Allah? Anak-anakku! Janganlah kita mengasihi hanya di mulut atau hanya dengan perkataan saja. Hendaklah kita mengasihi dengan kasih yang sejati, yang dibuktikan dengan perbuatan kita. Demikianlah caranya kita mengetahui bahwa kita tergolong anak-anak Allah yang benar, dan hati kita dapat tenang di hadapan Allah. (1 Yohanes 3:17-19, Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari)

    Saya kaget setengah mati ketika membaca teguran ini. Lantas keesokan harinya saya memberikan masakan yg saya buat sendiri kepada perempuan itu. Keesokan harinya, saya bertekad melakukan hal yang sama tapi perempuan itu menghilang entah kemana. Sampai sekarang saya masih mencari tapi tidak pernah menemukannya lagi. Selama ini, seakan-akan saya ditunggu oleh perempuan itu sampai saya sadar apa yang harus saya lakukan. Terima kasih atas pengajaran-Mu Tuhan..

    Baca kesaksian saya yang lain di http://lukisanhidup.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s