Malin, the Bedtime Stories of

Malin, begitu dirinya disebut oleh para tetangganya. Ia jarang mandi, bukan karena tidak mau, tapi karena selalu bekerja lebih dari setengah perjalanan matahari bertemu bulan.

Malin tinggal bersama ibunya, yang ia panggil mamak. Panggilan kesayangan katanya. Mamak dan Malin tinggal hanya berdua di gubuk jerami di dekat pantai. Jika malam bertandang, Mamak harus memeriksa dan memperkuat tali pemersatu atap dan dinding. Siapa tau sang pelindung naungan menolak untuk tinggal terikat. Maklumlah, angin bertiup kencang setiap kali bulan mulai bersinar.

Pernah satu kali, atap gubuk tersayang terbang menghantam kandang ayam tetangga. George, ayam tetangga kesayangan, menjadi korban naasnya. Hari berikutnya, diadakanlah pesta pemakaman satu malam penuh untuk menghormati meninggalnya George. Makanan bersantan menghiasi rumah empu Datuk Tambuah. Teman-teman George, Tina dan Tino, ikut bergabung di dalam lauk santan hari itu. Maksudnya itu, untuk menghormati George, si ayam jantan berbulu pirang yang selalu menang turnamen sabung ayam.satu daerah. Para tetangga Malin sangat menyesalkan insiden ini, bahkan kepala desa melakukan rapat kabinet darurat untuk membuatkan tali baru yang kuat dan tahan lama untuk gubuk Malin dan mamak. Sebuah peraturan daerah pun dikeluarkan setelah insiden George: yaitu, mamak dan Malin harus mengencangkan tali atap setiap malam.

“Mamak, tali sudah dikencangkan?”

begitu tanya Malin ketika pulang. Ia meletakkan hasil buruan dan beberapa potong kelapa muda di pojokan dekat tempat beras. Beras mereka tinggal sedikit. Malin melirik sekilas namun tak berkata apa-apa. Ia duduk saja di kasurnya yang bersebelahan dengan kompor minyak tanah satu-satunya peninggalan nenek. Malin kembali teringat nenek. Di suatu waktu kira-kira 2000 hari silam, nenek Malin kawin lari dengan seorang perjaka tampan, atau setidaknya, begitulah kata mamaknya. Malin mengangkat bahu. Ia sedang tidur saat neneknya minggat dari gubuknya.

“Sudah Malin. Mamak ada buatkan ikan teri dan nasi putih di meja”, sahut mamak sambil mengasah pisau di atas batu dengan gerakan yang elegan.

Malin memandang mamaknya. Mamak adalah seorang yang cantik dan anggun. Datuk-datuk bergiliran meminang mamaknya, namun tidak ada seorang pun yang bisa menggandeng hati mamaknya. Malin ingat mamak pernah berkata, bahwa ia memliki syarat-syarat penting untuk menjadikan seorang lelaki sebagai ayah anaknya. Salah satunya, ia harus memiliki harta moral dan intelektual, supaya ia bisa membimbing Malin menuju jalan yang berbahagia. Malin ingat pernah bertanya, bagaimana Mamak tahu bahwa lelaki di hadapannya adalah seorang yang memiliki harta moral dan intelektual. Mamak tersenyum dan menjawab lembut dan tajam.

“Mamak akan bertanya, apakah ia mengenal Machiavelli.”

Malin ingat pula, bahwa ia tidak tahu siapa Ma… chi… veli? Ia mengernyit, namun mengangguk-ngangguk saja. Mungkin salah satu pendatang mata biru yang rutin berlabuh di pantai dekat gubuknya. Begitu pikir Malin. Ia tidak ingin mamaknya kecewa karena ia tidak mengenali sosok yang disebut mamaknya dengan mata bersinar-sinar.

Malin ingat jua. Ia terlalu penasaran dengan sosok Maaciveli ini (nama yang dengan susah payah diingat olehnya). Ia memutuskan untuk berkunjung dan bertanya kepada setiap pelabuh kapal yang ditemuinya di pantai Mindang, tentang, apakah mereka mengenal seseorang bernama Datuk Maaci. Namun para pelabuh kapal malah mengajaknya mencuri Kolo, ayam Datuk Tambuah, sang juara turnamen pamer bulu tahun lalu.

Malin tidak menyerah. Kenyataannya, ia adalah anak yang pantang menyerah, kecuali ketika ia harus berdebat dengan mamaknya yang sedang mengasah pisau, dan juga ketika ada krustasea jenis apapun yang terpaksa parkir di gubuk mungilnya di kala air pasang. Malin pun menguping pembicaraan mamaknya dengan seorang Datuk berbadan besar yang tidak muat di pintu gubuk. Sayang punya sayang Datuk ini memaksa masuk jua, sehingga gubuknya hampir-hampir rubuh. Mamak terpaksa harus menambahkan peraturan baru mengenai lebar pinggang calon lelaki pujaannya yang tidak boleh melebihi dua kali badan mamak.

