Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

Yogyakarta – Surabaya – Bromo – Day 5
Destinasi: Stasiun Tugu jam 6 pagi, Surabaya jam 12 siang, Bromo jam 3 sore

Sancaka Pagi

Keretanya berangkat jam 6.45 pagi. Kita beli sarapan di stasiun untuk dibawa ke dalam kereta. Pemandangannya bagus. Kebanyakan pegunungan dan sawah-sawah.

Unknown-2

Sekitar jam 12-an kita dijemput oleh pak supir dari tur Bromo yang kita sewa. Kita juga lewatin Sidoarjo, tempat lumpur-lumpur itu berkumpul.

Sebelum menuju hotel, kita makan siang dan belanja cemilan dulu di Indomaret. Pak supir tanya kita ada yang mabuk darat gak? Karena jalanannya belok-belok. Untungnya kita semua nggak ada yang mabuk darat. Sekitar jam 3 sore kita sudah sampai hotel, makan malam jam 7 malam, kemudian siap-siap tidur karena jam 3 pagi kita akan dijemput oleh jeep untuk naik ke Pananjakan untuk lihat matahari terbit.

Kisah Backpacker dari Perancis 

Hari itu hotel kosong. Cuma ada kita berempat dan 2 backpacker dari Perancis. Malam itu waktu gw dan Dely sedang pakai aplikasi SkyView di luar hotel, 2 backpacker itu sampai ke hotel dengan motor. Gw udah expect mereka bakal kesulitan komunikasi dengan bapak penjaga hotel, jadi kita mampir sebentar untuk bantu-bantu translate (“jadi mbak, tanyain mereka donk nanti mau naik jeep atau naik ojek ke atas gunung?”). Terus udah, kita lanjut hunting bintang lagi.

Nah waktu gw balik ke kamar buat mandi, kamar gw diketok lagi (“mbak, saya nggak tau gimana caranya tanya mereka mau makan… nasi goreng… atau rawon…?). Karena gw baru kelar mandi, Dely yang turun buat translate-translate. Gw, Su, dan Vendy nyusul kemudian (karena kita nggak ada kerjaan toh).

Terus gw gak tau apa yang terjadi. Mereka buka-buka buku travel mereka, tau-tau aja mereka nanya harga jeep, harga tiket masuk, muka panik, dan ternyata… jeng jeng jeng, duit cash mereka ternyata nggak cukup buat bayar jeep dan tiket masuk. Mereka bawa kartu kredit, tapi mana ada mesin EDC coba di atas gunung. HP Dely aja nggak ada sinyal di sana. Nggak ada internet, nggak ada sinyal telepon, apalagi mesin EDC…

Untuk naik ke gunung, perlu 1 jam naik jeep. Jalan kaki bisa sih, paling 3-4 jam? :))

Vendy bilang mobil jeep kita sebenarnya masih muat kan buat tambah 2 orang lagi, tapi kita nggak berani nawarin solusi demikian soalnya belum tentu bisa. Su keluyuran di depan sambil ngobrol sama bapak penjaga hotel, tanya-tanya kapasitas jeep, sambil intip-intip si 2 orang ini. Mereka masih muka panik, kelihatannya masih nggak nemu solusi. Akhirnya Su bilang, sebenarnya mereka bisa nebeng kita, paling bayar sedikit tambahan ke pemilik jeep. Tapi masalah lain lagi muncul, mereka harus sampai ke stasiun kereta jam 4 sore dengan bus, yang artinya jam 11 pagi besok mereka udah harus sampai hotel lagi. Emangnya kita bisa janji kalau jeep kita bakal sampai jam 11 pagi besok di hotel lagi? Kalau nggak, mereka bakal ketinggalan kereta dong?

Mereka kayaknya udah nyerah. Akhirnya mereka memutuskan nggak jadi ke Bromo, dan balik aja ke stasiun besok pagi-pagi :(

Waktu mereka udah nyerah, gw iseng-iseng nanya, mereka emangnya mau ke mana abis ini. Mereka bilang mereka mau lanjut ke Kawah Ijen. Hmm… gw ingat tur yang kita sewa kan ada paket tur ke Bromo dan Ijen. Gw bilang ke mereka gw bisa bantu tanyain ke orang tur… tapi masalahnya… TAK ADA SINYAL. Dely berusaha nelpon but to no avail. Saat kita sudah mau menyerah, tau-tau muncul revelation: pemilik hotel ini adalah ibunya si pemilik tur. Eaa… Dia bilang “ayo, ngomong sama anak saya, di rumah saya bisa dapat sinyal…”

Jadi jam 10 malam gw dibawa naik motor malam-malam mengunjungi rumah si ibu yang ternyata cuma 100 meter dari hotel. Untuk nelepon, gw harus berdiri di depan pintu masuk (harus tepat di depan sana, kalau nggak, sinyalnya langsung hilang lagi). Gw nego-nego, hafalin alternatif perjalanan ke Kawah Ijen dari Bromo (ternyata bisa lewat 2 jalur), terus turun lagi, ngomong sama si turis.

Jam 11 malam, kesepakatan terjadi. Mereka bakal ikut jeep kita, dan mereka bakal diantar ke hotel mereka di daerah Banyuwangi dengan mobil travel, jadi mereka gak perlu buru-buru waktu turun dari Bromo, dan dapat kendaraan yang lebih nyaman daripada bus dan kereta.

Lah, bayarnya gimana…? Setelah gw jelaskan permasalahannya, bapak pemilik tur pagi-pagi naik ke gunung dengan mesin EDC nya… Oh, yeah, betapa fleksibelnya orang-orang Indonesia… B-)

Malam itu kita semua ramai-ramai berkunjung ke rumah ibu pemilik hotel, disuguhi kopi khas Tengger, pinjam toilet, ngobrol-ngobrol dengan bapak pemilik hotel, menemukan kumbang raksasa ( yang dikira kecoa oleh para turis =)) ), dan lanjut memandang bintang.

Malam itu kita lihat Jupiter, Mars, Virgo, Libra, dan Scorpio.

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

  1. Gue seneng banget bisa jalan2 keliling dari Jateng ke Jatim.. Ngeliat candi2, pemandangan2, feel the adventurous mountain tracking dan kuliner hahaha… thanks for the three of you all. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s