Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

Bromo – Batu – Day 6
Destinasi: bangun jam 3 pagi, Pananjakan 1, Pasir Berbisik, Savanna, kawah Bromo, gunung Batok, Stasiun Malang, Batu, Taman Makam Pahlawan.

Pananjakan 1

Jam 3 pagi sesuai jadwal kita bangun dan menemukan jeep orang lain sudah di depan hotel. Lho, jeep kita di mana? Ternyata 10 menit kemudian baru sampai. Untung jeepnya hardtop (ada tutupnya), kalau nggak bakal dingin banget anginnya.

Sekitar 1 jam kemudian kita sampai ke Pananjakan 1, tapi mobilnya sudah banyak (ini hari libur, dan banyak orang naik ke atas sana). Pak supir menawarkan untuk lihat matahari terbit di Pananjakan 2 aja, tapi kita udah tanggung penasaran mau liat pananjakan 1 kayak gimana. Lagian kelihatannya dekat kalau jalan kaki dari tempat parkir. Ya udah kita jalan kaki naik.

Capek gak jalan kaki?

Nggak bakal capek sih… kalau nggak ada asap mobil jeep dan asap motor yang mengepul-ngepul di sepanjang jalan x_x… Baunya gak nahan. Udah gitu ojek-ojek yang nawarin untuk bawa kita ke atas itu senang sekali menghalangi jalan… err…

Sesampainya di Pananjakan 1, tempatnya sudah penuh dengan orang. Sepanjang jalan ada warung indomie (ugh, enak banget nge-indomie pas dingin-dingin begini), toilet 4,000 rupiah sekali pakai, dan jagung bakar. Gw kepingin banget makan jagung bakar di udara dingin, tapi abis cium bau asap knalpot, mood jadi agak hilang.

Anyway, kita dapat baris ke 4 atau 5 gitu di viewpoint. Duduk deh di sana sambil keluarin si SkyView. Orang yang duduk di belakang kita ikutan penasaran juga.

Hari itu gw lihat:

  • Milky Way (That is damn cool),
  • Bintang jatuh (cuma gw yang lihat. Dan feelingnya nggak kayak macam di film-film, bintangnya muncul, jatuh, dan hilang cepat sekali, cuma sepersekian detik)
  • Capricorn
  • Sagitarius tentu saja karena dia dekat milky way
  • Scorpio
  • Aquarius… (dikit, kehalangan sinar flash dari para selfie-er)
  • Venus (yang sempat gw kira lampu BTS dari kejauhan)

Matahari pun terbit, tongsis tongsis juga terbit semua. Ada 4 detik di mana gw nonton matahari terbit lewat ketek orang yang lagi selfie. Yah, namanya juga hari libur. Siapa suruh pergi pas hari libur, ya penuhnya begini =)).

DSC07221

Tapi selain itu, gw merasa hoki banget karena langit super cerah hari itu. Tumben-tumbennya hampir tidak ada awan hari itu, sehingga semua bintangnya kelihatan jelas. So, thank God!

Gunung Bromo dan Sekitarnya

Weis, abis puas foto-foto di Pananjakan 1, gw beli kartu pos untuk kenang-kenangan. Terus kita turun kembali ke jeep. Pak supir sedang ngopi-ngopi santai waktu kita sampai. Langsung deh dia buru-buru kelarin kopinya terus bawa kita menuju destinasi berikutnya: gunung Bromo itu sendiri. Kita turun menuju daerah berpasir di sekitar gunung Bromo

batok

Hari itu kabutnya tebal di sana, jadi pemandangannya exceptionally cool. Waktu kita turun ke daerah berpasir itu pemandangannya mirip-mirip Silent Hill. Kemudian pas kita sampai ke daerah pasirnya… sepanjang jalan cuma ada pasir… nggak kelihatan apa-apa di horison di depan kita, dan… kabut. Embun-embun di ilalang-ilalang sepanjang jalan bikin suasana jadi tambah romantis… (Catatan: ini cuma romantis buat dipandang ya, ilalangnya jangan dipegang, penuh pasir soalnya :P)

Gw langsung ngebayangin: oh, begini toh rasanya jalan-jalan di gurun. Pantesan ada teman gw yang ketagihan banget pergi ke gurun pasir. Perasaannya ternyata berbeda dengan pergi ke bukit-bukit penuh rerumputan. It’s not bad at all.

