Social Norms versus Market Norms

alias norma sosial versus norma pasar.

Pertanyaan yang mendasar:

Kenapa kita senang melakukan sesuatu, tapi kesenangan tersebut berkurang ketika kita dibayar untuk melakukannya

Referensi:

  • Buku Predictably Irrational – nya Dan Ariely, chapter 4. Kelasnya sekarang dibuka di coursera.org. Silakan bergabung kalau tertarik, gratis lho.
  • Sempat baca riset yang sejenis di internet, tapi lupa linknya

Norma Sosial

Pada dasarnya, kita hidup di antara dua norma, norma sosial dan norma pasar. Norma sosial mencakup keadaan di mana orang-orang saling menolong karena sifat sosial kita dan kebutuhan kita terhadap komunitas. Seperti ketika, suatu malam dalam hujan deras, gw ditawarkan untuk berbagi payung dengan seorang mbak yang tidak gw kenal di Mangga Besar, atau ketika teman gw ditawari untuk diboncengi dengan motor di daerah Cinere sampai ke jalur transportasi terdekat.

Balas jasa tidak diperlukan saat itu juga, dan gw tidak harus meminjamkan payung saat itu juga ke mbak tersebut sebagai tanda balas jasa. Keduanya merasa senang, yang membantu senang, yang dibantu pun senang. Norma ini bersifat hangat dan tidak jelas (fuzzy)

Norma Pasar

Norma pasar mencakup keadaan di mana kita saling melakukan bertukaran dengan sifat yang sangat jelas dan dingin, bukan berarti norma ini bersifat tidak baik. Intinya, kita mendapatkan apa yang kita bayar.

Ketika Norma Sosial Ketabrak Norma Pasar

Kehidupan berjalan cukup baik ketika norma pasar dan norma sosial berjalan terpisah. Kehidupan jadi agak-agak rumit ketika mereka bertabrakan. Contoh kasus lucu ini ada di bukunya si Dan: Seorang cowok pdkt ke gebetannya. Kencan pertama, si cowok yang bayarin semua, resto mahal, pergi nonton bioskop, dll. Kencan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, si cowok juga yang selalu bayarin. Pada titik ini, dia mengharapkan setidaknya ciuman perpisahan ketika berpisah di depan pintu rumah. Dompetnya semakin tipis, tapi yang berbahaya adalah pikirannya saat itu: Ia memiliki masalah saat membedakan norma sosial (hubungan baik untuk saling mengenal) dan norma pasar (uang yang dikeluarkan supaya dia bisa dapat ciuman dari si cewek).

Jadi, pada kencan keempatnya, dia dengan lepasnya mengucapkan bagaimana kencan-kencan romantis ini membutuhkan banyak uang dari sakunya.

Nah saudara-saudara, sekarang sudah terjadi pelanggaran batas norma, sekarang ceweknya marah, dan menghentikan kencan begitu saja. Si cowok masih bingung, kenapa yak, apa salahku. Well

(dari semua curhat yang pernah gw dengar, kasus seperti ini benar-benar pernah terjadi lho, hehehehe)

Banyak percobaan yang dilakukan sama Dan Ariely dan teman-teman risetnya. Cara simplenya, dengan minta tolong mereka melakukan sesuatu:

  1. dengan dibayar pakai uang,
  2. tanpa dibayar,
  3. dibayar dengan coklat,
  4. dibayar dengan coklat, tapi disebutkan harganya berapa

Hasilnya lumayan menarik dan cukup masuk akal, ketika dibayar dengan uang dalam jumlah kecil (50 cents), pikiran mereka berpindah ke norma pasar dan mereka kerja setengah hati, tapi ketika mereka dibayar dengan coklat (harga 50 cents), mereka tetap berada dalam norma sosial dan tetap termotivasi untuk bekerja dengan pikiran bahwa mereka sedang membantu risetnya si profesor.

Bagaimana ketika mereka dibayar dengan coklat tapi disebutkan harganya? Ternyata ketika disebutkan harganya 50 cents, mereka jadi tidak termotivasi untuk bekerja.

Karakter-karakter manusianya pun diteliti juga oleh Kathleen Vohs (seorang profesor dari University of Minnesota). Ketika mereka bereaksi dalam norma pasar, mereka menjadi lebih individualis, lebih tidak ‘helpful’, dan mereka juga tidak cepat meminta bantuan orang lain melainkan berusaha sendiri terlebih dahulu.

