Beijing

Sekitar awal Agustus kemarin, gw menggantikan profesor gw buat pergi presentasi di Beijing… sendirian. Syukurlah gw pulang lagi dengan selamat sampai ke negeri singa. Jadi, berikut adalah laporan kisah survival gw di negeri Cina Open-mouthed smile 

Departure

Sebelum pergi, gw pusing harus bawa uang berapa banyak karena takut credit card gw rejected di sana (dan gw cuma punya satu)… Tapi akhirnya sih bawa 1200 yuan saja untuk biaya hidup yang ternyata lebih dari cukup.

Pesawat terbang jam 00.15, dan sampai sana jam 6 pagi. Gw punya pengalaman unik. Setiap kali gw naik pesawat, orang sebelah gw SELALU ngajak gw ngomong (bahkan ketika gw pura-pura main tablet, mereka bakal nengok dan basa basi ke gw soal tablet gw =.=), jadi sebelum naik pesawat, gw bilang ke Su “karena kali ini gw gak bisa ngomong mandarin, mari kita lihat apakah sebelah gw bakal ngajak gw ngomong”.

Tebak? yak, gw tetap diajak ngomong, dalam bahasa mandarin. Gw bilang “gw gak bisa ngomong mandarin…” … dan dia tetap aja ngomong mandarin ke gw… jadi gw jawab dengan bahasa tangan seadanya. Setelah setengah jam diam, dia ngomong mandarin lagi ke gw %^&*()(*&

gw mengerti sih, perjalanan 6 jam memang membosankan…

Arrival

Bagaimanapun, gw sampai dengan selamat. Reaksi pertama? “masyaolo, ini polusinya sadis banget, lebih parah dari Jakarta!” … sambil memandang pohon-pohon kusam (bayangin, daun aja bisa keliatan berdebu) dan bangunan-bangunan yang kelihatan buram meskipun jaraknya sangat dekat.

Gw ambil koper, bayar 25 yuan buat airport transfer, dan 2 yuan buat tiket kereta one-way. Perjalanan dilanjutkan bersama koper butut dan keringat super deras (31-33 derajat Celcius). Gw udah hafalin bentuk hotelnya, dan sukurlah hotelnya masih sama bentuknya dengan yang di internet.

Hotel

Hotel ini adalah hotel yang stafnya bisa berbahasa Inggris semua. gw merasa super aman di dalam sini, dan super bahagia. Karena seminggu ke depan, gw super frustasi dan terus menerus berbahasa primitif dengan menggunakan berbagai macam gerakan pencak silat yang terpikirkan oleh gw.

Interaksi…

dengan waiter Subway, McDonalds, dan restoran-restoran lain yang tidak bisa dibaca namanya…

Semua menganggap gw orang lokal. Jadi mereka tidak pernah mempersiapkan diri ketika gw muncul di hadapan mereka. Gw udah menyaksikan berbagai macam reaksi waiter yang mukanya mendadak pucat ketika gw mengeluarkan satu buah kata bahasa Inggris.

Biasanya mereka akan mulai dengan ngomong mandarin ke gw, dan ketika gw ngomong dalam bahasa Inggris, mendadak lidah mereka kelu, muka mereka pucat, mereka langsung mandang temennya, dan muka temennya akan nyengir lebar sambil bilang “rasain lo, dapat cewe yg ga bisa ngomong mandarin, Tuhan menghukum elo karena elo gak pernah traktir gw makan, bwahahahha”. Setelah itu, mereka berhenti mendengarkan apapun yang gw katakan.

dengan satpam

kalau gw nanya, mereka langsung buang muka. “pu tung”. grrr…

dengan komite

seorang cowo komite conference lokal panik ketika gw ngajak dia ngomong, dan alhasil dia teriak ke temennya dalam bahasa mandarin “oii bantuin gw donnkk, gw gak ngerti dia ngomong apaa” (note: gw ngerti bahasa mandarin dikit-dikit, tapi gak bisa ngomong sama sekali)

dengan orang-orang random

tercatat 3 orang bapak-bapak berbagai usia yang menghampiri gw dan nanya sesuatu ke gw. Yang satu nanya alamat, satu lagi nanya jalan di kereta, dan yang terakhir manggil gw waktu gw lagi jalan kaki dan nada bicaranya terasa kayak ngomelin gw (wutt… apa salah gwaaa), Gw cuma nangkap kalimat pertama dia “oi putri kecil, lu gak liat nenek-nenek ini abrakadabra simsalabim abc panca lima dasarrr…” #pu.tung.

Facebook

Facebook diblok. Google bakal crash setiap kali gw googling kata Facebook. Gunakan Path untuk sarana bernarsis ria, karena dia belum diblok. 

