The Moneyless Man – Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang

Saat ini gw sedang baca dua buku secara paralel. Karena buku ini gw beli duluan, tentulah dia habis duluan. Buku ini ditulis oleh Mark Boyle, si manusia yang bertekad untuk hidup tanpa uang selama setahun. Dia bukan orang pertama yang hidup tanpa uang, ada beberapa orang lain juga di negara lain yang berusaha hidup tanpa uang, hanya saja tidak dijadikan buku, jadi kita tidak pernah benar-benar tahu.

Kalau ingin tahu bagaimana kisah hidupnya selama hidup tanpa uang, dia gak benar-benar putus dengan uang. Dia tetap pakai sepeda, dia tetap membeli beberapa peralatan yang benar-benar dia butuhkan dan tidak bisa dia temukan dari memulung barang bekas atau dari bantuan orang lain.

Tapi tujuan utamanya bukanlah untuk mencari sensasi bahwa dia berhasil hidup tanpa uang. Ide sebenarnya adalah untuk mempelajari kembali esensi uang dan bagaimana uang telah mengubah hidup kita yang sebenarnya.

Kesan yang gw tangkap setelah membaca buku ini adalah, ia berpendapat bahwa uang telah menjadi sarana keamanan bagi manusia, sedangkan menurut dia, seharusnya yang menjadi sarana keamanan manusia adalah “hubungan manusia itu dengan manusia yang lain”. Kalau lu membantu seseorang dengan kepercayaan bahwa orang lain akan membantu lu juga, bukankah lu akan merasa aman? Ke mana perasaan keamanan itu sekarang? Sekarang semuanya dinilai dengan uang. Gak ada uang, gak ada bantuan.

Nilai sejati, adalah sebuah nilai yang dia coba kembali perkenalkan dalam bukunya. “Banyaknya pabrik, supermarket, toko grosir dan yang sejenisnya sudah benar-benar mengubah persepsi kita mengenai harga wajar dari segala sesuatu…. Mereka yang mengatakan tidak mungkin membayar 1.5 poundsterling untuk sekilo timun jepang pasti tidak tahu besarnya usaha yang dibutuhkan untuk menanam timun itu secara organik tanpa memerlukan masukan bahan bakar fosil dalam jumlah besar.”

Mark menyadari hal ini “semakin aku bertanggung jawab untuk menghasilkan sendiri segala sesuatu yang kubutuhkan, atau paling tidak semakin dekat dengan orang yang memproduksinya, semakin aku menyadari nilai sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada”

Dan pada akhirnya, Mark menyadari bahwa perjuangannya mempertahankan dan memperkenalkan ideologinya masih sangat jauh, namun ia berhasil membuat sebuah komunitas besar di mana setiap orang dapat saling membantu satu sama lain tanpa didasari oleh uang :).

freeconomy : http://www.justfortheloveofit.org/

dan masih banyak lagi situs-situs lain yang serupa dan telah banyak membantunya selama hidup setahun tanpa uang.

http://www.bookhopper.com, http://www.bookcrossing.com, http://www.couchsurfing.com, http://www.carshare.com, http://www.nationalcarshare.com, http://www.wildmanwildfood.com, http://www.ebfsms.com, http://freecycle.org, http://www.ilovefreegle.org, http://www.freelender.org, http://www.globalfreeloaders.com, http://www.grofun.org.uk, http://www.gumtree.com, http://www.hospitalityclub.org, http://www.letslinkuk.org, http://www.liftshare.org, etc etc etc…

Setelah membaca buku ini, gw benar-benar merasa menginginkan komunitas semacam ini terbentuk di Indonesia. Entah bagaimana caranya…

Sebagai penutup, gw sajikan kata-kata John Lame Deer ketika bertemu dengan Mark Boyle:

——————————————–

aku bertemu seorang lelaki Indian Sioux, John Lame Deer. Dia menceritakan dengan singkat bagaimana perasaannya ketika dipaksa oleh orang kulit putih untuk menggunakan uang – dan karena itu dianggap “beradab”

‘Sebelum saudara kami yang berkulit putih tiba untuk membuat kami beradab, kami tidak mempunyai penjara. Karena itu di lingkungan kami tidak ada penjahat. Anda tidak mungkin mempunyai penjahat tanpa ada penjara. Kami tidak punya gembok atau kunci dan dengan demikian tidak ada pencuri. Bila ada orang yang demikian miskin sehingga dia tidak punya kuda, tidak punya tenda tipi atau selimut, pasti ada orang yang memberinya benda-benda itu. Kami begitu tidak beradab sehingga kami tidak menganggap berharga barang-barang pribadi. Kami ingin memiliki barang hanya agar dapat melepaskannya lagi. Kami tidak punya uang dan karena itu nilai seseorang tidak dinilai dari uang yang dimilikinya. Kami tidak memiliki aturan hukum tertulis sehingga tidak perlu ada pengacara atau politisi dan karena itu kami tidak dapat menipu. Cara hidup kami benar-benar buruk sebelum orang kulit putih datang dan aku tidak tahu bagaimana kami dapat hidup tanpa hal-hal mendasar, yang dikatakan kepada kami, sebagai hal-hal yang mutlak perlu untuk membentuk masyarakat beradab’

——————————————–

Paragraf di atas membawa gw kembali ke ingatan masa SMA gw, ketika gw harus membuat karya tulis di suku Badui Luar. Karya tulis gw adalah mengenai arsitektur bangunan suku Badui Luar. Saat itu seorang anak Badui yang menjadi guide kita, membawa kita melihat rumah, lumbung, dan jembatan. Lumbung mereka tidak punya gembok. Gw tanya “kalau diambil pencuri bagaimana?” ini sepertinya adalah pemikiran dasar kita, bahwa selalu ada orang jahat di muka bumi ini. Anak itu bingung… “selama ini sih nggak pernah ada yang nyuri…”

dan kita hanya saling memandang satu sama lain dengan rasa takjub.

– End –

6 thoughts on “The Moneyless Man – Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang

  1. Kalo di film Star Trek, hal yang dibutuhkan untuk membuat manusia lepas dari uang dan menuju peradaban berikutnya adalah…. Food Replicator!

    http://en.wikipedia.org/wiki/Replicator_(Star_Trek)

    Kalo ada teknologi seperti itu, Captain Picard bilang manusia gak lagi harus bekerja untuk mencari makan, manusia mulai bekerja untuk hal-hal lain yang mereka senangi.

    Kapan yah bisa bikin matter-energy converter :).
    Kayaknya gw pengen belajar fisika lagi :P.

  2. Wah boleh ini, kalau aku lg coba kepikiran bikin komunitas fair trade di Indonesia. Idenya hampir sebangun tapi tidak seekstrim freeconomy.

    Tulisan yang menginspirasi. :D

  3. @FH: haduh, ntar makanannya kayak di doraemon gitu lagi, makan kapsul sebiji udah kenyang… ckckck… lu melupakan kenyataan kalau ada orang yang punya kesenangan untuk menginvent makanan enak dan bercitarasa unik ya :P… wkwk, btw, klo lu sampe bisa bikin matter energy converter, kayaknya lu bisa mengurangi kelaparan di afrika dengan cepat tuh. :D go physics! XD…

    @ipungmbuh: iya, komunitas fair trade juga langkah yang bagus :D. semoga cita-citanya bisa ter-realisasi :D. nanti gw bantu promosikan lewat blog deh ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s