Battle Hymn of the Tiger Mother

Dan… gw menuntaskan buku kedua pada hari yang sama. Bacaannya cukup ringan sepertinya untuk buku setebal 200 halaman.

Ini salah satu isi dalam bukunya. http://online.wsj.com/article/SB10001424052748704111504576059713528698754.html

ternyata gw udah pernah baca tulisan dia di internet, karena saat gw dengan bersemangat menceritakan buku ini ke teman2 gw, mereka bilang “Ini sama kayak link yang lu kasih kita dulu ya?”. Dan gw baru sadar kemudian. Oh, ibu yang sama toh.

Baiklah, apa isi bukunya?

Pertama-tama, ibu ini membuat stereotype mengenai orang cina dan orang barat yang lumayan sempit. Tapi gw mengerti maksudnya. Tanpa membuat stereotype ini, dia tidak bisa maju dan menulis buku seperti ini. Manusia terlalu kompleks untuk dibuat dalam sebuah buku 200 halaman. Tapi setidaknya dengan membuat stereotype ini, dia bisa menjelaskan bagaimana cara dia berpikir dan bertindak. Dalam tulisan ini, gw akan tetap menggunakan definisi stereotype dia untuk ibu Cina demi kemudahan penulisan saja.

Kedua, meskipun judulnya adalah Cara Mendidik Anak Agar Sukses ala China, kesimpulan akhir pada bukunya mengatakan bahwa dia menyerah dan akan mencoba pendekatan hybrid. Karena itu, judul ini tidak relevan. Judul yang relevan adalah judul aslinya, Battle Hymn of the Tiger Mother, karena isinya banyak tentang pertentangan dalam dirinya sendiri, dengan anaknya, dengan suaminya, dan bahkan dengan anjingnya. Gw bisa bilang, dia sendiri masih merasa labil dengan keputusannya dalam mendidik anak.

Mengenai karakter si ibu, banyak hal yang gw kagumi. Kegigihan dan harapannya terhadap anak-anaknya benar-benar tinggi. Tapi dia tidak tahu cara lain untuk menunjukkannya selain memaksa anaknya untuk mempelajari hal-hal yang menurut dia baik. Dia orang yang percaya bahwa anak-anak tidak dapat membuat keputusannya sendiri secara bijaksana karena umur mereka belum mencukupi. Orang tua gw pun demikian (tidak seekstrim itu). Tapi gw beruntung, karena pikiran gw sejalan dengan cara pikir orang tua gw.

Dia punya dua anak, Sophia (sulung) dan Lulu (bungsu). Sophianya penurut, dan Lulunya pemberontak. Begitu yang bisa ditangkap dari cerita ibunya sih, tapi menurut gw, Sophia kebetulan jalan pikirannya sejalan dengan ibunya, dan Lulu kebetulan juga punya jalan pikiran yang berbeda dengan ibunya. Namun bagaimanapun keduanya tetap dididik dengan keras menurut cara ‘Cina’. Ermm… orang Cina itu gigih. Kegigihannya mengerikan. Latihan 5 jam sehari itu normal. Gw melihat coder-coder sukses dari Cina yang saat diwawancara, menjawab: “tiap hari kontes 5 jam, dan masih ada tugas-tugas untuk diselesaikan”… waktu ditanya, tugas kuliah gimana? Dijawab “bisa diselesaikan juga kok”.

Ibu ini, adalah coach semacam itu, latihan piano untuk Sophia dan biola untuk Lulu sekitar 5 jam sehari, nilai harus tetap bagus. Kalau ditanya alasannya mendidik anak dengan keras kayak gitu, dijawab bahwa dia percaya pada kemampuan anaknya. Dan gw rasa dia memang percaya, karena dia mati-matian mencarikan referensi untuk anaknya, mencarikan guru terbaik untuk anaknya, membuang uang sedemikian borosnya demi anaknya, dan mempelajari apa yang dipelajari anaknya supaya ia tetap dapat memenuhi kualifikasi untuk memecut anaknya.

Mengerikan? Yo i.

Bagaimana reaksi anaknya? Anak pertama tidak banyak diceritakan, memang karena anak pertamanya lebih tenang dalam menghadapi masalah. Anak kedua? Perang seru dengan ibunya. Keras kepala? Sama. Nggak suka dimarahin? Sama. Makin ke belakang, klimaksnya adalah ketika Lulu meledak kemarahannya waktu jalan-jalan di Rusia, dan gw lega karena ibunya mengalah. Syukurlah dia masih mendengarkan anaknya.

Akhirnya gimana? Sophia tetap main piano, dan Lulu tidak mau terlalu fokus di biola lagi. Di akhir-akhir cerita, dia mulai main tenis, dan meningkat cepat karena kegigihannya, yang tentu saja karena training ekstrimnya selama ini membuat dia bisa berjuang lebih baik dalam kondisi yang lebih sulit. Si ibu memutuskan untuk mendokumentasikan hidupnya dengan keluarganya, dan muncullah buku ini.

Komentar gw? Mmm.. menarik. Gw kasih liat buku ini ke nyokap gw, dan nyokap gw tertarik untuk membaca. Saat gw cerita mengenai ibu ini ke orang lain dengan semangat, mereka akan bertanya ke gw: “lu juga digituin sama nyokap lu?”… jawaban gw: “nggak pernah, sama sekali”. Tapi adek gw digituin sama nyokap. Gw sering denger nyokap gw teriak2 nyuruh adik gw belajar, tapi gw lebih sering mendengar gw disuruh berhenti belajar sama nyokap.