Jalan-Jalan

Gw sempat ke Summer Palace di hari pertama dan ke Tiananmen Square di hari terakhir. Perjalanan ke Summer Palace makan waktu 4 jam, dan gw sangat menyarankan untuk sewa audio guide kalau gak ngerti apa-apa. Jalan sendiri itu membosankan, dan istananya mirip-mirip semua, jadi rada bosen kalau nggak ngerti tentang sejarahnya.

summer palace

adalah villa si raja yang luasnya 300 hektar, 80% nya air danau. Rajanya sih enak naik perahu, nah gw? jalan kaki di dalam sana. 4 jam aja belum selesai muter. Udah jalan sampai tengah, harus balik lagi. hadeuh. dasar raja sinting, ngapain sih bikin istana gede-gede…

tiananmen square

adalah kerajaannya si raja. Kali ini gw sewa audio guide, jadi benar-benar dapat penjelasannya. Menurut profesor gw, ada 9000 ruangan di dalam sana, 3000-nya buat para selir raja yang berkuasa saat itu. Kalau rajanya niat, perlu 10 tahun untuk ngunjungin semuanya. Tapi tentu saja raja juga manusia, jadi kebanyakan selir gak pernah liat raja sampe mereka meninggal. Oh well, setidaknya mereka hidup enak makan enak. Gw gak yakin mereka sanggup jalan kaki keluar istana sih, soalnya kaki mereka di-bind ya dari kecil. Untuk jalan keluar istana dari ujung ke ujung, perlu 40 menit. Ya wassalam dah kalau jalan kaki, minimal harus ditandu keluarlah.

Kemudian tiap kali raja mau makan, ada sekitar 100 piring makanan yang keluar, dan raja cuman ngambil 3-4 piring tiap kali makan siang.

Raja juga suka kebosanan, jadi suatu hari dia bilang ke bawahannya, “bikinin gw bukit donk di belakang istana, gw mau liat istana gw”. Jadi tiba-tiba ada bukit di belakang istana. Gw udah capek manjat, jadi gw cuma foto bukitnya, terus balik arah. Sebodo dah, sudah lelah saya. Akhirnya gw pulang setelah 5 jam jalan-jalan di dalam istana.

Great wall of China

gak sempat ngunjungin, soalnya conferencenya lebih menarik. hehehe.

Street Vendor

ada tukang buku yang jual buku di gerobak kacang pakai petromak. Harga buku-buku berbahasa Inggris cuman 20-25 yuan (sekitar 4-5 SGD), super murah!!! langsung borong buku. huahahahahahha

ada banyak PKL di sini kalau malam, ada yang jualan martabak telur, jualan tasbih, jualan tas kerajinan, dan tentu saja jualan buku murah. 

Kebersihan

ludah

Manusia-manusia jorok. Ludah di mana-mana. Satu bapak buang ludah tepat di depan gw (warnanya kuning terang), ketika kita semua sedang turun tangga di dalam stasiun MRT, membuat gw sukses harus loncatin itu tangga, atau berakhir menginjak ludah dia.

Buang ludah di tong sampah itu wajar di sini.

WC

gak sempat ke public toilet sih. WC di dalam kampus dan hotelnya bersih kok. Meskipun gw dua kali menemukan kotoran yang tidak disiram di WC cewek. Akhir-akhirnya 3 hari terakhir gw trauma dengan WC itu dan memutuskan untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh ke WC lain yang lebih terpencil.

Makanan dan minuman

kayaknya sih air yang dijual di botol itu diisi ulang (dilihat dari warna air dan bentuk es yang dibekukan, mirip-mirip air warteg Jakarta).

Semangka busuk

Gw ketemu pemandangan menarik waktu lagi istirahat di pinggir istana. Jadi kan banyak pemulung di daerah tiananmen yang kerjaannya mulung botol kosong. Nah, waktu itu gw lagi istirahat, eh ada pemulung yang nemu semangka busuk di tong sampah. Dia teriak-teriak ke temennya ‘woii, ada semangkaaaa, semangkaaa”. Temannya kemudian datang,

Jadi dia mengeluarkan semangka itu dari tong sampah, dan duduk di samping gw. Waktu dia mau buka itu semangka, dia menyadari kalau itu semangka udah beneran super busuk, mereka komplain-komplain, terus ninggalin itu semangka gitu aja abis dipecahin di samping tempat duduk gw …

gw sadar “no pic berarti hoax”, dan gw mau ceritain ini di blog, dan gw tau gw harus ngambil kamera buat foto itu semangka busuk buat bukti cerita. Tapi perut gw keburu mual-mual liat itu semangka busuk dan gw harus kabur dari sana untuk mencegah isi perut gw keluar =.=.

Ironi

3 hari pertama, 4 sales berbeda menawarkan gw untuk les Inggris di WallStreet Institute of China, dan mereka ngomong ke gw dalam bahasa mandarin. ARGHH #frustasi.

Demikian laporan jalan-jalan kali ini, ketika kembali ke bandara negeri Singa, gw sungguh sangat amat bersyukur karena tidak menemukan ludah, melainkan hanya kotoran burung di trotoar… #terharu :’)….

6 thoughts on “Beijing

  1. Temen kantor gw pernah cerita, kalo gak salah inget, katanya pabrik2 dulunya di dalam kota. Polusinya gila memang. Sekarang pabrik2nya udah dipindahin ke luar kota… lebih tepatnya di sekeliling kota :P. Jadi kalo lagi gak ada angin, mampus dah asapnya dateng dari segala penjuru.

    Btw, cerita tentang presentasinya juga donk. Tentang apa?

  2. gw attend konferensi Artificial General Intelligence. Sesuai judulnya, topiknya adalah tentang “strong AI”. Ini field yang baru direvisit lagi setelah sekian lama. Riset gw proposed new general module yg bio-inspired buat meng-construct AI architecture. Inspirasinya juga dari paper Cognitive Science. haha, akhirnya gw punya satu paper di dblp, lol.

  3. @dseptia: istana raja deaaa, raja sinting emang, 5 jam itu gak termasuk bukit buatan di belakangnya lho, masih ada istana / paviliun / whatsoever lagi di atas sana. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s