Selain itu… gw kebelet pengen ke WC… tapi sepanjang jalan hanya ada pasir. Ini… gawat.

DSC07243

Sampai di savanna. Jeepnya berhenti. Gw langsung cari toilet. Pak supirnya bilang: tak ada toilet di sini. Toiletnya yang tadi, 15 menit yang lalu pas kita lewat. Alamak, bagaimana ini.

Pak supir kemudian menunjuk ke arah semak-semak. Tuh, dia bilang. Toiletnya di situ kalau di daerah savanna ini… Erm. Okeh. Ini bukan pertama kali gw menggunakan toilet di semak-semak sih. Jadi gw tarik nafas dalam-dalam, dan jalan ke arah semak-semak itu. Pas lagi kosong. Jadi gw langsung masuk dan menunaikan tugas.

Begitu selesai dan keluar dari semak-semak, ternyata beberapa orang lain juga kebelet. Waktu gw berdiri di depan semak-semak itu, ada mbak-mbak yang datang juga diantar bapak supirnya, dia ngeliat gw berdiri 20 meter di depan ‘toilet’ alami itu, terus teriak:

dia: “MBAAAAAK, UDAH BERHASILLLL???”

gw: “UDAAAAAAAH”

dia: “WAAAAAAH ENAKKNYAAAAA”

=))

Pelajaran: pergilah ke WC saat ada kesempatan di Pananjakan.

Yawis. Lanjut foto-foto di padang savanna, kembali melalui pasir berbisik, foto-foto di gunung Bromo dan gunung Batok.

Dua backpacker ini nanya-nanya Dely tentang asap itu. Terus gw ikut menjelaskan kalau itu kawah masih aktif, tuh lagi berasap. Kalau meletus, ya bisa ngelemparin batu dan pasir. dan ceritanya kita bakal naik ke sana gitu abis ini. Mata mereka langsung membesar:

“gak apa-apa tuh kita naik ke sana?”

“… kayaknya aman?” (nunjuk puluhan orang-orang yang lagi ngantri naik tangga ke kawah)

bromo

Kawah Bromo

Destinasi terakhir sebelum balik ke hotel adalah: naik ke kawah! Kita jalan kaki ke kawahnya. Bolak balik makan waktu sekitar 1 jam-an. Kalau naik kuda ya cepat.

Yang bikin stress itu: kotoran kuda yang tersebar di mana2 x_x. Jalanannya harusnya lurus-lurus aja, tapi jadi bengkok-bengkok karena gw sibuk menghindari kotoran kuda… hiks.

DSC07334

Setelah manjat ke atas, gw foto-foto kawahnya buat dokumentasi (I won’t spoil the fun ya, naik sendiri sana kalau mau lihat kawahnya. Aslinya lebih keren kok). Terus istirahat sebentar di atas sana. Pagar yang membatasi kawahnya itu pendek. Jadi harus hati-hati. Tiba-tiba pasangan di sebelah gw nyeletuk:

“Eh bukannya ada mahasiswa yang nyemplung ke sini ya kemarin2?”

“Bukan… itu di Merapi”

Hmm… kemudian gw mengalihkan pandangan ke daerah kawah tak berpagar. Segerombolan anak-anak sedang jalan-jalan di atas sana.

Hmm…

Udah ah turun.

Sesampainya di bawah, gw beli bunga Edelweiss titipan nyokap, terus langsung menuju hotel untuk bersih-bersih dan makan siang: ayam goreng, teh panas, tahu, tempe, sambal, ikan goreng. Nyum. Dari sana kita berpisah dengan teman backpacker kita karena dia akan menuju Ijen sedangkan kita menuju Batu.

Bersantai di Batu

Perjalanan ke Batu memakan waktu hampir 4 jam kayaknya. Kita di-drop ke Stasiun Malang dulu, terus lanjut ke Batu. Karena hari itu hari libur nasional, jalanan menuju Batu macet total. Pak supir taksi yang kita sewa harus lewat jalan-jalan kecil, dan karena itu kita batu sampai sekitar jam 5-6 sore. Kalau lewat jalan utama kayaknya jam 8 malam baru sampai tuh.

