Laporan Pengamatan Bus TransJakarta

Waktu kuliah dulu, gw ada bikin laporan pengamatan selama naik angkutan umum. Sekarang, karena gw adalah salah satu pengguna bus TransJakarta, gw mau ikutan memberikan laporan pengamatan juga. Sukur-sukur nanti gubernur baru mau membaca dan mempertimbangkan saran gw, hihihi.

1. Tiket

Dulu waktu pertama kali gw naik bus Trans, waktu beli karcis, gw dikasih kartu untuk dimasukkan ke mesin (gw curiga itu tidak bekerja), baru gw bisa masuk.

Sekarang? gw dikasih satu karcis kertas. Begini kira-kira lifespan karcis kertas gw.

  • Kasih Rp. 3,500, dapat selembar karcis kertas yang bisa disobek dari loket
  • Saat mau masuk halte, karcis kertas yang masih kurang dari 30 detik di tangan gw, diserahkan ke petugas lain untuk disobek
  • Di jarak 1 meter di depan, ada apa? ada tong sampah. Memang kita harus menjaga tiket sampai tempat tujuan untuk dibuang di tong sampah di sana. Tapi tebak apa yang terjadi? Kebanyakan orang akan buang tiket yang baru disobek itu. Petugas udah tau apa yang akan terjadi, kenyataannya, ketika kalau gw sedang panik ngejar bus, tiketnya gw sodorin ke petugasnya, petugasnya nggak suruh gw tunggu dia sobek kertas lagi, dia teriak ke gw “cepetan kejar busnya!”

Kesimpulan: Lifespan tiket kertas gw cuma sekitar 1 menit kalau gw lagi malas pegang karcis. Masalahnya, hampir tidak ada pengecekan bukti karcis kertas ketika sudah masuk ke halte. Akibatnya ya orang-orang buang kertas itu kalau sudah berhasil masuk halte.

Gw nggak tau kenapa tiba-tiba sistem kartu itu diganti dengan karcis kertas? Mungkin ada alasan tertentu? Yang jelas sistem karcis kertas ini terasa sangat memboroskan sumber daya kertas.

2. Kebersihan

Belakangan ada yang sibuk ngepel-ngepel di koridor bus Trans. Senang sih gw, meskipun agak bingung soalnya yang udah dipel ntar diinjak juga hahahaha. Tapi kemudian gw liat sesuatu yang lebih kotor dan butuh dibersihkan lebih dahulu.

Kipas…

Kipas yang dipakai untuk mendinginkan para antrian itu debunya tebal, kalau debu setebal itu diarahkan ke antrian, malah bisa bikin penyakit itu…. Akhirnya gw bilang ke petugas supaya kipasnya dibersihkan juga, jangan jalannya doang. Petugasnya bilang “nggak bisa sekarang bu, harus ntar malam, kalau dilepas sekarang, nanti yang antri kepanasan”… Oke deh. Setelah beberapa hari, kipasnya dibersihkan lho… Senangnya saran gw didengerin :D.

  1. Antrian

Antrian sekarang memang tidak dibuat sistem antrian ular. Akibatnya, banyak antrian yang sering disalip. Memang tidak bisa menyalahkan sistem antrian semata, karena ada masalah dengan warga kita yang tidak terbiasa mengantri. Tapi mungkin untuk sistem antrian bisa diperhatikan lagi.

Saran untuk para pengguna bus dan petugas:

  • Kalau disalip, kita harus bilang ke orang yang menyalip.
  • Kalau petugas liat ada yang nyalip, petugas harus bilang ke orang yang menyalip itu

Kebanyakan gw lihat atau alami, gw dan petugas kadang masih tidak berani mengingatkan mereka yang menyalip, meskipun gw cukup senang ada petugas yang dengan tegas mengingatkan mereka yang menyalip. Gw sangat berterima kasih lho.

  1. Aplikasi penanda kapan bus datang

Sejak ada aplikasi yang dipasang di tiap monitor halte busway, gw merasa jauh lebih tenang kalau nunggu bus. Kita sangat butuh estimasi kalau menunggu bus. Kalau nggak, menunggu 5 menit rasanya bisa 15 menit, nunggu 20 menit rasanya 1 jam. Setelah dipasang beberapa hari ya… lah, kok cuma keliatan Windows Login? =.=… aish… Padahal untuk memutuskan apakah akan mengantri atau nggak, gw akan intip-intip ke aplikasi itu dulu, apakah busnya sudah akan datang atau belum, tapi belakangan ini, monitornya terpasang, tapi aplikasinya tidak menyala :|…

Saran:

  • Mohon selalu dihidupkan aplikasinya. Penting itu.
  • Aplikasi ini bisa dibuat supaya bisa diakses juga oleh warga pengguna internet, Jadi sebelum keluar kantor, kita bisa melihat di internet untuk melihat “kapan busnya lagi banyak yang lewat”, dengan demikian kita bisa menentukan kapan harus jalan ke halte busway untuk mengantri.

Sekian laporan gw, meskipun bukan warga Jakarta, gw tetap berharap ibukota kita belajar membenahi transportasi massalnya sedikit demi sedikit. Dengan demikian, akan lebih banyak yang mempertimbangkan untuk naik bus Trans :).

2 thoughts on “Laporan Pengamatan Bus TransJakarta

  1. Keren nih.. Bisa jd pengamat transportasi.
    Sistem bus arrivalnya masih prototype knya haha… Tar gw mo ngmg sm org transportasi jktnya ahhh..

  2. @Denny: hahaha, iya, sistem bus arrivalnya boleh coba diomongin tuh, koneksi lu kan ‘kenceng’ hehehehe. Anyway, kapan pak nulis laporan pengamatan KRL? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s