Tuhan secara ‘hati’ dan ‘pikiran’

Note: ini catatan renungan dari kotbah di gereja minggu-minggu lalu…

Ada mereka yang selalu merasakan kehadiran Tuhan ketika mendengarkan lagu-lagu religius tertentu dengan karakteristik tertentu, namun kehilangan perasaan itu ketika lagu berhenti diperdengarkan. Inilah Tuhan secara ‘hati’

Ada mereka yang merasakan kehadiran Tuhan ketika berada di tempat-tempat suci dan khusyuk karena berpikir bahwa sudah sepantasnyalah Tuhan hadir di tempat yang suci, namun kehilangan perasaan itu ketika mereka berada di tempat yang, menurut pikiran mereka, tidak pantas untuk adanya kehadiran Tuhan (contoh: mall, bar, dsb)

Secara sederhana, demikianlah penjelasan Tuhan secara ‘hati’, dan Tuhan secara ‘pikiran’.

Pengenalan Sejati akan Tuhan

Dalam kenyataan, penjelasannya menjadi lebih rumit. Tuhan secara hati dan pikiran manusia, mendorong manusia untuk membentuk karakter Tuhan sesuai dengan yang mereka kehendaki. Pada kondisi ekstrim, kita dapat kehilangan pengenalan yang sejati akan pribadi Tuhan.

Yang ingin ditekankan di dalam penjelasan ini adalah, pentingnya berdoa sebagai satu-satunya sarana untuk menghubungi Tuhan. Manusia membaca dan melakukan tafsir terhadap kitab suci untuk mendapatkan pengenalan akan Tuhan. Namun sebagai makhluk yang kompleks, kita harus mengakui, ketika kitab suci dibaca oleh 30 orang, dapatlah muncul 30 tafsiran berbeda mengenai Tuhan. Ketika demikian, ada kalanya kita menggunakan konsep kuantitas untuk mendapatkan pembenaran daripada suatu pemikiran. Ketika lebih banyak orang yang setuju akan suatu pribadi akan Tuhan, maka lebih benarlah pemikiran tersebut. Apalagi, manusia memiliki kecenderungan untuk membaca dan memikirkan hal-hal yang mereka ingin pikirkan saja. Mereka hanya ingin membenarkan hal-hal yang ingin mereka benarkan.

Doa adalah salah satu cara untuk mengkonfirmasikan karakter Tuhan yang sebenarnya. Ketika kita bercakap-cakap dengan Tuhan, ketika kita memohon sesuatu, ketika kita meminta petunjuk, kita belajar juga untuk mengenal diriNya secara lebih dalam.

Tetapi dalam doa itu sendiri, ada kalanya kita memaksakan karakter Tuhan dalam pikiran kita ke dalam doa yang kita ucapkan

“Ya Tuhan, aku tahu Engkau selalu mengabulkan permintaan apapun yang kuminta dengan sungguh-sungguh, karena itu, kabulkanlah permohonanku”

Ada kalanya kita ingin mengubah karakter Tuhan, sehingga Ia menjadi seorang pengabul permintaan semata. Kita mungkin selalu mengucap “namun terjadilah padaku menurut kehendakMu” di akhir setiap doa, namun menjadi bertanya-tanya ketika kehendakNya tidak sesuai dengan kehendak kita.

Menyadari bahwa ada sesuatu yang berbahaya dari pikiran dan perasaan kita, marilah kita belajar untuk mendapatkan pengenalan sejati akan Tuhan yang tidak berdasarkan pada hati dan pikiran kita semata. Betapa baiknyalah jika kita belajar menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita setiap saat, mendengarkan Tuhan berbicara dalam setiap doa kita, dan bukan selalu kita yang berbicara dan menuntut tiada henti kepadaNya.

Mereka yang berdoa selalu, bukanlah mereka yang berlutut mengambil sikap doa 24 jam sehari, melainkan mereka yang bisa merasakan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka dalam setiap detik kehidupan mereka.

One thought on “Tuhan secara ‘hati’ dan ‘pikiran’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s