#2, Malin, the Bedtime Stories of

Jantung Malin berdegup kencang. Ia sudah sampai di hadapan pintu gubuk. Dengan hati-hati ia meraih gagang pintu (yang terbuat dari besi berkarat yang telah dipilin puluhan kali) dan menariknya sedikit. Bunyi ‘krieeeeet’ kecil terdengar, menandakan pintu yang bergeser sedikit. Malin menarik napas. Kakinya sudah terangkat sebelah, ketika tiba-tiba terdengar bunyi desing kecil mendekati Malin dengan kecepatan tinggi. Sepersekian detik kemudian, sebuah benda bersinar melayang kencang melewati wajah Malin, dan berhenti tertahan tepat di depan wajah Malin. Napas malin tertahan. Ia bisa melihat cerminan wajahnya yang pucat pasi di hadapan benda itu. Pisau mamak.

***

Hidup Malin bisa terbilang bahagia. Selain masalah keuangan, atap bocor, atap terbang, dan makanan di meja yang kadang ada kadang tidak, pada dasarnya Malin adalah anak yang ceria. Malin punya mamak, mamak punya Malin. Mamak dan Malin saling memiliki. Malin ingat ketika Beta, tetangga Malin yang masih lima tahun umurnya, menasehatinya. Kata Beta, kasih ibu kepada Beta tidak terhingga sepanjang masa. Malin manggut-manggut setuju. Malin yakin, kasih mamak kepada Malin pun tidak terhingga sepanjang masa.

“Malin ingin… merantau.”

Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di benak Malin. Reaksi mamak bisa ditebak. Malin melihat mata mamak berkaca-kaca. Mamak pasti sedih, pikir Malin. Mamak hanya punya Malin, dan saat ini Malin ingin meninggalkan mamak sendirian. Demi kehidupan mamak yang lebih baik, alasan Malin. Mamak meletakkan pisaunya, dan memandang Malin lekat-lekat. Ia mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya ketika Malin memohon doa restu mamaknya untuk membiarkan ia merantau.

“Malin… “, suara mamak tercekat.

“Iya mamak…”, Malin menjawab dengan patuh. Ia merasakan kesedihan mamaknya. Tetapi Malin adalah pria dewasa sekarang. Umurnya sudah tujuh belas tahun. Ia yakin ia bisa mendapatkan pendapatan yang lebih baik di negeri seberang. Malin membayangkan ia akan kembali dengan kapal besar penuh awak untuk menjemput mamaknya. Malin membayangkan ia akan mengenalkan kepada mamaknya seorang istri nan cantik, sopan, dan lemah lembut untuk menjaga mamaknya. Malin bangga hanya dengan membayangkan keberhasilan di masa depannya. Senyum mengembang di wajahnya ketika ia membayangkan betapa mamak akan sangat bangga kepadanya.

Imajinasinya terputus ketika mamak memeluk Malin tanpa berkata apa-apa. Air mata mengalir di wajah mamak. Malin menepuk-nepuk punggung mamaknya. Mamak sudah agak tua dan rapuh. Badannya yang kecil memeluk Malin dengan erat.

Tiba-tiba terdengar bisikan lembut dari mamak. “You are not going anywhere, not for maybe another hundred years…”

Malin tidak mengerti satu katapun yang baru saja diucap mamak. Lagi-lagi udara dingin berhembus masuk ke dalam gubuk, membuat Malin merinding tiada henti.

Mamak melepaskan pelukannya dan memandang Malin dengan penuh kasih sayang. Ia mengacak-ngacak lembut rambut Malin yang sudah berantakan. Lima menit kemudian ia sudah kembali mengasah pisaunya yang sudah terlalu tajam. Kegundahan yang jelas terpasang pada wajah mamak.

Mamak terkadang berbicara kata-kata yang tidak dapat ia mengerti. Malin menggaruk-garuk kepalanya. Ia paham kosa-kata bahasa Pindangnya tidak terlalu kuat, tapi biasanya dia bisa menangkap maksud mamaknya. Kali ini tidak satu kata pun ia tangkap. Tampaknya mamak menggunakan bahasa Pindang tingkat tinggi untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepadanya. Demikian Malin menebak-nebak maksud kalimat mamaknya.

Malin diam saja untuk beberapa waktu. Ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia akan bergabung dengan kapal paman Sinaga Simanjorang yang akan berlabuh selama tiga hari ke depan di dermaga pantai Pindang. Tapi ia ingin menunggu mamaknya untuk memberi ijin sebelum ia bisa menjelaskan lebih lanjut.

Akhirnya mamak selesai mengasah pisaunya. Ia menarik napas panjang, mempertimbangkan kembali jawaban apa yang akan ia berikan kepada Malin. Mempertimbangkan kembali, kembali, dan kembali. Tampaknya tidak akan selesai pertimbangan yang dilakukan mamaknya.

“Mamak…?” Malin menyadarkan mamak akan lamunannya.

“Malin…” mamak memulai dengan pelan. “Mamak tidak sadar Malin sudah sebesar ini. Mamak hanya takut Malin bertemu dengan orang-orang yang tidak baik… Mamak cemas… Mamak sudah terbiasa melindungi Malin dari kecil… Mamak yang selalu menjauhkan kepiting-kepiting itu dari Malin…” mamak menunjuk ke arah kepiting-kepiting di sebelahnya.