Kita check-in di villa di Batu yang dekat dengan Museum Angkut dan hotel Kusuma Agrowisata. Pas nunggu orang villanya buat handover kunci, tukang sate keliling lewat. Yawis, 2 porsi sate ayam dan 1 porsi sate kelinci pun berpindah tangan.

Setelah check-in di villa, Dely sibuk bersih-bersih kamar mandi, sementara yang lainnya sibuk makan. Satu jam kemudian, kita keluar jalan-jalan sampai ke daerah Taman Makan Pahlawan. Malam itu kita makan rawon, beli martabak manis, beli roti bakar, beli popmie.  (makanan semua… tujuan jalan-jalan kali ini emang untuk perbaikan nutrisi fisik dan mental… hehehe). Oh iya, Su beli satu minuman yang manisnya overdosis. Kayaknya langsung dibuang tuh…

Bertemu dengan Pak S, Supir Taksi di Batu 

Dari sana kita jalan kaki balik sambil cari taksi, Dely berusaha telepon call-center taksi, tapi tidak diangkat sama sekali. Terus jarang sekali ada taksi lewat malam itu. Kita berusaha cari pool taksi, tapi ternyata terlalu jauh untuk jalan kaki. Su menyarankan untuk ke seberang jalan untuk chance yang lebih tinggi.

Nah, hoki lagi nih. Kita kebetulan sekali berdiri di depan hotel terkenal di Batu. Jalanan super sepi hari itu, nggak ada mobil sama sekali. Tau-tau ada taksi berhenti, terus supirnya keluar dari mobil, terus nanya Vendy:

Pak Supir: “Mas… Tadi telepon kantor (taksi) ya?”

Vendy: (kaget) “… Iya…”

Gw cuma dengar sampai sana, terus gw ngakak. Wah Vendy mau ngebajak taksi pesanan orang lain. Tapi nggaklah. Kita kan orang jujur, hehehehe. Intinya kita bilang kita berusaha telepon kantor taksi, tapi nggak ada yang angkat.

Kita benar-benar bingung pada ke mana taksi-taksi itu, Kata bapak supir ini, inisial pak S juga, semua taksi sedang nyangkut di daerah BNS. Ohh… pantesan nggak ada yang lewat ke daerah sini. Daerah BNS sedang macet total katanya. Ohh… Lah bapak gak bawa orang ke BNS juga?

“Nggak, pas saya lagi ngopi-ngopi sama teman di belakang…”

Kok… creepy. Teman di belakang mana nih? Gw langsung nengok ke belakang bagasi =.=… Oh maksud dia warung sebelah hotel. Terlalu paranoid nih gw.

Pak S bilang lagi, kalau di Batu, taksi dari perusahaan dia itu cuma ada 30 buah. Kalau hari libur, call-center juga kelabakan gak bisa memenuhi pesanan. Terus dia kasih kita kartu nama dia (wuih, gaya). Kalau kita perlu ke mana-mana, kita telpon dia aja katanya. Yawis. Terus gw iseng nanya, dia bisa bawa kita ke Surabaya jam 10 pagi nggak untuk hari ke delapan. Dia bilang,

“Oh kebetulan saya mau bawa orang dari Surabaya jam 3 nya, jadi saya bisa.”

Pas banget? Jam 10 pagi dia jemput kita dari Batu, jam 1 siang sampai Surabaya, terus dia bisa lanjut jemput orang dari Surabaya jam 3 sore. Rencana yang bagus. Kita nego harga keesokan harinya, dan segala permasalahan transportasi sampai Surabaya terselesaikan dengan baik.

Advertisements

2 thoughts on “Yogyakarta, Bromo, Batu, Surabaya Trip

  1. Gue seneng banget bisa jalan2 keliling dari Jateng ke Jatim.. Ngeliat candi2, pemandangan2, feel the adventurous mountain tracking dan kuliner hahaha… thanks for the three of you all. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s