Tapi kemudian, kita berdua tetap mengusahakan yang terbaik. Satu hal yang ditanamkan orang tua gw adalah: tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap hidup, tugas, hak, kewajiban, dengan sebaik-baiknya. Dan belakangan gw menambahkan list tersebut: bertanggung jawab terhadap Tuhan, bakat, passion dengan sebaik-baiknya. Ada kalanya gw terombang ambing dalam hidup ketika gw tidak dibimbing oleh orang tua gw. Tentulah gw jauh lebih tidak berkembang dibanding dengan Sophia dan Lulu, tapi satu hal yang gw pelajari adalah, tidak pernah ada kata terlambat untuk maju. Baru belajar di umur 15 tahun? Gpp, lu cukup berusaha 100 kali lebih kuat daripada orang yang belajar di umur 6 tahun. Masalahnya adalah, apakah lu sanggup berusaha 100 kali lebih kuat? Pikiran si ibu Cina adalah, kalau lu mau jadi yang terbaik, lu harus diasah untuk berusaha 100 kali lebih kuat dari sejak lu berumur 6 tahun.

Apakah patut ditiru?

Hmm, itu terserah orangnya masing-masing. Sejujurnya ya, gw tahu sebuah keluarga yang sama kerasnya kepada anaknya, memaksakan semua yang mereka pikirkan ke anaknya, dan endingnya berakhir tragis kepada kematian kedua orang tuanya di tangan anaknya. Sambil membaca cerita ini, gw ngeri membayangkan perasaan sakit apa yang ditanamkan orangtuanya kepada anaknya. Tapi gw melihat bagaimana ibu ini selalu mengucapkan kata-kata itu setiap kali selesai memecut anaknya “kamu tahu bahwa mommy sayang kamu”.

Kurasa, kalimat itulah yang membuat anak-anak itu tetap bertahan.

As for me… kalau gw punya anak, gw mau mereka main di jalan tiap jam 4 sore, seperti yang gw lakukan dulu tiap sore selesai belajar. Semoga masih ada galaksin, tak jongkok, tak umpet, polisi maling, kasti, bola dan sejenisnya di jaman anak2 gw :P.

Oh iya, ini blog anaknya, kalau tertarik untuk mengunjungi: http://tigersophia.blogspot.com/

8 thoughts on “Battle Hymn of the Tiger Mother

  1. kan passion.. kalo gak niat maen biola mah gak niat aja.. kalo niat maen tenis ya niat aja =p
    bukan begitu?

    -kijang-

  2. @kijang: hemm… dalam hal ini, agak kompleks… pertama, si ibu berasumsi, ada dua faktor dalam passion. Pertama, passion lu terhadap suatu hal baru akan muncul ketika lu memiliki performa yang baik terhadap hal itu. misalnya, kalau lu jago matematika dan merasa bisa mengerjakan soal-soal sulit, passion lu terhadap hal itu akan muncul. cukup make sense sih. ada orang-orang yang suka matematika karena di awal-awal emang dia bisa solve problem lebih baik dari orang-orang lain, dan dia terus latihan karena dia merasa bisa, dan akhirnya dia jadi jauh lebih jago dari orang lain, dan voila… that’s my passion.

    nah, ibu cina berpendapat, mau lu berbakat ato nggak, kita ambil jalan amannya aja, lu latian terus, klo lu jago, pasti lu suka.

    sayangnya, ada faktor kedua dari passion itu, yaitu apakah lu emang bener2 suka di bidang itu atau nggak, dan faktor inilah yang menurut ibu itu, tidak bisa diputuskan oleh seorang anak ketika dia masih kecil. :D begitu sih intisari yang gw dapat. So, in the end dia memutuskan, melatih kegigihan si anak untuk mencapai apapun (yang dia mau nanti) dari sejak kecil sampai umur 18 taun (sampe ketika anaknya bisa nuntut dia balik di pengadilan), dan setelah itu, baru membiarkan dia memutuskan…

  3. wooow.. i don’t expect reply comment that long… wkwkwkkw..

    tampak nya anda calon-calon ibu yang sempurna bagi anak-anak anda? =D

    -kijang-

  4. eh lu baca buku 200 halaman ini dalam berapa hari? gw jd penasaran sama bukunya :P
    hmm….ya gw pikir, bagian yang tricky adlah niat ortu sebaik apapun memang perlu pendekatan yang bijak, keren tuh si tiger mom msih bisa bilang ““kamu tahu bahwa mommy sayang kamu”.

    stuju banget sm point bertanggungjawab, ntar pas ketemu pencipta jg msih diminta pertanggungjawaban lg..

    gw br browse blog nyokapnya, gile dia juga lulusan law dari yale n harvard

    BTW yg email subscription di bagian kanan atas lu pake plugin/widget apa? gw dah coba pake yg WP cm kykny msih ga berfungsi

  5. @kijang: hayahh … wkwkwk, amin deh amin ^o^

    @irene:
    hmm… sebentar doang, gak ada seminggu, ceritanya ringan kok.. yup2 dia lulusan Law dari Yale n Harvard… suaminya juga :P…

    err… gw kan pake gratisan, jadi gw pake widget apapun yang disediakan themes nya, kebetulan theme yang ini ada kasih widget subscription gitu..

  6. sakit jiwa abis mecut msh bs blg sayang….ga tau sakitnya perasaan anak dan bergolak bathin krn dilema hrs percaya mamanya bnr sayang ato cm bermulut manis saja.. Mudah2an anaknya ga bpikir bahwa itu pola asuh normal..bisa2 turunannya sakit jiwa semua ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s