Deindividuation: an unproven-simple approach

*iseng mode on*

Gw suka kesal kalau jalanan lagi macet, dan pengendara-pengendara mobil tidak mau berhenti saat lampu merah. Hari ini terjadi lagi. Ada dua lampu merah, dari selatan, dan dari arah timur. Dua-duanya mau menuju ke arah yang sama, tapi mobil dari dua arah sama-sama gak mau ngalah. Mobil bokap gw yang dari arah selatan, harus rela kehilangan kesempatan bergerak saat lampu sudah hijau karena mobil dari arah timur tetap jalan ketika lampu mereka merah. Akibatnya mobil-mobil dari arah selatan ikutan marah, jadi tetap jalan ketika lampu sudah merah. Dan akibatnya, mobil-mobil dari arah timur juga marah, jadi semua gak ada yang mau ngalah.

Akibatnya? Macet total. Inisiatif? Dua tiga mobil di depan gw dengan sadar memberhentikan mobil mereka saat lampu sudah merah. Gw memuji tindakan mereka untuk tetap tertib. Nah, ketika lampu sudah hijau, sudah saatnya donk mobil (termasuk mobil gw) dari arah selatan bergerak maju. Tapi sayangnya, mobil-mobil dari sebelah timur yang lampunya sudah merah, tetap gak mau berhenti! Benar-benar menyebalkan. >.<…

Teori

Kemudian gw ingat satu hal. Deindividuation. Heh heh heh… this might work (smirk).

Metode Penelitian

Ketika mobil-mobil dari timur itu mulai menerobos lampu merah lagi, dan ketika posisi mobil gw sudah tepat di depan mereka, dan mereka MASIH mau menyerobot ke depan mobil gw:

  1. Gw buka kaca mobil
  2. Gw liatin oknum #1: ibu-ibu dengan mobil ukuran sedang (gw masih gak bisa membedakan jenis mobil sampai sekarang). Ketika gw liatin, dia langsung otomatis memberhentikan mobil, dan pura-pura gak liat gw.
  3. Mobil gw lewat, eh ada satu mobil putih mau nyerobot lagi. Kali ini oknum #2: bapak-bapak… yang dengan manisnya gw liatin… dan begitu kita bertatap mata, dia langsung berhentiin mobil dan buang muka.
  4. gw: (ckckckckck)

Hasil Penelitian

Eksperimen gw kali ini… sepertinya… berhasil? hihihi…

Kemarin-kemarin gw pernah membaca yang namanya deindividuation.

(Psychology) the loss of a person’s sense of individuality and personal responsibility

ketika orang-orang bergerak di dalam suatu identitas kelompok, mereka berpotensi kehilangan identitas, idealisme, atau moral pribadinya. Contohnya, ketika tawuran, semua orang akan mendukung perbuatan kelompok sekalipun mungkin hal tersebut tidak sesuai dengan moral pribadinya. Mungkin karena mereka berpikir, ah mayoritas, kalau gw dihukum, dia juga harus dihukum, kalau polisi gak ngenalin dia, kenapa dia bakal ngenalin gw, kemungkinannya kecillah, dan seterusnya.

Contoh lain adalah ketika orang-orang yang dipenjara, diwajibkan untuk memakai topeng supaya tidak mengenal satu sama lain, dan identitas nama setiap orang dihilangkan. Akibatnya mereka juga dapat kehilangan identitas pribadi dan bergerak mengikuti identitas kelompok saja.

Analisa

Pada kasus mobil-mobil yang ikut-ikutan mobil depannya untuk menyerobot, pada awalnya gw berhipotesa bahwa mereka melakukan hal yang sama. Jadi yang gw lakukan sebenarnya cukup simpel, yaitu mengembalikan rasa individu mereka. >:). Dengan usaha gw untuk berusaha memandang muka mereka, gw berharap mereka akan mendapatkan perasaan bahwa gw berusaha mengenali muka mereka, dan mungkin akan menempelkan perbuatan menyerobot ini nantinya kepada image mereka.

Kesimpulan

Gw tidak menyangka mereka akan berhenti di detik mereka menatap mata gw. Karena kalau mereka tetap maju setelah menatap mata gw beberapa detik, gw akan menganggap percobaan gw gagal.

Kesimpulan dari percobaan ini? Hmm… Hidup di daerah komunitas yang terlalu padat, seseorang sepertinya berpotensi lebih tinggi untuk kehilangan pribadinya sendiri dan mengikuti identitas kelompok… Kalau kelompoknya bermoral baik, tertib, beretika, ya baguslah. Kalau tidak?

Hahhh… hanya bisa menarik napas…  

4 thoughts on “Deindividuation: an unproven-simple approach

  1. Bisa jadi bapak2 ama ibu2 tadi serem ngeliat tampang lu kali, Fi :P

    Wogh… susu minta ditatap yah!
    Ayo Fi, buka kaca, tatap mata susu :P
    Tatapannya harus sama seperti pas natap bapak2/ibu2 itu yah!

  2. @suhendry: ………. saya anak baik-baik… (A)… *menatap dengan tampang baik-baik*

    @FH: hakakaka, itu juga udah dipertimbangkan, makanya sebelum buka kaca, gw udah mempersiapkan ekspresi se-polos mungkin (berusaha gak memperlihatkan tampang marah),

    tapi karena orang-orang suka salah paham sama muka polos gw yang gak beda dengan muka datar gw yang gak beda dengan muka bete gw… gw akan perlu eksperimen lebih lanjut untuk membuktikan kalau mereka bukan berhenti karena takut liat muka gw, hihihihi :P…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s