Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

Yogyakarta – Day 2
Destinasi: Borobudur, Bale Kambang, Prambanan, Ayam Goreng Suharti

Borobudur

Jam 9 pagi kita dijemput oleh pak S, supir kita selama di Yogya. Tujuan pertama kita hari ini adalah Borobudur. Ini akan jadi kunjungan kedua gw. Kunjungan pertama gw itu 10 tahun lalu, dan belum ada loket khusus turis internasional. Bedanya dengan dulu, sekarang ada pengecekan, apakah gw orang lokal, Su diminta KTP nya, terus gw ditanyain lagi di pintu cek tiket. Total-total ditanya 2-3 kali.

Hari itu panas banget, kita jalan kaki ke Borobudur, dan Su, seperti biasa, dengan tekun memutari seluruh komplek Borobudur. Jadi kita ikutan muter deh, dari satu lapis ke lapis lain, sampai lapis paling atas. Sementara itu, gw sibuk bacain brosur Borobudur yang bisa diambil di information centernya. Jadi setelah baca brosur itu, yang gw inget kira-kira adalah (CMIIW lho):

  • ada 3 layer di Borobudur, layer paling bawah itu isinya ukiran-ukiran kehidupan manusia yang masih duniawi, layer kedua (ada beberapa tingkat) itu kayaknya ukiran-ukiran untuk manusia yang sudah tercerahkan, dan layer ketiga adalah level Nirwana nya (yang cuma ada stupa doang, gak ada ukiran). Untuk level Nirwana, bentuknya gampang dikenali, karena lantainya bulat, sedangkan yang borobudur itu bentuk lantainya masih kayak polygon.
  • Borobudur dibangun di abad 7 – 8 di jamannya Dinasti Syailendra
  • Borobudur gak kelar dibangun (menurut buku lain yg gw baca, Borobudur itu dibangun tanpa blueprint), kayaknya ditinggalin gara-gara tiba-tiba ada bencana alam di sana (menurut perkiraan para arkeologis)

Di sepanjang jalan, kita menemukan banyak gerombolan anak-anak sedang mencegat foreigner, diajak ngomong, diajak foto, dijelasin tentang Borobudur… ternyata… mereka lagi dapat tugas conversation bahasa Inggris. Dely juga kena.

https://flic.kr/p/G8DA75

Anyway, Borobudurnya bagus, tapi pengunjungnya perlu diedukasi lagi… kadang-kadang kita masih nemu sampah di lantai atau stupanya, gw lupa Su mungutin sampah di Prambanan atau Borobudur, tapi gw inget dia ngedumel. Habis pulang dari sana, gw beli cobek dan ulekan di tempat oleh-olehnya (kenapa gw beli di Borobudur? karena ada yang jual – sekian – ). Dari sana kita lanjut pergi makan Gurame Bakar di Bale Kambang.

Bale Kambang

Gak ada cerita di sini, cuma makan enak sambil nontonin bapak anak main sampan.

Screen Shot 2016-05-14 at 8.18.02 pm

Prambanan

Setelah kenyang dan puas, kita lanjut ke Prambanan. Di perjalanan, Pak S sempat nunjuk satu jembatan yang ketutupan sama batu gede selebar jembatannya. Kata dia, itu batu yang kelempar dari mulut Merapi waktu meletus. Gilee gedenya. Sayang gw gak sempat foto.

Oh, sebelum ke Prambanan, Pak S sempat bawa kita dulu ke Candi Plaosan. Dia tau kali ini penumpangnya suka liat candi. Jadi dia putar agak jauhan, kasih liat kita candi itu, terus baru putar arah ke Prambanan.

DSC06884

Ini pertama kali gw ke Prambanan. Kompleksnya gede juga. Intinya ada 3 layer juga.

  • Layer ketiga gak ada isinya.
  • Layer kedua kalau gak salah ada 200an candi2 kecil (namanya candi Perwara).  Pas foto-foto di situ, Dely didatangin orang India, terus ditanya “orang Vietnam ya?”. Terus di dalam candi, Vendy dikira bule, terus diajak foto bareng meskipun dia udah bilang dia bukan orang bule. Udah gitu si cewe yang ngajak foto pake acara nge-yes di udara pula abis ajak Vendy foto – artis nih ye –
  • Layer ketiga isinya candi buat Wisnu, Siwa (paling gede di tengah), Brahma. Masing-masing punya kendaraan tuh, kendaraannya dibikinin candi juga masing-masing. Jadi ada candi angsa, candi banteng, sama candi garuda. Yang banteng masih ada patungnya, meskipun putus satu tanduknya, yang garuda sama angsa udah terbang pergi (aka gak ada patungnya di dalam candinya). Abis itu ada dua candi apit, dan 8 candi di seluruh titik mata angin. Di sini juga kita menemukan sapu lidi dan pengki dan botol minum di dalam candi kecilnya.

Nah ruangan di dalam candinya kan gelap gulita tuh, jadi gw pakailah lampu baca gw buat senter. Sayang lampunya terlalu kecil, jadi gw harus jalan dekat-dekat sama temboknya buat liat ukiran-ukirannya. Kalau kata Vendy: berasa kayak berpetualang versi Indiana Jones.

