The Geography of Bliss: Eric Weiner

Buku ini tebalnya 511 halaman, tapi sangat ringan untuk dibaca.

Buku ini berisi tulisan Eric Weiner yang menjelajahi beberapa negara untuk mencari ‘kebahagiaan’. Apa sih resep bahagia setiap negara? Apakah ada negara yang lebih bahagia daripada negara yang lain? Apakah Qatar yang adalah negara kaya lebih bahagia daripada Bhutan yang terletak di atas gunung? Kenapa Islandia termasuk salah satu negara yang warganya paling bahagia meskipun suhunya luar biasa dingin di sana?

Buat yang ingin menambah wawasan tentang negara-negara unik seperti Moldova, atau Islandia, atau bahkan Bhutan, buku ini sangat cocok. Pengetahuannya pun menarik, ada satu negara yang ngasih makan ganja ke babi-babi peternakannya biar babinya kecanduan makan dan jadi super gendut, ada negara yang punya kuil kesuburan yang isinya adalah berbagai macam ukuran patung ukiran alat kelamin pria (note: ini bukan Jepang Smile with tongue out), ada negara yang benar-benar menghargai penulis dan seniman, ada negara yang kebanyakan ceweknya pakai rok mini dan baju seksi karena populasi prianya yang agak kurang sehingga persaingan jadi ketat…

Selain budaya setiap negara yang dipaparkan secara menarik, prinsip-prinsip filosofi yang ingin dibuktikan pun ditulis tanpa membuat buku ini terlalu berat. Benarkah bahwa kebahagian itu terbentuk dari “kesenangan-kesenangan kecil” setiap hari instead of “satu kebahagiaan besar” yang jarang terjadi? Yang mana yang warganya lebih bahagia? warga yang memiliki peraturan yang ketat dan membosankan seperti Swiss? atau yang memiliki kebebasan luar biasa seperti Belanda? Benarkah senyum membuat hidup lebih bahagia? Adakah tujuan yang lebih besar daripada mencari kebahagiaan hidup? Apakah kebahagiaan bisa didapatkan dengan menyingkirkan “kebahagiaan pribadi” terlebih dahulu?

Eric Weiner memulai riset dia dengan mengambil referensi database kebahagiaan milik seorang profesor sosiologi di Belanda. Database ini sampai sekarang tampaknya tetap tidak bisa menemukan kausalitas dari sebuah kebahagiaan, jadi database ini hanya sekedar mengkorelasikan faktor-faktor yang kira-kira menjadi penyebab kebahagiaan. Dan… database ini tidak akan punya angka pembanding jika semua warga di dunia punya level kebahagiaan yang sama. Open-mouthed smile

Gw sangat menikmati flow dari buku ini. Rasanya seperti ikut jalan-jalan di lebih dari 10 negara dalam waktu kurang dari 3 minggu. Eric melakukan perjalanan ini dalam waktu kurang lebih setahun, dan gw akan segera menghabiskan buku ini dalam waktu kurang dari 3 minggu. I have to admit that my time is worth spent on this book. Banyak wawasan cara hidup yang bisa didapatkan dari buku ini. Banyak hal yang bisa direnungkan setelah membaca buku ini.

END,

Is this a travel book? Yes, but not a typical one. While I do log thousands of miles in researching the book, The Geography of Bliss is really a travelogue of ideas. I roam the world in search of answers to the pressing questions of our time: What are the essential ingredients for the good life? Why are some places happier than others? How are we shaped by our surroundings? Why can’t airlines serve a decent meal?

Is this a self-help book? Perhaps, but not like any you’ve read before. I offer no simple bromides here. No chicken soup. You will find no easy answers in these pages. You will, however, find much to chew on and, perhaps, some unexpected inspiration. We Americans, it turns out, have no monopoly on the pursuit of happiness. There is wisdom to be found in the least likely of places.

Eric Weiner

3 thoughts on “The Geography of Bliss: Eric Weiner

  1. hmm, iya, gw pernah baca yang link ini juga, riset Eric Weiner ini memang related ke positive psychology field, yang sebenarnya luar biasa kompleks, lebih gampang menjelaskan kenapa org merasa tidak bahagia daripada sebaliknya

    Anyway, ada wacana menarik dari raja Bhutan, dia mau menerapkan Gross National Happiness (yang tentu saja gw rasa sampai saat ini baru ada hipotesa framework pengukurannya doang). Argumentasinya, negara cuma mengukur rakyatnya kekurangan apa, tapi tidak pernah memikirkan apakah rakyatnya sudah kelebihan sesuatu. Jadi level ‘cukup’nya yang diriset. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s