Sukarelawati Mingguan

Sejak di sini, setiap minggu adalah hari bekerja sebagai pekerja sukarela di rumah sakit nasional negara. Pekerjaan gw setiap minggu adalah mengunjungi orang-orang sakit yang minta untuk didoakan oleh keluarganya. Tergantung dari banyaknya pasien, aktivitas ini bisa memakan waktu 1 – 2 jam setiap minggunya. Relatif ok-lah buat gw yang nggak punya kerjaan lain di hari minggu…

Ngapain aja?

Di sana kita ngunjungin pasien, ngobrol-ngobrol sama mereka, nyanyi-nyanyi bareng, dengerin curhat mereka, doain mereka, bacain ayat kitab suci yang jadi bacaan minggu itu di gereja (karena mereka nggak bisa ke gereja), dan mengantarkan komuni buat mereka yang bisa terima.

Pantangan?

Banyak pantangan dan aturannya, Satu, kita nggak boleh mengkotbahi mereka, kita datang bukan untuk pelajaran agama atau penambahan iman atau apalah. Kita datang untuk memberikan penghiburan karena pasien-pasien rumah sakit ini biasanya kesepian dan merasa terkucilkan dari dunia luar (dunia orang-orang sehat). Jadi meskipun ini adalah inisiatif gereja, terkadang ada pasien-pasien dari agama lain yang minta didoakan juga, dan kita dengan senang hati mendoakan mereka supaya cepat sembuh, udah, itu aja. Dua, kita nggak boleh sok jadi dokter, sok-sok nanya pasien sakit apa terus kasih rekomendasi, dst. Tiga, kita sebagai yang mengunjungi pun dilarang datang dengan muka mendung… artinya ya jangan bawa-bawa masalah sendiri ke pasien yang sendirinya juga lagi sakit. Masih banyak lagi daftarnya, tapi saat ini gw cuma ingat tiga… (daftar pantangannya ada beberapa halaman…)

Ada cerita seru?

Banyak :D. Karena pergi tiap minggu, gw jadi melihat banyak tipe pasien. Ada pasien yang sikapnya positif sekali, ada pula yang negatif sekali. Soal pelajaran hidup dan penderitaan, sudah jelas gw yang harus belajar lebih banyak dari mereka-mereka yang sakit ini.

Ada cerita dari senior tentang seorang nenek yang terkena kanker di punggungnya. Karena kankernya ada di punggung, sepanjang hari dia cuma bisa tengkurap di meja dan tidak bisa tidur. Sakitnya juga datang terus-terusan dan rasanya tidak enak sekali. Waktu senior ini datang untuk ngedoain dia, si nenek menolak, dia malah bilang “nggak, gw yang akan doain kalian…” … Haha, kagetlah senior gw ini, dia bilang “lu orang, sakit pilek dikit aja uda males ke gereja males berdoa…, pernah nggak kepikiran untuk doain orang lain?” … kenapa nenek ini yang sakitnya konstan setiap detik bisa bilang begitu?

Ada pula cerita tentang seorang bapak yang terkena stroke sampai enam kali. Dia tinggal sendiri, nggak punya sanak saudara. Setiap kali kita datang, dia cerita ke kita betapa menderitanya hidup dia, betapa tidak ada yang menolong dia, betapa dia tidak punya uang, dll. Kemudian setelah kita pergi, dia turun dan pergi merokok.

Ada pula cerita tentang seorang nenek lain yang dirawat di ruang untuk kasus-kasus depresi. Nenek ini tadinya tidak mau bicara sama sekali. Beberapa minggu kita ngunjungin dia, dia nggak ngomong apa-apa. Kemudian di minggu natal, kita memutuskan nyanyi lagu natal buat dia, dan dia ngerespon! Hebatnya, kita mulai tahu kalau dia merespon ke nyanyian, kita akan selalu nyanyi buat dia tiap kali kita ngunjungin dia. Sekarang dia sudah jauh lebih membaik dan bisa berdoa + nyanyi jauh lebih kencang dari kita semua, dan gw harus mengakui, rasanya luar biasa bahagia sekali liat dia seperti itu, meskipun dia bukan famili gw.

Ada pula pasien-pasien yang selalu mengharapkan kedatangan kita karena tidak ada yang ngunjungin. Kebanyakan adalah pasien-pasien dari panti jompo yang tidak punya famili. Muka mereka akan berubah ceria kalau kita datang. Kalau sudah begini, rasa-rasanya yang terhibur itu bukan mereka doang, kita juga ikut-ikutan senang.

Jadi?

Banyak pengalaman yang bisa didapat dari pekerjaan sukarela seperti ini. Kemudian ada juga perasaan-perasaan yang tidak bisa kita dapatkan dari pekerjaan rutin yang menilai tenaga kita dengan uang. Yang paling gw ingat juga adalah kata-kata senior gw sewaktu briefing pertama kali, dan ini akan menjadi kalimat penutup post kali ini.

“Ketika kalian tua nanti, mungkin yang kalian ingat bukanlah ketika kalian dapat kenaikan gaji, atau dapat kenaikan jabatan, atau ketika kalian beli mobil baru, melainkan relasi kalian dengan orang-orang lain… dan apa yang sudah kalian alami bersama orang-orang itu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s