“Ahh, aku kenal si Ma’cik Aveli laa… Aku pelanggan setia pastel cabai hijaunya…”

Demikian jawab Datuk tersebut dengan keringat bercucuran di telapak tangannya. Malin mengernyitkan dahi. Ternyata bukan seorang datuk, melainkan seorang makcik bernama Veli? Malin memarahi dirinya sendiri yang terlalu cepat berkesimpulan bahwa nama itu adalah sebuah nama pendatang mata biru. Malin menunggu reaksi mamaknya. Namun mamak menggeleng kecewa, dan menjawab bahwa Datuk sebaiknya mengurangi makanan yang berminyak.

Malin menghela napas panjang. Tidak ada gunanya dipikirkan. Siapapun makcik ini, ia tidak akan membantu mengurangi selera makannya yang saat ini sedang menggelegar. Ia bangkit mengambil nasi dan sejumput ikan teri. Ditemani dengan sesendok sambal, Malin duduk di sebelah mamak sembari memasukkan satu sendok besar nasi ke dalam mulutnya. Nasi di piring Malin terlihat berkurang satu per tiga setelah lahapan pertamanya.

“Mamak sedang apa?” Malin duduk berbasa-basi dengan mamaknya yang masih mengasah pisau. Mamak mengangkat pisaunya yang lebar. Lebarnya kira-kira setengah dari wajah Malin dan mamak. Mamak mengangkat pisaunya untuk berkaca dan membetulkan rambutnya, kemudian ia kembali mengasah pisau tersebut sembari menjawab:

“Mamak sedang mengasah pisau, Malin. Mamak bosan memotong kepiting setiap hari. Mamak mau belajar memahat batu.” Jawab mamak dengan lembut. Angin dingin dari pantai Mindang menyeruak masuk gubuk, membuat Malin sedikit bergidik.

“Memahat batu dengan pisau, mamak?” Malin bertanya sambil memasukan sendok nasinya untuk terakhir kalinya, yang merupakan lahapan ketiganya.

“Begitulah Malin, kata pelabuh kapal, memahat batu bisa dilakukan dengan sebilah palu dan sebilah pasak, tapi mamak hanya punya sebuah pisau, jadi mamak coba gunakan saja” Mamak menunjuk pelan ke sebuah batu sambil tersenyum bangga. “Ini hasil karya mamak yang pertama.”

Malin memandang batu itu. Ia tidak menyadari keberadaan batu itu karena ia teronggok di antara kepiting-kepiting yang dikumpulkan mamak. Ketika Malin memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas, terlihatlah sebuah kepiting yang lebih gelap dari yang lain. Kepiting itu, terbuat dari batu. Jumlah kakinya tepat sepuluh buah, persis seperti kepiting asli.

“Mamak… membuat kepiting dari batu?”

Mamak tersenyum saja.

“Iya, Malin. Mungkin bisa ditukar dengan seikat sayur dari pasar ya Nak.”

Malin tidak habis pikir, bagaimana bisa Ia dan mamaknya begitu miskin. Tetangga-tetangga di sebelahnya memiliki rumah besar dengan tanduk di atapnya. Ada yang punya satu tanduk, ada pula yang punya sebelas tanduk. Semakin banyak tanduknya, semakin makmurlah penghuninya. Sebagai contoh, rumah Datuk Tambuah memiliki tiga buah tanduk. Atap rumahnya saat ini miring sebelah karena saat menambahkan sang tanduk, ia lupa mempertimbangkan apakah atapnya akan bisa menopang berat tanduk tambahan itu.

Malin memandang sedih ke mamaknya. Ia sedih melihat tangan mamaknya menjadi kasar dan penuh luka karena harus bertarung melawan krustasea-krustasea galak itu (ia melirik ke arah tumpukan kepiting-kepiting) . Ia ingin mamaknya hidup layaknya makcik Boegis yang bisa setiap hari naik kereta untuk berbelanja kain. Ia ingat ketika kecil ia pernah mengucap dengan tulus bahwa ia ingin mamaknya hidup demikian. Tetapi mamak malah memarahinya dan berkata Malin mengutuknya. Mamak menambahkan penjelasan bahwa makcik Boegis memiliki penyakit asam urat yang parah sehingga ia tidak bisa berjalan dan ditandu dengan kereta ke mana-mana. Malin memandang mamaknya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak ingin hidup lebih sejahtera? Sepuluh tahun kemudian Malin menyadari bahwa mamaknya hanya berusaha supaya Malin tidak perlu cemas dengan kondisi keuangan mereka.

Malin tersenyum penuh kasih kepada mamaknya. Ia sudah menemukan cara untuk mengangkat mamaknya dari jurang kemiskinan.

“Mamak…” Malin memanggil ibunya dengan lembut. Mata Malin penuh dengan keyakinan baru.

“Malin ingin… merantau.”

Malin mengutarakan isi hatinya sedetik kemudian.

Pesan sok misterius: to be continued or not nih? *brb lari-lari kejar kepiting*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s