Efek Jangka Panjang

Seorang profesor lain di University of California, Uri Gneezy, melakukan eksperimen menarik mengenai tempat penitipan anak di Israel. Eksperimennya adalah, memberlakukan denda kepada orang tua yang terlambat menjemput anaknya. Hasilnya? Denda tersebut tidak berjalan dengan baik, malah memiliki efek negatif jangka panjang.

Kenapa? Sebelum denda diberlakukan, guru dan orang tua memiliki terikat dengan norma sosial jika terlambat menjemput anak. Karena itu, jika mereka terlambat, mereka merasa bersalah, dan perasaan bersalah itu membuat mereka lebih tepat waktu dalam menjemput anaknya.

Tapi ketika denda diberlakukan, norma pasar mengambil alih norma sosial. sekarang karena mereka hanya didenda, mereka bisa memutuskan apakah akan terlambat atau tidak, dan mereka lebih sering memilih untuk terlambat.

Kemudian ceritanya dimulai dari sini, denda dicabut. Apakah norma pasar kembali menjadi norma sosial? ternyata tidak. mereka tetap lebih sering terlambat menjemput anaknya. Eksperimen ini menunjukkan sesuatu: bahwa ketika norma sosial bertabrakan dengan norma pasar, norma sosial dapat hilang dan sukar kembali. Hubungan sosial adalah sesuatu yang susah dipertahankan.

Contoh kasus seperti eksperimen di atas sering terjadi di kehidupan nyata, waktu gw di organisasi kuliah dulu, ketua klub gw memberlakukan sistem denda kalau terlambat, dan di beberapa meeting di kantor, bos-bos pun sering memberlakukan denda supaya karyawannya tidak datang terlambat. Gw ragu sih sistem denda akan bekerja, karena dari hasil pantauan gw saat ini (ciah), nggak terlalu ngefek ke gw juga kalau ada yang ngancem gw pakai denda.

Tapi kemudian bos gw yang sekarang punya cara yang lebih efektif untuk membuat anak-anaknya tidak terlambat, yaitu dengan memberikan contoh kalau dia pun hampir tidak pernah terlambat, dan kalau terlambat pun, dia akan selalu kasih tau. Wah, begitu dengar dia ngomong gitu, gw langsung respek dan bertekad gak telat.

Pada akhirnya sih, gw tetap lebih respek sama ketua yang memberi contoh, misalnya, ketua klub gw waktu jaman kuliah itu konsisten sama kata-kata dia, jadi regardless of denda, gw tetap datang tepat waktu. Begitu juga yang sekarang. Mungkin norma sosial lebih berlaku ke gw daripada norma pasar ya. Mungkin karena itu juga orang-orang yang terlalu perhitungan kadang mengalami masalah pergaulan, soalnya norma sosial dan norma pasarnya bertabrakan.

Kesimpulan

Gw masih terus mengamati sana sini mengenai norma-norma ini, ada yang punya pengalaman serupa? sharing-sharing lah di komen, gw lumayan tertarik melakukan cross-check apakah hasil eksperimennya si profesor-profeosr itu berlaku di dunia nyata :D

NB: Tips PDKT – jangan sebut-sebut harga makanan di resto tempat lu traktir gebetan lu, dia bisa baca sendiri di buku menunya :P

2 thoughts on “Social Norms versus Market Norms

  1. Ini berlaku di kntor saat sang bos, dia (she) menetapkan denda.. Tp makin ke sini mkn banyak jg yg telat alias ga ngaruh.
    Norma sosial hny berlaku klo komunitasnya maju, displin dan normal, juga profesional… Klo ky di indo banyak yg “gak mikir” kynya sih gak bisa ya… Lagian prof ini konteksnya negara maju ya?

  2. Hmm, nggak kok, norma sosial bisa berlaku di mana pun, norma ini dipengaruhi sifat dasar manusia yang bersifat sosial (punya kebutuhan untuk berkomunitas << interaksi, saling bantu, dll).

    Kalau lingkungan kerjanya punya norma sosial yang kuat misalnya, dalam satu divisi, bos dan anak buah akan solid saling meng-encourage, traktir pun cincai2, kasih bonus pun bisa aja keluar dari dompet bosnya sendiri, bukan dari anggaran perusahaan, gitu2.

    Tapi kalau lingkungan kerjanya dominan norma pasarnya, bos dan anak buah akan saling perhitungan, bonus dikasih berdasarkan hasil kerja akhir semata, nggak ada simpati terhadap pengorbanan anak buah dll.

    Anyway, di kehidupan kerja sih, kayaknya nggak ada perusahaan yang murni bernorma sosial (bisa bangkrut) atau murni bernorma pasar (bosnya komputer kali ya, gak punya perasaan), jadi memang tercampur baur gitu :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s