Justice

[ini tulisan yg gw temukan di google docs gw – >.< gw tulis sambil kerja, tapi karena gak bisa buka blog di kantor client (diblok semua), jadi gw taro di google docs dan kelupaan deh sampe sekarang]

Sambil menunggu hasil design yang sedang lama sekali compilenya, gw mau menulis pembahasan tentang episode ke sekian dari film Hunter x Hunter.

di episode ini, Gon dkk harus menjawab pertanyaan dengan benar untuk dapat melewati rintangan itu. Diceritakan awalnya ada seorang calon hunter yang maju duluan untuk menjawab pertanyaan itu:

“kalau lagi kebakaran, terus lu cuman bisa selamatin pacar lu atau nyokap lu, siapa yang lu selamatin?”

jawaban si cowo: “nyokap lah, nyokap itu gak bisa diganti, kalau pacar bisa cari lagi”

dan si nenek penanya tersenyum, terus kasih tuh orang lewat. Gak lama, Gon mendengar teriakan si calon hunter yang dimakan binatang buas. Jadi dia berpikir bahwa jawaban itu gak benar.

terus gantian Gon dkk yang maju. Kali ini mereka ditanya “kalau lagi kebakaran, terus lu cuman bisa selamatin bokap atau nyokap. Siapa yang lu selamatin?”

Hanya diberikan 10 detik untuk menjawab pertanyaan itu, tapi Gon dan Kurapika diam tidak bergeming, sedangkan Leorio udah ngamuk dan siap ngajak si nenek berantem aja. Tapi kemudian mereka lulus.

hoh?

pikiran gw saat itu: “kalau disuruh pilih salah satu, tapi tidak menjawab apapun, berarti tetap salah kan >.<”

kemudian setelah beberapa tahun kemudian, meskipun gw tau pertanyaan seperti itu tidak ada jawabannya, gw tetap tidak mengerti kenapa dia tidak ada jawabannya. Menurut gw, “Gw tau kalau pilih ayah atau ibu, jawabannya tetap aja salah (tidak ada jawaban yang benar), tapi tetap harus ada yang selamat donk? jadi kenapa gak pilih aja salah satunya biar minimal satu selamat?”

sementara Su tetap ngotot berpendapat bahwa tidak ada jawaban yang benar, karena pertanyaan seperti itu menurut dia “gak bisa dijawab”, membunuh (baca: tidak menyelamatkan) satu orang untuk menyelamatkan yang lain, tidak bisa dibilang benar.

kemudian gw nonton video Harvard tentang justice, dan menemukan bahwa cara pikir gw menunjukkan bahwa gw termasuk golongan “Consequentialist”, menjustifikasi keadilan berdasarkan konsekuensi. Menurut gw, minimal satu selamat deh.

Pemikiran gw sebagai Consequentialist, akan ditantang oleh mereka yang berpikir secara Categorical. Cara pikir mereka yang menempatkan moral dahulu di atas konsekuensinya, seperti yang diharapkan oleh si nenek penanya adalah sbb:

yang penting adalah intensinya dahulu. Ketika lu telah memilih untuk menyelamatkan satu, berarti lu telah punya pikiran untuk membiarkan yang lain mati (membunuh). Karena itu, jawabannya seharusnya tidak ada. Karena intensi itu telah muncul ketika kita dapat memberikan nama satu orang yang akan kita selamatkan.

Ketika kita “gak bisa menjawab”, kita tidak punya intensi untuk membunuh saat pertanyaan diajukan. Jadi itu adalah jawaban yang benar.

Bagaimana kalau terjadi di kehidupan nyata? tidak tahu.. kita mungkin tetap tidak akan bisa memutuskan…

jadi demikianlah pengertian baru gw mengenai justice. Aih… gw suka public lecture Harvard ^o^

6 thoughts on “Justice

  1. kalo dalam kenyataan beneran terjadi dan masih tidak bisa menjawab sampai waktu habis berarti loe dah bunuh dua orang Fi :)

    -kijang-

  2. @kijang: exactly :D that’s how consequentialist think ;), although ternyata justice mungkin tidak sesimple itu. dan btw, imajinasi dari kejadian bodohnya adalah mungkin gw malah akan berusaha menyelamatkan dua2nya dan berakhir mencelakakan diri sendiri juga. :| … ah…

  3. Selamatin org tua trus slamatin pacar, klo ga selamat berarti mati bareng pacar… Hehe..

    Tp masahnya moral tidak artinya klo ga ada tindakan. Sama seperti para pejab** yg pandai ngomong soal moral tp tindakannya nol besar.. Apa artinya akan?

    Mungkin itu yg membedakan antara pemikir dan leader.. Leader mengambil tindakan nyata for good.

  4. @denny198:

    ueh, nyampah comment dia, gw hapus ye yang 2 komen lainnya. haha

    bwahahaha, betul juga, that’s the ‘stupidly romantic’ way :P

    yup, kalau berani komitmen untuk bermoral, memang harus disertai dengan bukti tindakan. dan btw, kalau pejabat yang omong doang itu sih gak bisa disebut ‘pemikir’, disebutnya ‘penjiplak para pemikir’ haha. menurut gw, ada dua tipe:
    1. orang-orang yang ngomong, tapi gak ngerti apa yang diomongin, jadi tidak dia praktekkan. dia bilang itu baik, tapi dia gak ngelakuin, karena sebenarnya dia gak benar2 ngerti kalau itu baik.
    2. orang-orang yang ngomong, ngerti apa yang dia omongin, dan benar2 dia pratekkan, not necessarily a ‘leader’. Tipe ‘pemikir’ pun melakukan tindakan nyata kok, mungkin impactnya aja yang gak kelihatan (dan/atau gak sebesar ‘leader’ yang bisa langsung memotivasi banyak orang), karena mereka2 itu mengubah cara pemikiran orang lain secara perlahan.

    bagaimanapun, semoga kita jadi orang-orang yang gak omong doang ya :D. amin!

  5. ha3, pas gw nonton HxH dan ada pertanyaan itu, yang gw pikirin adalah: gw ga tau kenyataan sebenarnya bakal kayak gimana, jadi ga bisa jawab langsung dunk.
    tapi kalau cuma pasrah doank dengan takdir, klo dari cerita yang truk di video itu si Categorical kan lebih milih untuk tetap di jalur dan ga lakukan apa-apa, membiarkan 5 orang mati, karena emang udah jalannya gitu.. gw ga stuju >_<.
    gw pikir gw termasuk yang Categorical, karena pada akhirnya gw ga bisa memilih mengorbankan 1 untuk kebahagiaan semua.
    Walo klo lebih jauh lagi, gw akan memilih mengorbankan semua untuk kebahagiaan orang2 yang gw sayang (artinya apa coba.. : p ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s