Candi Sewu

Dari Prambanan, kita lanjut jalan kaki ke Candi yang katanya buat lumbung, terus jalan lagi ke Candi Sewu (Ini masih satu komplek sama Prambanan).

Waktu itu udah gelap dan sudah sepi pengunjung. Kita masuk ke dalam Candi Sewu, candinya gede di dalamnya, dan kita gak bisa liat apa-apa, gw liat ada tangga naik, ya gw naik terus sampai atas, tapi kosong di sana, cuma ada kayak altar gede… dan bunyi tetesan air… Creepy… Langsung cepat-cepat keluar dari sana abis itu.

Setelah keluar, gw duduk sebentar di pintu candi utama sambil menunggu Su yang menghilang di balik reruntuhan candi. Nggak lama kemudian, kita disamperin sama pak satpam penjaga, katanya kompleksnya udah mau tutup karena udah malam. Kita bilanglah, ada satu anak masih keluyuran di reruntuhan, kita lagi tungguin dia.

ngobrol_ama_pak_satpam

Sementara menunggu, kita tanya-tanya dia tentang candi ini. Pak satpam bilang, konon ini adalah Candi Buddha, soalnya katanya di dalamnya ada patung Buddha Maitreya dari perunggu. Tapi sekarang udah ilang. Meskipun begitu, candi Sewu ini dibangunnya tetap terinspirasi oleh candi Hindu (emang lebih mirip Prambanan sih daripada Borobudur). Seandainya masyarakat Indonesia mau belajar dari sejarah, candi beda agama aja bisa dibangun sebelahan di jaman dulu kala dan gak ada konflik tuh.

Pak satpam cerita macam-macam lagi abis itu, tentang orang-orang luar yang dipanggil untuk memugar candi ini, tentang bagaimana batu-batu di tiap candi gak boleh ditukar-tukar sekalipun bentuknya sama, tentang kepala-kepala patung yang dibawa pergi di jaman penjajahan dan gak bisa dibalikin lagi karena udah jadi properti mereka, tentang abdi dalem versi jaman kerajaan dulu yang dengan sukarela membangun candi-candi ini.

DSC06920

Su kemudian kembali dari penjelajahannya. Tidak terasa, langit makin gelap, akhirnya kita pamitan sama bapak satpam dan menuju pintu keluar. Hari itu gw rasa gw jadi lebih menghargai sejarah Indonesia, dan diam-diam berharap anak-anak yang datang ke candi ini gak cuma selfie-selfie aja, tapi meluangkan waktu juga untuk mempelajari betapa kayanya sejarah Indonesia sebenarnya.

Ayam Goreng Suharti

Begitu keluar dari Prambanan, perut udah mulai keroncongan. Jadi kita tanya si bapak supir, bisa putar ke resto Ayam Goreng Suharti nggak? Ternyata bisa karena memang sudah dekat dan satu arah dengan hotel.

Sekali lagi kita makan sampai puas dan kekenyangan. Ketika sudah tiba waktunya membayar… ternyata bon-nya belum dikasih ke kasir. Jadi… solusinya? Kasirnya kemudian dengan santainya suruh kita sebutin lagi makanan apa aja yang tadi kita makan.

Ullen Sentalu tutup setiap Hari Senin

Kita kembali ke hotel setelah makan malam.

Setelah kelar beberes, Su nanya, Ullen Sentalu buka jam berapa besok karena mau planning antara ke Merapi dulu atau Ullen Sentalu dulu. Pas gw cek di website, ternyata Ullen Sentalu tutup hari Senin!! Dan besok hari Senin! Dan kita gak sewa mobil untuk hari Selasa! Haiz, untungnya bapak supir bisa diundur hari sewa mobilnya, padahal last minute banget itu. Terima kasih bapak supir!

Malam itu kita keluyuran bentar ke Indomaret, menemukan bangunan aneh bertuliskan HellHouse, menemukan abang nasi goreng tek-tek yang udah abis nasinya, sisa mie goreng doang, menemukan jalanan perumahan tempat orang-orang sedang ngumpul-ngumpul sesama tetangga sambil makan-makan lesehan di luar rumah.

Memandang bintang

Sesampainya di hotel, gw ngecek aplikasi gw untuk siap-siap ke Bromo: SkyView Free. Aplikasi ini bisa ngebantu kita buat nge-detect bintang apa yang sedang kita lihat di langit. Caranya, dia detect lokasi kita pakai GPS, dan kalau kita arahin ke langit, dia akan adjust posisi bintangnya. Mas-mas hotel yang lagi merokok di teras depan terus ngeliat kita lagi liat-liat bintang, dia bilang, naik ke benteng aja. Lah? Benteng apa? Ternyata hotel kita tepat di sebelah benteng utara keraton! Whee~ So, kita ijin masuklah sama satpam penjaga mesjid (bentengnya nempel sama mesjid seberang hotel).

Malam itu kita lihat: Jupiter, Mars, dan kaki rasi Libra.

Kita lihat jauh lebih banyak lagi ketika kita sampai ke Bromo.

Screen Shot 2016-05-14 at 11.52.23 pm

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

  1. Gue seneng banget bisa jalan2 keliling dari Jateng ke Jatim.. Ngeliat candi2, pemandangan2, feel the adventurous mountain tracking dan kuliner hahaha… thanks for the three of you all. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s