what is wrong with you, Indonesia?

this is so upsetting. Belakangan gw melihat orang-orang dari luar yang datang dan mencoba meliput apa yang sedang terjadi di Indonesia. Di sini gw letakkan tiga video dokumenter mengenai Indonesia.

Blackberry
Ada apa dengan demam BB? Gw ingat lelucon yang dilontarkan seorang klien (seorang yang kira-kira seumuran orang tua gw)

A : kamu punya BB?
Gw : nggak
A : kenapa?
Gw : nggak butuh.
A : kalau pacar punya?
Gw : ……..
B : punya kok
A : ooo… kirain gak butuh juga. Hahahahahahaha
(teman-teman A): hahahahaha
B : (memandang gw)
Gw : ^^ (senyum manis siap tikam jantung – tangan udah pose kayak Killua)

Itu terjadi waktu gw masih kerja freelance di suatu tempat. Sebagai mahasiswi, gw merasa lelucon ini tidak lucu sama sekali dan bersifat menghina karena menyamakan benda semacam BB dengan seorang pacar. Seakan-akan ada benang tidak terlihat mengenai kepemilikan BB dengan kemampuan berhubungan dengan sesama manusia.

Oh ya, saat itu mereka memang sedang berusaha untuk meyakinkan kita mengenai bagaimana semua orang butuh BB di Indonesia, jadi kita harus jualan BB promo dengan suruh mereka utang dulu sana sini, kemudian mereka tanya gw -punya BB ga lo-, ya salah alamat aja sih.

Kemudian mereka mulai lagi dengan hal konsumerisme yang lain, mengenai seberapa sering wanita membeli baju baru di Indonesia. Lagi-lagi mereka mulai dengan wanita-wanita yang ada di hadapan mereka.

C : kamu, baju yang kamu pakai ini, kapan kamu belinya? 3 bulan lalu? 6 bulan lalu?
Gw : …………. 3 tahun lalu.
C : ………………………….. (nengok ke sebelah gw), D, baju kamu, kapan kamu belinya?
D : 3 bulan lalu.
C : nah, liat aja, mereka beli baju, bisa 3 bulan sekali, bisa 6 bulan sekali
Gw : ………………………………………..

atau 3 tahun sekali.

Maaf ya pak, saya lebih senang beli buku bekas daripada beli baju. Saya hidup hemat mati-matian soalnya pendidikan belakangan mahal amat pak, saya juga kerja tambahan buat nabung lebih banyak lho pak. Ha? Saya gak peduli kecantikan? Eits jangan salah pak, meskipun baju saya umurnya tiga tahun, saya makan buah dan sayur setiap hari, doa dan ingat Tuhan diusahakan setiap hari, bukankah kecantikan batin itu lebih penting pak?

Pengen deh ngomong gitu sekali-sekali, cuma tangan gw biasa cuma mengepal aja sih, coba gw bisa jurus ‘tikam jantung’nya Killua

Anyway, konsumerisme itu gak nahan ya di sini. Dan kayaknya gw akan dicabut dari setiap survei konsumen pakaian, tambahan pula gw mungkin akan dicabut dari setiap proyek yang berhubungan dengan promosi produk dan marketing.

Rokok

When the laughter stops, the world moves on
Terus ya, asap rokok di mana-mana. Ada juga industri rokok yang mulai sehat di Indonesia. Negara kita ditertawakan di luar negri karena ada bayi yang merokok puluhan batang rokok sehari.

Toughest Place to be a Bin Man

Dan… kesenjangan sosial super parah yang sudah disadari tapi tutup mata aja selagi bisa. Pemukiman kumuh versus tas prada. Rumah-rumah besar versus rumah kotak kardus di sebelahnya. Orang-orang kecil yang hanya bisa berdoa kalau sudah tidak bisa bekerja. Uang pensiun? Uang Jaminan Kesehatan? You must be kidding me. Iya, gw nangis dan marah nonton ini.

Gw gak punya solusi apa-apa… Wong gw aja nanya, apa yang terjadi sama negara tempat tinggalku ini =(… Gw cuma berharap gw bisa introspeksi diri. Menghormati para pemulung, mulai belajar memilah sampah (ternyata orang tua gw sudah melakukannya), pura-pura sakit asma kalau dekat perokok (haha, nggak deh, beneran gw suka tiba-tiba batuk dan sesak napas kalau kena asap-asap macamnya asap rokok dan asap mobil), dan… kalau bisa, gw mau menggunakan alat bantu komunikasi seperlunya. Mulut dan mata tetap alat komunikasi paling utama, dan ada orang-orang di sekitar kita yang selalu bisa kita ajak berbicara dari hati ke hati… ya toh?

– Renungan di pagi buta –

PS: untung itu klien gak nanya umur jaket gw, bisa jantungan dia, fufufufu

3 thoughts on “what is wrong with you, Indonesia?

  1. gw baca di koran, orang indonesia dg penghasilan menengah bertambah pesat tahun-tahun ini, sayangnya konsumerisme jg naik drastis. Salah satu dampaknya menurut gw, kemampuan orang untuk berbagi/memberi cenderung jadi menurun >.<

  2. Pingback: Indonesia, Saya bisa apa? « Kronik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s