“Mamak juga yang mengusir pencuri yang mau menculik kamu untuk dijadikan budak sewaktu kecil…” sekilas mamak memandang pisaunya, membuat Malin ikut mengarahkan pandangannya ke benda itu. Pisau kesayangan mamak yang selalu diasahnya sejak Malin kecil.

“Mamak tidak perlu khawatir,” Malin menepuk dadanya dengan bangga. “Malin akan baik-baik saja”.

Mamak menarik napas.

“Mamak tidak bisa tenang, Malin…”

Malin bisa mengerti kegundahan mamaknya. Namun bagaimana pun ia ingin mamaknya memberi ijin restu kepadanya sebelum ia berangkat. Kapal S.S akan berlabuh besok pagi-pagi sekali di dermaga, menurunkan barang-barang selama dua hari, dan berangkat pada hari ketiga, pagi-pagi sekali. Malin sudah mendapatkan persetujuan dari paman Sinaga untuk ikut berlayar. Ia sama sekali tidak ingin melepaskan kesempatan ini.

“Bagaimana caranya supaya aku bisa menghapus kegundahan mamak?” Malin menatap mamak dengan sepenuh hati. Ia ingin hati mamak tenang. Ia tidak ingin pergi diiringi wajah cemas dari mamak.

Mamak berpikir sebentar, memandang Malin. Mamak menggeleng-geleng, tidak yakin. Ia memandang Malin lagi, kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Malin tertawa terbahak-bahak.

“Mamak… ingin aku keluar dari gubuk ini dengan selamat tanpa sepengetahuan mamak?” Malin tidak bisa mempercayai pendengarannya. Apa maksud mamaknya? Malin kembali tertawa, mengira mamaknya bercanda dengannya. Tetapi mamak tidak tersenyum sama sekali. Raut wajahnya yang cantik kini terlihat serius. Mau tidak mau Malin pun mulai percaya bahwa mamaknya tidak main-main.

Malam itu perjanjian antara Malin dan mamak pun dibuat. Malin harus bisa melarikan diri dari gubuk tanpa sepengetahuan mamak sebelum kapal S.S berlayar kembali. Mamak berkata ia akan melepas Malin dengan tenang jika ia dapat melaksanakan permintaan mamaknya itu. Tidak sulit, pikir Malin. Bagaimana mamak akan menahannya keluar dari gubuk? Jelas badan Malin lebih besar dari mamaknya. Jelas Malin lebih kuat dari mamaknya yang berbadan mungil. Malin menggeleng-geleng tidak percaya. Mamak pasti sudah akan melepaskan Malin dari awal, mungkin Ia hanya ingin membuat kenangan manis bersama Malin sebelum ia pergi.

Malam itu, Malin menyiapkan tas kulit sapi yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia mengisi tas itu dengan dua potong pakaian, sebuah tali dengan kait, sebuah perekat dari getah pohon, sebuah tang kecil, sebuah ketapel yang dibuatkan mamak saat kecil, tidak lupa dengan beberapa kelereng yang selalu ia bawa bersama ketapelnya. Ketika ia memasukkan ketapelnya, sesaat ia merasa seperti anak-anak yang akan pergi pelesir. Tapi ketapel ini adalah satu-satunya benda yang pernah dibuatkan mamak untuknya. Ia memutuskan untuk membawanya sebagai kenang-kenangan untuk selalu mengingat mamaknya.

“Masih tiga hari, ” pikir Malin.

Ia merebahkan dirinya di kasur dengan santai, merencanakan bahwa ia akan keluar diam-diam esok hari ketika Mamak sedang pergi menangkap kepiting. Bukan hal yang sulit sama sekali. Ia sudah terbiasa bangun pagi menjelang subuh untuk pergi bekerja.

“Malin, minum teh dulu sebelum tidur.” Mamak tersenyum sembari mengambil teko berisi air panas yang baru saja dijerang.

“Iya mak.” Malin mengambil cangkir retak yang diletakkan mamak di meja. Besok pagi, ia sudah akan berada di dalam kapal , membantu para awak kapal untuk mengangkut kerat-kerat barang dagangan. Besok pagi, ia tidak akan melihat mamaknya lagi. Besok pagi, ia akan memulai satu langkah awal menuju kesuksesannya. Dan siapa tahu, akan ada nona cantik di negeri seberang yang tertarik pada Malin. Ah, siapa tahu, nona cantik ini adalah jodoh masa depannya, nona cantik yang membangunkannya dari tidur setiap pagi dengan senyuman lembut, nona cantik yang memijat pundaknya yang pegal setiap malam, Malin tersenyum penuh keyakinan membayangkan masa depan indah yang akan dia hadapi mulai besok.

“Sebaiknya tidur sekarang, supaya bisa bangun lebih pagi esok hari,” pikir Malin.

Dengan diakhiri satu tegukan teh pemberian mamak, Malin pun merebahkan dirinya di kasur dan tertidur pulas.

Pesan:

*ahem, baru balik dari kejar-kejar kepiting.* Baiklah, penulis baru dapat komplain dari pemeran utama yang tampaknya lumayan concern tentang keselamatannya di episode 3. Uhmm… dengan ini, penulis menyatakan bahwa pemeran utama tidak akan kehilangan nyawanya di episode 3. Namun penulis tidak bisa menjamin kemungkinan terjadinya cacat tubuh atau cacat mental kepada pemeran utama… ehehehe *grin* *brb, pergi cari pisau mamak*

Poll:

Siapakah tokoh favorit anda sampai saat ini?

1. George

2. Malin

3. Mamak

4. Pisau mamak

5. Kepiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s